Life is a blessing... so be grateful!

14.42.00


Sedih karena  anak meninggal, empat hari setelahnya suami harus pergi melanjutkan kuliah, sakit bekas operasi masih nyeri-nyerinya, dan banyak yang mengajak saya untuk berandai-andai, andai begini, andai begitu, mungkin kisah Ruwaifi akan lain. Saya merasakan semua ini satu paket lengkap dalam satu waktu.

Bahkan perasaan saya saat itu andai bisa, iya, andai bisa saya ingin menghilang, atau tidur dan baru bangun lagi setelah tahun berganti.

-----

16 November lalu setelah tiga bulan cuti saya kembali masuk kerja seperti biasa. Tadinya saya pikir bekerja kembali akan menjadi salah satu obat dari apa yang saya rasakan.

Yang terjadi ditempat kerja? saya harus mempelajari gambar proyek baru, membaca dokumen tender, dan bosan. Perasaan sepi yang teramat dalam sering muncul begitu saja padahal disitu lagi banyak orang, lagi di mushola, lagi meeting, lagi pengajian kantor. Perasaan ini saya resapi betul.

Di titik ini keinginan untuk resign benar-benar sampai ubun-ubun, tapi keinginan saya untuk membantu perekonomian rumah tangga kami selama suami kuliah juga sama besarnya.

Maka jadilah perjalanan hari-hari saya di tempat kerja begitu membosankan, pekerjaan saya hanya menunggu jam 4 dan pulang. Jam 4 dan pulang. Jam 4 dan pulang. Ini terulang setiap harinya.

Perasaan saya semakin parah saat melihat obrolan teman-teman di grup whats app yang membahas anak-anaknya. Sahabat yang sudah bertahun-tahun saya kenalpun tidak lantas menjadi orang yang mengerti saya, justru dari dialah muncul pertanyaan yang lagi-lagi membuat saya rapuh. Perasaan saya semakin paraaaah lagi saat saya merasa bahwa betapa beruntungnya mereka dibanding saya.

Suami saya menyarankan untuk mencoba menulis lagi, menulis apa saja yang saya rasakan, barangkali bisa mengurai kesedihan yang saya rasakan. Awalnya saya tidak mengikuti saran ini karena takut akan ada pertanyaan yang justru membuat saya semakin rapuh.

Akhirnya, saya mencoba menulis apa-apa yang saya rasakan. Awalnya sangat sulit dan berat untuk menceritakan segala hal tentang Ruwaifi. Saya bolak-balik coba nulis, tapi saya hapus. Besoknya nulis lagi terus saya hapus lagi. Sampai akhirnya satu tulisan jadi, dan saya menangis saat membacanya.

Lalu saya menghubungi suami untuk membaca tulisan pertama saya tentang Ruwaifi.

Respon darinya kembali membuat saya bersemangat untuk sharing lebih banyak tentang perasaan saya. Dan setelah satu bulan kembali masuk kerja lagi saya merasakan manfaat yang luar biasa dari sharing di blog, saya jadi lebih kuat, lebih berani melihat keluar, diluar sana yang pernah kehilangan anaknya juga tak berbilang, bukan hanya satu, ada yang dua, tiga, empat, bahkan ada yang ditakdirkan tidak memiliki anak.


Namun...


Semangat saya yang sempat berapi kembali padam saat melihat komentar-komentar di media sosial yang kebanyakan ikut bersedih saat saya sharing tentang Ruwaifiku , sempat kepikiraan ngapain sih Rahma curhat-curhat di media sosial.

Nulisnya berhenti lagi. Namun suami saya lagi-lagi memberi semangat untuk menulis apa saja yang saya rasakan semoga bisa bermanfaat untuk mereka yang mengalami keadaan serupa. Ia terus memberi saya motivasi untuk berbagi dengan disetiap obrolan-obrolan kami.

“Banyak yang pernah mengalami hal yang kamu rasakan tapi tidak semua bisa membaginya”

“Kamu bisa menceritakan bagaimana bangkit lagi setelah kehilangan anak, kabarkan hiburan Allah untuk mereka yang bersabar saat di uji, bagikan pengalaman mengurasi produksi ASI saat bayi meninggal, bagaimana menulis bisa membuat kamu lebih berpikiran positif, tentang apa-apa yang kamu jumpai saat bolak-balik ke makam Ruwaifi”

“Tulis perasaan kehilangan yang kamu rasakan”

“Semoga dengan menulis betapa dalamnya perasaan kehilangan yang kamu rasakan bisa membuat perempuan diluar sana banyak bersyukur saat bisa melahirkan anak-anak yang sehat. Karena ternyata banyak juga yang baru bisa bersyukur setelah mengetahui bahwa banyak yang menginginkan posisinya, banyak yang ingin punya anak yang sehat, bisa kumpul-kumpul sama suami, bisa merawat anak-anak dengan leluasa tanpa harus pusing-pusing lagi kerja di luar rumah.”


T_T

Akhirnya tulisan yang tadinya saya takutkan akan mengumbar privasi, semakin kesini justru membawa saya pada perasaan untuk lebih banyak melihat ke bawah, saat lagi kangen-kangennya sama Ruwaifi saya akan mengingat beberapa kenalan yang mengalami keadaan serupa setelah menunggu bertahun-tahun, saat jenuh-jenuhnya bekerja, main sebentar ke toilet dan melihat ibu-ibu yang membersihkan kloset dengan gaji tak seberapa kembali menghadirkan rasa syukur, jika sedang sumpek-sumpeknya mikirin mau resign, saya tinggal menyempatkan diri sebentar menyapa ibu tukang sapu di kantor yang sudah bertahun ditinggal meninggal suaminya dan harus membesarkan beberapa orang anak seorang diri.

Hari-hari setelah saya sharing di blog tentang apa yang saya rasakan jadi lebih positif, dan membuat saya banyak bersyukur. Iya, masih banyak hal yang belum saya syukuri dalam kehidupan ini.

Terima kasih :)

Jum’at 18 Desember 2015


You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of