Ramadhan: Momen Sepertiga

08.02.00

Bismillah. Ini malam selasa yang normal. Kemarin malam, ada yang tidak biasa dengan masjid di dekat rumah. Mendadak ramai. Teman saya yang tidak tahu-menahu tentang malam nisfu sya'ban mengirimkan sms pertanyaan kapan satu ramadhan. Saya menjawab, "Ramadhan masih bulan depan". Intinya, dia kaget hingga bepikir ramadhan telah dimulai karena biasanya selepas isya masjid kembali merana.

Ehm.. Apa kabar teman-teman, semoga kita bukan yang termaksud merayakan malam nisfu sya'ban yang kemarin ramai. Sangat disayangkan, perayaan yang ramai itu tidaklah didukung dalil yang kuat, padahal ibadah yang berkaitan dengan waktu tertentu membutuhkan dalil pendukung hingga amalan ibadah tersebut terhitung sah. 

Sudah lama saya memperhatikan momen ramai seperti ini, sudah lama juga saya bertanya-tanya kemana para tetamu masjid itu hilang setelah momen berlalu. Bukan rahasia lagi, bagaimana masjid harus berpayah-payah menampung jamaah di awal ramadhan, namun disayangkan, jamaah yang ramai itu hilang gairahnya sebelum ramadhan usai.

Malam ini, saya merenungkan momen ini lebih dalam. Ada beberapa beberapa yang terpikir, mungkin momen  memang durasinya tak lama. Sebentar lalu hilang. Ramai lalu senyap. Terkenal lalu dilupakan. Saya membawa perenungan ini lebih dalam lagi, kemudian saya mendapati kenyataan kalau-kalau hati saya ini harus di renovasi. Dalam konteks yang agak berat, perayaan momen yang tidak berkelanjutan artinya sama saja dengan tidak istiqomah, semangat yang layu sebelum berkembang. Saya sering menjadi peserta momen-momen yang tidak berkelanjutan itu.

Sederhana tapi berkelanjutan jelas lebih baik. Barangkali ini juga menjadi hikmah mengapa nabi kita mengatakan kalau amalan yang sedikit namun berkesinambungan itu lebih baik ketimbang banyak lalu kapok. Sederhananya, amalan yang sedikit dan berkesinambungan seperti melatih perangkat dalam diri kita untuk melakukan banyak kebaikan. Singkat kata, Beramal baik secara terus menerus karena tidak ada yang tahu akhir dari penghidupan ini

Catatan kali ini masih lanjutan dari catatan seri ramadhan. Alhamdulillah kita sudah sampai dipembahasan yang berkenaan dengan penghujung ramadhan. Keutamaan penghujung ramadhan laksana janji yang tak pernah benar-benar dihayati oleh sebagian dari kita. Seperti sudah diatur saja, jika ramadhan telah mendekati ujung-ujungnya maka berbagai kesibukanpun menampakan diri, kue kering yang sebenarnya bisa dibeli dengan mudah di supermarket mampu menyita malam-malam kita. Rencana pulang kampung membawa kegalauan tersendiri, belum lagi pencarian baju lebaran yang membuat orang sanggup berthawah keliling mall..hehe.

Sebenarnya, kejadian-kejadian ini adalah ujian  jika dipikirkan. Pada bagian ini, kita akan mendapati bahwa janji yang ditawarkan ramadhan berkaitan erat dengan jerih payah kita, sepayah apa usaha kita untuk tetap menghayati ramadhan hingga akhir, seistiqomah apa kita dalam amalan-amalan kita. Jadi, ujian dipenghujung ramadhan itu adalah sesuatu yang wajar, yang jadi soal jangan sampai kita tak lolos ujian. 

Fokus hingga ramadhan usai bukanlah perkara mudah, hal ini kita sepakati bersama saja dengan banyak ujian di dalamnya. Begini, saya mau bilang kalau setan mungkin berusaha melalaikan kita agar terluput dari keutamaan akhir ramadhan. Kasihan juga setan, selalu jadi kambing hitam dan menggoda kita-kita ini. hehe.

Kekhususan  akhir ramadhan ditandai dengan kabar bahwa malam yang lebih baik dari seribu bulan ada di malam-malamnya. Kekhususan ini diperkuat oleh banyaknya riwayat yang menceritakan bagaiamana kesungguhan Nabi kita menghidupkan waktu-waktu di sepertiga akhir ramadhan dengan berbagai amalan kebaikan.

"Bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wa salam bersungguh-sungguh pada sepertiga akhir ramadhan, melebihi kesungguhannya pada waktu yang lain.

Hadits ini menjadi dalil yang menunjukan keutamaan sepertiga akhir ramadhan. Nabi dahulu beramal dengan sungguh-sungguh di waktu-waktu ini lebih daripada waktu lainnya. Ini mencakup kesungguhan beliau dalam segala jenis ibadah, baik shalat, membaca al-Qur'an, dzikir, sedekah ataupun selainnya. eh padahal Nabi kan memang selalu serius beramal ya, riwayat yang menceritakan kalau beliau sholat sampai kaki beliau bengkak bukan pada bulan Ramadhan. Tidak terbayangkan serupa kesungguhan beliau, jika pada hari biasa saja sholat sampai bengkak kaki. 

"Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam memasuki sepertiga akhir ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya"

Perkara ini juga yang menunjukan keutamaan sepertiga akhir ramadhan adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam membangunkan keluarganya untuk melakukan dzikir dan sholat pada waktu-waktu ini.

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencampur antara shalat dan tidur selama dua puluh hari pertama bulan ramadhan. ketika memasuki sepertiga akhir bulan ramdhan, beliau mengsingkan lengan bajunya dan mengencangkan sarungnya"

Hadits ini merupakan salah satu bukti kemuliaan malam-malam di sepertiga akhir ramadhan, sampai-sampai Rasulullah mengencangkan sarungnya( menjauhi istri-istrinya dari berjima'). hal ini disebabkan kemulian dan usaha mencari amalan-amalan di malam lailatur Qadr.

Kekhususan lain sepertiga akhir Ramadhan adalah Nabi shallalu alaihi wa sallam melaksanakan itikaf di waktu sepertiga ramadhan. Itikaf adalah mengkonsentrasikan diri dalam melakukan ketaatan kepada kepada Allah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri'tikaf selama dua puluh hari”.
(HR.Bukhari)

Nabi shallalu alaihi wa sallam bersabda "Sesungguhnya aku beritikaf pada sepertiga awal ramadhan, untuk mencari malam lailatul qadr, kemudian aku beritikaf pada sepertiga kedua. setelah itu, ada yang mendatangiku dan berkata: "sesungguhnya Lailatul Qadr berada pada sepertiga akhir. barangsiapa di antara kalian yang ingin melakukan itikaf maka hendaklah ia melakukannya"( HR.Bukhari).


Momen sepertiga harusnya membuat tidur bersantai menjadi tidak berarti. Saling mendo'akan yah biar kita stay tune terus dalam ketaatan. Semoga bertemu Ramadhan. Aamiin.

Sumber bacaan: Majelis Bulan Ramadhan karya syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin
Pict from Tumblr

16 Sya'ban 1434
Baru kali ini saya menulis pake acara berpikir keras, lama ei baru selesai
:)

















You Might Also Like

1 comments

  1. Kisah yang inspiratif, semoga kita juga beroleh kemenangan di bulan ramadhan tahun ini.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of