Emak-emak mengejar mimpi

06.02.00


'Gimana nasib mimpi-mimpi saya' adalah tanya yang bikin saya galau setengah idup saat memutuskan untuk resign. Keringat saya kayak nggak abis-abis pas mau ngomong ke HRD kantor kalau saya mau ngajuin resign. Nggak kehitung berapa kali saya bolak-balik mushola dulu sebelum menghadap pak bos. Karena apa? karena ada banyak hal di depan sana yang saya kuatirkan. Sambil terus memikirkan mimpi yang saya simpan-simpan, saya susun segala keberanian yang saya punya, dan akhirnya surat resign yang saya ajukan ditandatangani. Rasanya, gw sampe keringat dingin, hahaha.

Sebelum surat resign saya ditandatangani, bos saya sempat ngasi wejangan agar  saya jangan cuma jadi ibu rumah tangga 'biasa' yang nongkrong di rumah seharian. Hal ini sempat bikin galau, apa saya nggak akan bosan atau menyesal dengan keputusan yang saya ambil ini? bagaimanapun beralih dari kebiasaan yang sudah saya lakukan hampir enam tahun ini ke kebiasaan baru, berada di rumah saja, adalah tantangan baru.

Sudah. Saya sudah resmi resign. Aktivitas jadi emak sepanjang hari nongkrong di rumah sedang saya lakoni saat ini. Rasanya? sempat merana saat air di kontrakan abis. Hahahhaha

Ada beberapa hal yang saya tulis-tulis sebelum memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya, tulisan itu sengaja saya simpan rapi dalam catatan harian saya, tujuannya biar bisa saya baca-baca lagi kalau-kalau galau datang melanda. Kemarin sempat saya baca lagi saat cucian numpuk sedang air engga kngalir,  lapar, dan Ruwaid nggak mau bobok di kasur, mau di gendong terus. Lelah jugaa yaa bang. haha

Di catatan saya berapa bulan yang lalu itu ada beberapa hal yang saya tulis berkenaan dengan kegalauan saya.

#1 Senantiasa lurusin Niat

Sempat kepikiran bahwa Ruwaid dan suami saya adalah sebab terkuat saya mau ninggalin kerjaan saya, setelah saya pikir-pikir, mungkin 20 tahun ke depan saya akan menyesali keputusan saya jika Ruwaid mulai sibuk dengan kehidupannya. Nggak ada ada yang tahu bukan bagaimana si anak nantinya, apakah akan menjadi anak berbakti ke orang tuanya atau tidak, saya hanya kuatir keikhlasan saya akan berkurang jika anak saya nantinya cuek-cuek ke emaknya, jika nanti sesekali bikin jengkel. 

Dari hasil perenungan, alasan terbaik itu memang hanyalah karena Allah. Kebaikan itu akan abadi di sisinya jika lahir karenaNya. Anak-anak bisa saja melupakan orang tuanya tapi kebaikan orang tua kepada anak-anaknya bukankah akan terus mengalir dalam darah daging mereka. Allah tidak pernah melewatkan kebaikan hamba-hambaNya.

#2 Pilihan untuk membersamai suami adalah salah satu cara saya mengejar mimpi

Jadi selama nikah saya sama suami jauh-jauhan, suami jauh di sana sedang saya di sini. Saya sadar betul keadaan ini menyebabkan banyak hak-hak suami yang saya lalaikan. Keputusan untuk resign salah satunya karena hal ini. Saya percaya bahwa syurga itu akan menjadi dekat dengan bakti kepadanya.

#3 Anak adalah Investasi saya dunia akhirat.

Sejak kehilangan Ruwaifi kemudian melahirkan Ruwaid, saya banyak didatangi oleh perasaan-perasaan ajaib yang sulit saya jelaskan, saya sangat berharap Ruwaid jadi anak sholeh, dan saya menjadi jalan ia meraih kesholehannya :')

#4 Menjadi Ibu rumah tangga yang bekerja di rumah saja jelas tantangannya akan berbeda dengan ibu rumah tangga yang membagi waktunya dengan bekerja di luar rumah

Kesadaran ini sudah saya bangun dikit-dikit dari jauh-jauh hari. Biar apa? biar saya tetap waras saat harapan yang ada di kepala saya nggak sesuai sama realita yang saya hadapi. 

#5 Berada di rumah bukan berarti nganggur

Walaupun banyak yang tetap beranggapan sebaliknya, emang gw pikiran deh. Salah satu wejangan atasan saya yang paling nancep banget adalah "Rahma walaupun jadi ibu rumah tangga tetap banyak belajar ya, biar ilmunya nggak ngendap" haha.

Banyak hal yang bisa dipelajari di rumah, biar semangat belajar saya sengaja beli meja kerja. penampakan meja kerja saya seperti gambar di atas sono. Semangat!

#6 Berada di rumah bukan berarti mimpi-mimpi saya terkubur

Enggak lah.

Saya banyak membaca kisah sukses ibu rumah tangga yang sukses dengan passionnya dan saya termotivasi. Sebelum pindah ke Ambon saya dan suami sempat silaturahim ke rumah tetangga, trus tetangga kami cerita kalau beliau dulu juga memutuskan untuk resign dan keputusannya itu menjadi gerbang ia terlibat bisnis travel haji dan umrah, berapa tahun setelahnya beliau bisa menunaikan salah satu rukun islam tanpa harus nunggu lama.

Rezki Allah itu luas!

#7 Meninggalkan pekerjaan menghindarkan saya dari beberapa hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut

kamsudnya adalah....

Jadi kerja sebagai engineer itu kerjanya banyakan sama para lelaki. Yang menjadi sulit adalah susaaaah banget menghindari yang namanya ikhtilah dan menjaga pandangan.

Kamu tahu, dulu waktu awal-awal kerjaa saya ini masih risih ngobrol-ngobrol sama yang bukan mahram, masih malu-malu gitu deh. Setelah itu, rasanya jadi biasa-biasa saja, saya tau sudah ada yang salah dengan hati saya ini. Hiks.

Jadi demikianlah, sungguh galau itu wajar dan manusiawi... :D

Keputusan untuk bekerja di rumah mudah-mudahan bisa saya sabari selamanya, dan menjadi salah satu wasilah saya masuk ke syurgaNya. Aamiin

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertutur...
“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.
Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Salam :)




















You Might Also Like

2 comments

I'm Proud Member Of