Ramadhan: Nilai adab

20.26.00

Bismillah. Agak hati-hati ketika saya sampai pada cerita adab. Hal ini tidak lain karena kesadaran diri saya yang masih sadar. Saya sadar, kadang-kadang saya masih kurang beradab. Saat membuat catatan ini, saya sedang dalam perjalanan menuju kampung. Seperti perjalanan lainnya, jika tidak tertidur maka mata saya ini akan kemana-mana. Pengakuan pertama, alangkah susahnya mengatur mata, padahal ukurannya tak lebih besar dari telur tapi hasil perbuatannya bisa membuat kegaduhan yang tak kalah hebat dari acara dangdutan di lapangan kampung.

Perjalanan pulang dengan naik kapal adalah perjalanan yang melibatkan banyak emosi dan penderitaan. Di pelabuhan, saya melihat berbagai jenis orang. Di loket penjualan tiket, nampaklah laki-laki yang penyayang dan tidak, laki-laki yang penyayang akan dengan senang hati memberikan antrianya pada orang yang kesusahan, sedang yang tidak, ia tak segan-segan menyikut perempuan. Di dalam kapal, Saya sering dibuat terpukau oleh hal-hal sederhana dan remeh. sejak berangkat hingga tiba, saya bisa memungut banyak sekali cerita. Tapi sayang, saya tak punya cukup kekuatan untuk memungut sampah yang entah mengapa tak pernah melibatkan emosi, ia dibuang begitu saja, tanpa pernah atau walaupun pernah tapi jarang terpikir akibatnya

Saya melihat kalau manusia makan meninggalkan sampah. Sudah meninggalkan sampah, dibuang sembarangan pula. Padahal bahaya sampah yang dibuang sembarangan itu telah terang. Manusia yang saya maksud termaksud saya juga. Setelah saya membawa renungan sampah lebih dalam, saya mendapati, jangankan ancaman sampah, ancaman neraka saja masih kurang menakutkan. Jadi, wajarlah.

Saya sempat melirik sekilas pria-pria muda yang bertelanjang dada, asik main gaplek, dan mengisap rokok di geladak kapal. Tak jauh dari situ, ada gadis-gadis labil dengan pakain serba pas. Di sudut lain Nampak pemuda intelek dengan buku di tangannya, ia seperti serius membaca, sesekali memasukan makanan ringan ke mulutnya. Saya dibuatnya kagum, di kapal yang bising seperti ini, ia masih asik membaca. cukup lama saya memperhatikannya. Lalu kekaguman saya yang hebat tadi itu rontok seketika, setelah makan, ia membuang sampah makanannya ke laut.

Jadi semakin jelas saja bahwa daya tarik adab dengan mudah mengalahkan tarikan-tarikan selainnya. Ada banyak hal besar dalam kehidupan ini menjadi terlihat biasa atau di bawah biasa karena kurangnya adab tadi. Lihat saja, pejabat-pejabat negara kita yang hangus pesonanya karena kurangnnya adab mereka.

Kedudukan adab bagi orang berilmu dan pelajar sangat penting. Diriwayatkan, Imam Malik bin Anas menghabiskan waktu selama enam belas tahun untuk mempelajari adab dan empat tahun untuk mencari ilmu. Artinya, beliau memposisikan akhlak pada posisi penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dalam agama kita, hampir setiap perkara ada adabnya, bahkan buang air pun telah dicontohkan adabnya oleh nabi kita tercinta. Nilai adab ini kemudian akan berlipat saat ramadhan datang dan pastinya dengan menjaga adab suatu amalan maka pahala mengikuti sunnah pun akan mengalir.

Bulan ramadhan nanti bisa menjadi ajang untuk melatih perkara adab ini. Insyaallah, dengan adab yang sesuai sunnah maka hari-hari ramadhan kita akan pernuh berkah. ngilleer nggak sih ngebayangin dari bangun tidur sampai tidur lagi semua bernilai ibadah karena adab yang terjaga. Ramadhan dan puasa didalamnya memiliki adab yang agung. Kesimpulannya, adab yang baik adalah penyempurna dan kurangnya adab telah jelas dapat mengurangi nilai.


Berikut ini beberapa adab dan amalan yang disunnahkan ketika puasa. Selamat menghayati..

