Ramadhan: Istiqomah sampai mati

13.03.00

Saya kaget sekali ketika mendapati pesan seorang teman yang mengadukan masalah hatinya. Kekagetan saya ini lebih pada ketidaksiapan saya untuk memberikan masukan.  Saya berusaha sebisa mungkin memahami apa yang ada dalam hatinya. Sejauh ini memahami hati orang lain masuk dalam kategori hal yang susah. Lebih dalam lagi, hati hanya benar-benar bisa dipahami oleh pemiliknya.


Ia menuturkan kegamangannya untuk terus-terus istiqomah dalam kebaikan. Jadilah saya menggalau. Pengakuan teman saya ini sungguh hebat, jarang yang bisa terang-terangan seperti ini, jarang juga yang menyadari kalau-kalau hati yang dulu sudah berpayah untuk istiqomah telah usang.

Lumayan lama baru saya memberikan respon, saya merenung cukup lama, untung tidak sampai mati. Saya merasa tidak pantas memberikan nasehat padanya. Saya bukanlah orang yang keistiqomahannya bisa dijadikan suri tauladan,  dari sisi keilmuan, ia melampauiku jauh sekali, dari sisi pemahaman, pemahamannya pada agama ini sangatlah mendalam, bahkan jika ada alat pendeteksi kekacauan hati, saya yakin hati saya ini akan kena razia karena  kekacauan yang ada dalamnya.

Ia melanjutkan cerita, katanya lagi, “Ma saya ingin tetap aktif berdakwah”

Membaca pesan ini, entah mengapa hati saya seperti ribut padahal tidak ada badai di sana. 

Saya bingung tingkat dewa, nasehat apa yang harus saya berikan. Dakwah untuk saya juga sudah sangat asing, menyebutnya pun saya segan. Saya berpikir keras sebelum akhirnya saya membalas pesan yang ia kirimkan.

“Istiqomah itu pilihan, saat kita memilih untuk istiqomah maka kita juga harus sadar dengan segala konsekuesi yang ada di dalamnya, baik itu saat bersendirian ataupun rame-rame”

"Dakwah itu banyak jenisnya, kalau belum bisa berdakwah seperti yang kita inginkan, yah paling minimal berdakwah pada diri sendiri saja dulu.

Jujur, saya terpaksa mengirimkan pesan ini, masih itu tadi, saya merasa tidak pantas memberikan nasehat padanya. Harusnya juga, saya bisa memberikan nasehat yang lebih dalam, tapi saya tidak punya stok kata-kata yang bagus berkenaan dengan istiqomah. Barulah hari ini, saya bisa membuat sedikit catatan berupa tips-tips agar bisa istiqomah. Ehm.. tenang saja, tips ini bukan dari saya scara saya masih sering lalai begini. Tipsnya saya ambil dari beberapa artikel kemudian saya ceritakan ulang dengan versi saya. Untuk  saya dan kamu, Istiqomahlah sampai mati!!


Istiqomah, Kata ini sangat terkenal di kalangan kita, banyak juga teman-teman kita yang memakai kata ini sebagai nama. Bukan tanpa alasan, istiqamah adalah harapan setiap orang. Istiqamah umpama komitmen untuk tetap hidup lurus, tidak meneloh ke kanan maupun ke kiri. Berat kan?, kita ini gampang penasaran, mana sanggup untuk tidak melirik-lirik.  Karena ‘berat’ nya ini, Allah memberikan Janji untuk mereka yang bisa beristiqomah dalam agama ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” 
(QS. Fushilat: 30)

Dalam perjalanan istiqomah pasti ada kekurangan didalamnya, kesadaran ini harus kita pahami betul agar idealisme kita dalam beristiqomah tidak membuat kita gila.  Maksudnya begini, sembari berusaha untuk bersitiqmah, kita juga harus sadar kalau kita ini tak luput dari kesalahan. Nah, jika salah maka jangan lupa bangkit lagi. Maafkan diri kita dan bersegeralah memohon ampun pada Allah. 

 “Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yan lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
(QS. Fushilat: 6).

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah).

Kiat Agar Tetap Istiqomah

Pertama: Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar.

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Pemahan sederhana dari urusan ini adalah kita yakin bahwa Hanya Allah yang berhak disembah. Keyakinan ini akan menafikan sesembahan yang lain. Intinya, hanya Allah yang bisa. Bisa apa saja melampaui sekat-sekat pemikiran kita yang keseringan buntu.

Kedua: Mengkaji Al Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya.

Allah menceritakan bahwa Al Qur’an dapat meneguhkan hati orang-orang beriman dan Al Qur’an adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. 

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. An Nahl: 102)

Kita ini, ayo kita tanya diri kita, sudah sejauh apa usaha kita untuk menghayati Ayat-ayat Al-Qur’an. 

Ketiga: Iltizam (konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah

 “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” 

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar.

Selain amalan yang kontinu dicintai oleh Allah, amalan tersebut juga dapat mencegah masuknya virus “futur” (jenuh untuk beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit.

