Ramadhan: Aset Al-Qur'an

12.38.00


Bismillah. Serupa catatan sebelumnya, catatan kali ini masih bagian cerita perjalanan saya selama di kampung. Hari ini tepat satu sya’ban, gagap gempita ramadhan mulai terasa di media social, keadaan baik ini adalah kabar gembira karena di zaman kita ini pengingat semakin banyak saja dan mudah ditemukan. Masyaallah, rupanya banyak sekali yang menanti Ramadhan. Semoga kita juga ya.

Saat membuat catatan ini, kampung saya sedang menanti juga, bukan menanti Ramadhan tapi menanti kedatangan penyanyi dangdut yang suaranya merdu-merdu sendu, Ridho Rhoma. Pesona penyanyi dangdut itu berhasil membuat kampung saya berjoget. Andai ada bom yang jatuh di lapangan kampung saat ridho rhoma pentas, maka wakatobi bisa kehabisan penghuni. Hehe. Sangat heboh, Lapangan kampung sampai sesak nafas, orang-orang tumpah ruah dari berbagai penjuru dengan tujuan yang sama ingin melihat ridho rhoma.

Selain cerita Ridho Rhoma, cerita masjid terampung di tengah lautan yang hendak dibangun pemerintah propinsi Sultra juga menarik perhatian saya. Bukan masjidnya, tapi komentar kakak saya. Kata kakak saya “ah pemerintah itu ada-ada saja, masjid di darat saja jamaahnya tidak sampai se shaf, apatah lagi masjid yang ada di laut, harus berjalan jauh baru bisa sampai”.

Komentar kakak saya itu ada benarnya juga, pemerintah kita kadang-kadang salah prioritas, Mengenai kedatangan Ridho Rhoma ke kampung saya, saya tidak tahu menahu berapa banyak dana untuk mendatangkan penyanyi itu, saya agak miris saja karena kampung saya yang dikenal dengan sebutan syurga dibawah laut tak serupa daratnya. Daratannya, jalanannya bergelombang banyak yang rusak. Mengenai masjid terapung itu, mungkin pemerintah punya rencana lain, tapi, bukankah memakmurkan masjid yang sudah ada jauh lebih baik ketimbang membangun masjid mewah yang pada akhirannya tidak merohani, celakannya malah dijadikan tempat wisata.

Keadaan-keadaan ini hanya sebagian kecil saja dari kebanyakan keadaan yang mengalami kekacauan urutan, tidak penting, penting, dan mendesak. Pertukaran nilai, berdaya guna, sekedar hiburan, atau hanya mau saja.

Renungan ini, kemudian saya kaitkan dengan keadaan sebagian dari kita saat bulan Ramadhan. Kita mulai dari televisi, saat ramadhan datang, sinetron yang berlatar islami dan acaran lucu-lucuan mendadak naik daun, dengan argumenn hiburan dan mencari hikmah lewat tayangan tivi, tak jarang dari kita menunggu buka dan sahur di depan televisi. Padahal ada yang jauh lebih utama dari sekedar nongkrong di depan tivi.

Ramadhan dengan banyak keutaamannya bukankah menjadi sayang jika mengalami kekacauan urutan seperti di atas. Karena tidak memahami keutamaannya maka jadilah yang utama dianggap remeh, yang sekedar hiburan malah digemari.

Sedikit contoh mengenai penempatan urutan dalam amalan saat ramadhan datang. Dahulu, saat Ramadhan datang para shalafus shaleh meninggalkan pembacaan hadits dan majelis ilmu lalu memfokuskan diri membaca Al Qur’an, padahal majelis ilmu juga banyak keutaamaannya. Dari sini ada hikmah bahwa memperbanyak membaca Al Qur’an pada bulan ramadhan memiliki keistimewaan.

Kemudian, kabar keistimewaan ini datang dari langit, Saat Ramadhan datang Malaikat Jibril khusus mendatangi dan mengajarkan Al Qur’an pada Nabi shallallahu alaihi wa salam.


Keistimewaan ini diperkuat dengan banyaknya dalil yang menjelaskan berbagai keutamaan membaca Al-Qur’an. Diantara keutamaan membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
(QS. Fathir: 29-30).

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif laam satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi )

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para shahabat) menjawab: “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.”
(HR. Muslim)

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala”
(HR. Muslim).

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya”
(HR. Muslim).

“Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).

“Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat: “Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123) (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).

“Khabbab bin Al Arat radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beribadah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuberkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.”

“Berkata Wuhaib rahimahullah: “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan Al Quran, memahami dan mentadabburinya”.

Subahanallah, janji-janji untuk mereka yang membaca Al Qur’an luar biasa banyak, kan?. Membaca Al-Qur'an dapat menghasilkan aset amalan yang tak terkira. keep sipiirit. Eh disini hujan terus. Bagaimana di kotamu?, Semoga kita bisa bertemu ramadhan nanti

Sumber bacaan:
keutamaan-membaca-al-quran
Mejelis bulan Ramdhan karya syaikh Muhammad shalih al 'Utsaimin

Wakatobi, 1 Sya’ban 1434 H

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of