Ramadhan: Jangan lalaikan Sya'ban

12.06.00

Bismillah. Apa kabar Sya’ban?


Tidak terasa Sya’ban hampir masuk ke separuh bagiannya, Tidak terasa mau puasa lagi, perasaan tidak terasa ini padahal sudah berlalu setahun. Saya pernah berpikir kalau perasaan tidak terasa ini erat kaitannya dengan surat al 'Ashr. Iya, waktu menjadi ujian yang tidak terasa. Berlalu begitu saja, tak bisa ditahan-tahan.

Pembahasan Ramadhan di blog ini sudah memanjang dan melebar, persiapan ramadhan seperti mengalihkan perhatian saya pada sya’ban. Konon, sya’ban memang banyak dilalaikan, ini bukan kata saya tapi kabar dari Rasulullah. Sya’ban yang diapit Rajab dan Ramadhan hampir-hampir pudar pesonanya, bagaimana tidak, Rajab adalah salah satu dari bulan haram, sedang Ramadhan merupakan bulan yang suci. Bahkan, sebagian dari kita ada yang sudah mulai disibukan dengan perburuan tiket murah buat mudik padahal sya’ban baru dimulai.


Tentang sya’ban, Mari kita simak persaksian ‘Aisyah tentang bagaimanakah Rasulullah melewati hari-hari di bulan sya’ban. Aisyah Radhiyallahu mengabarkan bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan sya’ban kecuali dalam beberapa hari saja beliau melewatinya tanpa berpuasa.

Kemudian, kabar ini mengundang banyak Tanya, kenapa Rasulullah banyak berpuasa, kenapa?

Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, beliau  bertanya langsung kepada Rasulullah, wahai Rasulullah kenapa engkau memperbanyak puasa di bulan sya’ban. ada beberapa sebab mengapa rasulullah banyak berpuasa di bulan ini, di antaranya:
 
Pertama, karena bulan sya'ban banyak dilalaikan manusia.

Ada kaidah penting berkaitan dengan hal ini. Rasulullah bersabda “barangsiapa yang beribadah pada saat fitnah, maka pahalanya seperti berhijrah kepadaku”

Makna fitnah bisa berarti dilalaikan, jadi beribadah saat orang sibuk-sibuk dengan urusan dunia janji pahalanya lebih dahsyat dari yang biasa. 

Contoh lainnya, sholat lail, mengapa sholat lail menjadi sholat yang utama setelah sholat wajib, karena itu tadi, waktu malam banyak dilalaikan oleh manusia, kebanyakan lebih memilih tidur.

Para shalaf terdahulu memperbanyak ibadah diantara sholat magrib dan insya, saat hal ini dipertanyakan, jawaban mereka adalah karena waktu antara sholat magrib dan isya banyak dilalaikan.

Kedua, Rasulullah bersabda "Karena bulan sya’ban menjadi bulan dimana amalan seorang hamba diangkat, dan aku ingin ketika amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa"

Ketiga, menurut para ulama, sya’ban adalah bulan pemanasan ibadah sebelum memasuki bulan ramadhan. 

Kita ini, jangan terlalu berharap akan dengan mudah bebas dari godaan tidur setelah shubuh saat ramadhan nanti jika dari sekarang tidak dibiasakan, jangan berharap juga bisa tilawah banyak jus jika sehari-hari tak aktif bertatap muka dengan Al-Qur’an. Jangan menghayal bisa bangun sholat tahajud dengan mudah jika dimalam-malam sya’ban ini kita masih khusyu’ tidur di sepertiga malam terakhir. pokoknya, tanpa persiapan yang matang dari sekarang, jangan berharap Ramadhan kita bisa sukses

Intinya, Sya’ban adalah ajang melatih diri. Belum terlambat, jika Ulama terdahulu ada yang menutup toko sejak satu sya’ban untuk mempersiapkan ramadhan, maka kita yang kemarin masih lalai, jangan lalai lagi. Jika Stephen covey mengatakan bahwa kebiasaan baik bisa dilatih dalam waktu 21 hari, kita tak perlu berkecil hati, dengan mengharap pertolongan Allah insyaallah kebiasaan baik itu bisa dilatih dari sembilan belas hari sebelum kedatangan Ramadhan. 

Selamat Berlatih. Persiapan untuk masa depan itu baik, tapi melakukan yang terbaik dititik kita berdiri saat ini jelas jauh lebih karena  tak ada yang bisa menjamin kalau kita masih sampai pada masa yang di depan itu. Semoga bertemu ramadhan.. Salam Siippirrit Ramadhan.

11 Sya'ban 1434 
Ringkasanpengajiankemarindiradiorodja..

You Might Also Like

1 comments

  1. sebentar lagi sya'ban ya . memang dibulan ini banyak kemulian .dan pantas kita muliakan dengan mentasorrufkan badan ke pada ilahi

    BalasHapus

I'm Proud Member Of