1. Mengakhirkan Sahur

Waktu kuliah dulu, sahur selalu saya akhirkan. Tapi, bukan karena mengikuti sunnah melainkan ketiduran. Bangun-bangun langsung lari ke warung terdekat. Sayang juga, karena kurangnya ilmu, perkara yang berpotensi ibadah ini malah tak berniat apa-apa. Maka, jelaslah pentingnya ilmu. Dengan tahu ilmunya, peluang untuk beramal lebih terbuka.

Disunnahkan bagi orang yang hendak berpuasa untuk makan sahur. Al Khottobi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.”
(HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah."
(HR. Bukhari)

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Karena dengan makan sahur akan semakin kuat melaksanakan puasa.”

Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab). Dari Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur.”
(HR. Muslim)


“Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur "
(HR. Ahmad)

Di antara faedah mengakhirkan waktu sahur sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar yaitu akan semakin menguatkan orang yang berpuasa. Ibnu Abi Jamroh berkata, “Seandainya makan sahur diperintahkan di tengah malam, tentu akan berat karena ketika itu masih ada yang tertidur lelap, atau barangkali nantinya akan meninggalkan shalat shubuh atau malah akan begadang di malam hari.”

Bolehkah Makan Sahur Setelah Waktu Imsak?

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz –pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi fatwa Saudi Arabia)- pernah ditanya, “Beberapa organisasi dan yayasan membagi-bagikan Jadwal Imsakiyah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jadwal ini khusus berisi waktu-waktu shalat. Namun dalam jadwal tersebut ditetapkan bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah 15 menit sebelum adzan shubuh. Apakah seperti ini memiliki dasar dalam ajaran Islam? “

Syaikh rahimahullah menjawab:

Saya tidak mengetahui adanya dalil tentang penetapan waktu imsak 15 menit sebelum adzan shubuh. Bahkan yang sesuai dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah, imsak (yaitu menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah mulai terbitnya fajar (masuknya waktu shubuh). Dasarnya firman Allah Ta’ala,

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”
(QS. Al Baqarah: 187)

Juga dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq”
(HR Al Baihaqi )

2. Menyegerakan berbuka

Inilah momen yang ditunggu-tunggu, tak jarang juga jadi arena balas dendam dengan melahap berbagai jenis makanan. Masih cerita zaman kuliah, tetangga kostan saya sampai tidak bisa bangun setelah berbuka, mendadak kedinginan dan gemetar. setelah diusut ternyata dia kalap meminum satu cerek nutrisari..hehe

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam
kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
(HR. Bukhari )


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”
(HR. Abu Daud)

3. Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air

Dalilnya adalah hadits yang disebutkan di atas dari Anas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.

4. Berdo’a ketika berbuka

Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolim. (HR. Tirmidzi)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah”
(HR. Abu Daud)

5. Memberi makan pada orang yang berbuka

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”
(HR. Tirmidzi)

6. Lebih banyak berderma dan beribadah di bulan Ramadhan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus”
(HR.Bukhari)

Dari Jabir Radhiyallahu anhu berkata "Jika engkau sedang berpuasa, maka hendaklah pendengaran, penglihatan, dan lisanmu juga turut berpuasa dari dusta serta perkara-perkara yang diharamkan. Janganlah menyakit tetangga, namun hendaklah engkau menghiasai dirimu dengan kewibawaan dan ketenganan. Jangan sampai hari puasamu sama dengan hari ketika engkau tidak berpuasa".

Sumber Bacaan: Majelis bulan Ramadhan karya syaikh Muhammad bin shalih al 'Utsaimin

27 Rajab 1434 H
Ya Allah..Pertemukan kami dengan Ramadhan..


You Might Also Like

5 comments

  1. kanda, ada tulisan ttg bgmana menjaga semangat hingga di luar ramadhan gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ndak ada..tp di buku majelis bln ramadhan ada kayanya pembahasan itu..blm sampai situ bacaanku..

      :)

      Hapus
    2. ooh..loncat ke bagian yang itu mq langsung kak.. ehehehe..

      Hapus
    3. hehe..insyaallah akan sampai kesana..cari sj d gugel..bykmi pembahasan yg istiqomah setelah ramadhan..ndak loncat2ka dulu membacanya, biar bisa diselesaikan semua bab..

      tanya gugel sanaaa..

      Hapus
  2. makasih ilmunya kak....

    BalasHapus

I'm Proud Member Of