Keempat: Membaca kisah-kisah orang sholih sehingga bisa dijadikan uswah (teladan) dalam istiqomah.

Kisah-kisah orang terdahulu sungguh akan membuat kita banyak malu.Sebutlah kisah perjuangan Rasulullah, atau kisah para shahabat untuk memperjuangkan agama ini sungguh tak main-main, perjuangan  mereka bukan hanya sekedar berpeluh, bahkan sampai harus berdarah-darah. Cukuplah kisah keluarga yasir membuat kita menundukan kepaala, atau jika belum cukup, maka kita harus merenungi lebih dalam lagi apa yang telah dikorbankan mush’ab bin umair untuk tetap istiqomah dalam agama ini. Kita dengan berbagai kemudahan untuk mempelajari agama ini justru banyak lalai, orang tua tak menghalangi, keadaan juga mendukung, lalu kapan lagi hati kita ini akan tunduk? :’(

Kelima: Memperbanyak do’a pada Allah agar diberi keistiqomahan.

Di bagian ini, saya ingin mengajak diri saya dan kamu, mari perbaiki mutu do’a kita. Di luar sana, sudah terlalu banyak training tentang bagaimana harus bermualah dengan sesama manusia, sedang kepada Rabb kita, kita mengalahkan teman yang tidak tahu diri. Hanya datang saat ada maunya saja. Hal ini harus kita pahami betul sebelum kita banyak meminta. Kita harus tahu bahwa do’a adalah bentuk pengagungan kita pada Allah, dan pengakuan bahwa hanya kepada Allah kita meminta.

Temanku, hati kita ini terlalu gampang terbolak-balik. Kita harus  lebih banyak memohon agar hati kita ditetapkan dalam ketaatan. Penghrapan ini tak main-main, sebab Rasulullah yang  taatnya luar biasapun masih senantiasa melantunkan do’a ini.  Apalagi kita.

Keenam: Bergaul dengan orang-orang sholih.

Saya ini bukan orang sholeh, tapi tolong  jangan jauh-jauh dari saya.

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan bertemandengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” 

Semoga kita seperti bisa seperti Umar dan Iyasy dalam bersahabat, sahabat yang menginginkan kebaikan untuk shahabatnya. Dikisahkan, bahwa Umar bin Khattab sahabat baik Iyasy, ia tidak bosan dan tidak hilang usaha untuk menyelamatkan sahabatnya dari kembali mungkar.

Setelah keduanya hijrah dari Mekkah, diutuslah seseorang kepada Iyasy, “Ibumu akan meninggal dunia! Ia tidak akan masuk rumah dan tidak akan mandi. Ia akan terus berterik matahari sampai kau kembali padanya.” 

Iyasy yang sangat sayang dengan ibunya langsung terenyuh, tapi Umar meneguhkannya dengan unik, “Apa yang kau khawatirkan? Esok atau lusa pasti ia tidak suka dengan kotoran dan kutu yang menempel di tubuhnya, maka ia akan mandi. Esok atau lusa pun ia akan merasa penat di bawah terik, maka ia akan menuju naungan.”

Tapi Iyasy masih masih tetap pada keputusannya, maka dengan tegas Umar berkata lagi, “Jangan pulang, Iyasy! Jika kau pulang, kau akan berpaling dari Islam.”  

Tapi bagaimana pun Umar berargumen, Iyasy tetap ingin pulang. Maka kembali Umar berkata, “Iyasy, ini untaku. Mudah-mudahan ia bisa mengingatkanmu sehingga bisa kembali lagi suatu hari nanti.”

Maka pulanglah Iyasy ke keluarganya. Dan benarlah. Ia disiksa oleh keluarganya. Dipaksa ingkar. Dan nyaris saja! Nyaris saja ia berpaling dari Islam. Tapi unta Umar menjadi kenangan dan pengingat baginya.

Tidak ada maksud untuk menyamakan diri dengan dua shahabat mulia ini, siapalah saya ini. tapi, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat saat kita kembali ‘lesu’. Terakhir, keistiqmahan itu harus dipaksakan, butuh banyak jerih payah. Bukan karena tidak ikhlas tapi kecenderungan hati kita ini suka bermalas-malasan. Keep Istiqomah Till the end. 

Selamat menantikan Ramadhan ya, Ramadhan adalah momen yang baik untuk melatih seberapa tangguh keistiqmahan sebelum berkiprah mengarungi pahit manis kehidupan di sebelas bulan setelahnya..hehe.Lebay ya. Cinta kadang-kadang harus lebay..

Allahumma balighna Ramadhan..

Sumber bacaan: Muslim.or.id

21 Sya’ban 1434 H
















You Might Also Like

2 comments

  1. Meminta kekuatan pada Allah menurut saya merupakan bagian terpenting dr menjaga keisriqomahan.
    Semoha Allah senantiasa meneguhkan kita ya mba :)

    BalasHapus
  2. Banyak hal yang bisa membuat kita berubah, tapi istiqomah itu selalu indah. Banyak hal yang bisa membuat kita berubah, dan istiqomah itu tak selalu mudah.. Semoga Sahabatnya bisa semangat kembali.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of