Random Ramadhan

10.16.00


Catatan saya hingga hari ini adalah hasil dari pemikiran-pemikiran sederhana yang kebanyakan muncul tanpa terencana. Sampai hari ini, detik ini, saya menyadari bahwa keberadaan saya di ruangan tempat saya membuat catatan ini pun tak pernah terencana sebelumnya. Keadaan-keadaan ini membuat saya berpikir kalau-kalau kehidupan saya yang ada sekarang ini bukanlah hasil dari rencana saya, target yang saya tulis di tengah malam buta setiap tanggal 21 juni nyatanya kebanyakan hanya menjadi tulisan berulang, rasanya percuma saja membuat banyak rencana jika tak diupayakan baik-baik. tanpa rencana dan upaya yang yang baik, pergatian umur hanya momen ganti angka dan tambah tua. Sejauh ini, saya masih menikmati kejutan-kejutan yang banyak ditawarkan kehidupan, tak terencana, tapi kehidupan menyediakan setiap yang saya butuhkan dengan sangat rapi. Hiduplah dengan baik Rahma.

*****
Salah satu dari banyak pelajaran yang saya dapatkan dari puasa adalah momen menahan. Menahan kemudian menjadi peristiwa pertarungan, dan setelahnya tahulah saya  bahwa lawan terberat itu tak lain yah saya, diri sendiri. Saya merasakan kalau hati benar-benar mengambil posisi raja dalam diri saya, jika kondisi hati sedang baik-baik, maka yang lain juga membaik, amalan pun digiatkan dengan segenap upaya, maka benarlah sabda Nabi tentang segumpal daging yang mengambil andil besar dalam diri kita. Ramadhan nanti, ada banyak rencana perubahan, Move on, hijrah atau apalah istilahnya, intinya berubah ke arah yang lebih baik. 

*****
Menjelang Ramadhan ini, kantor pos sedang ramai-ramainya, tapi bukan untuk mengirim atau menerima paket. Antrian BLSM menjelma neraka-neraka dunia dalam kelas yang agak kecil. Betapa pemerintah layak disebut tidak berperasaan. Pejabat dengan fasilitas serba wah kenapa tak pernah rela dikurangi jatahnya untuk kesejahteraan rakyat yang mereka wakilkan suaranya. Saya tidak sedang membenci pemerintah, saya juga masih yakin bahwa Tuhan mengatur rezki-rezki kita, namun, tidak kah mereka yang dititipi amanah itu merasa ketakutan akan amanah yang mereka emban, jika tak takut, paling tidak kasihanlah. 

*****
Beberapa pekan yang lalu, saya pulang kampung. Pulang kampung yang serba dadakan, dadakan yang akhirnya mengundang banyak lupa. Saya lupa kalau uang di dompet bahkan tak cukup untuk membayar uang Damri. Buru-buru memang kurang baik.  Bapak saya yang sakit menjadi alasan kepulangan saya kali ini. Pulang kampung yang kemarin itu adalah momen paling menggetarkan dalam sejarah hidup saya sebagai seorang anak, banyak obrolan-obrolan yang membuat saya ingin menceburkan diri ke laut agar air mata yang jatuh tak diketahui siapa-siapa. Beberapa hari sebelum kembali ke ibu kota, pembicaraan saya dan bapak ada di sekitaran kematian, Jadilah saya menggalau, bapak bertanya ke saya, “ Kalau sudah meninggal nanti, apakah kita masih bisa bertemu lagi?” Saya menjawab dengan hati gerimis “ ingat saya ya pak, saya akan terus mengingat bapak ”

Alangkah singkatnya suatu hubungan jika hanya di kehidupan dunia saja. Akhir ramadhan nanti, insyaallah saya akan pulang lagi menjenguk bapak.

***** 
Ramadhan tinggal menghitung hari, saya tidak tahu pasti apa yang telah saya siapkan, tapi saya benar-benar mengharapkan kehadirannya.

Pict from carmssr

18 Sya’ban 1434 H


You Might Also Like

1 comments

  1. Semoga Allah memberikan kemudahan disetiap langkahmu wahai saudariku, dan membalas dg ridoNya disetiap gerak kebaikanmu.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of