Ramadhan: Tadabbur Al-Qur'an

13.34.00

Bismilllah. Tanggal dua Juni lalu, Saya mengikuti Tabligh akbar dengan tema “Indonesia Mentadabbur Al-Qur’an di Masjid Istiqlal. Pembicaranya masyaAllah, Syaikh Prof. Dr. Nasser Al Qomar. Beliau adalah ketua lembaga tadabbur Al Qur’an internasional. Acaranya pas mantab, materinya sangat berhasil membuat saya malu, betapa selama ini, selain jarang berintraksi dengan Al Qur’an, saya juga jarang menyelami maknanya.

Hari H..

Perjalanan ke TKP Alhamdulillah lancar, telah dikit, tapi belum masuk ke materi inti. Selain Syaikh Prof. Dr. Nasser Al Qomar, acara ini juga diisi oleh beberapa ustadz tanah air, seperti, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Zaitun Rasmin, beliau adalah ketua lembaga wahdah Islamiyah yang berpusat di Makassar. Sedikit banyak saya tahu bagaimana lembaga wahdah islamiyah itu, saya harus banyak berterimakasih, karena lembaga ini telah memperkenalkan dakwah dan Tarbyah berdasarkan pemahaman salafush shaleh dengan sangat manis selama saya menempuh pendidikan di Makassar. Selain Ustadz zaitun Rasmin, ada juga Ustadz Yusuf Mansur, wach ternyata Ustadz Yusuf Mansur aslinya imut-imut..hehe.# plakkk..Jaga tuh Mata..

Materi Inti..

Bismillahirrahmanirrahim..

Materi yang dibawakan Oleh Syaikh Prof. Dr. Nasser Al Qomar dibuka dengan iming-iming penyelesain berbagai masalah dalam kehidupan ini dengan Al-Qur'an. Beliau menuturkan bahwa Al-Qur’an adalah Solusi karena sesunggunya kemuliaan, kebangkitan, dan kejayaan bahkan eksitensi sebuah umat ditentukan seberapa dekat umat itu dengan Al-qur’an. Dekat dalam artian tidak sekedar membaca dan menghafalkannya. Tetapi dengan mentaddabur maknanya. Tadabbur dalam arti yang sesungguhnya dengan merenungkan maknanya, merealisasikan fikrah yang terdapat di dalamnya dan segala konsekuensinya.

Hal ini senada degan kabar dari sahabat yang mulia Umar bin khtab radhiyallahu anhu, beliau berkata:  
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab Al Qur’an dan menghinakan kaum lain dengan Al-Qur’an ini pula” (HR. Muslim)

Syaikh melanjutkan materi dengan memaparkan bahwa suatu kesyukuran karena di zaman sekarang ini kita mendapati antusias masyarakat pada al Qur’an kembali menggelora, akan tetapi gelora ini tidak disertai dengan tadabbur, singkatnya hafalan al-qur’an itu tidak memberikan banyak manfaat berupa amalan bagi pemiliknya. Hanya sekedar tilawah dan menghafal tanpa tadabbur merupakan musibah.  Allah ta’ala telah membuat perumpamaan orang yang mengemban ilmu tapi tidak mengambil manfaat dari ilmunya dengan perumpamaan yang paling buruk. #ngeri eh..

Singkatnya, slow but sure dah, pelan tapi ngerti. dan Subhanallah, ternyata perintah untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil berkaitan dengan hal ini. Ibnu katsir berkata “hal itu (tartil) lebih membantu untuk memahami dan mentadaburri Al-Qur’an.

Syaikh melanjutkan bahwa para shahabat mempelajari Al-Qur’an dari Nabi sebanyak sepuluh-sepuluh ayat, mereka tidak melewatinya hingga mereka memahami kandungan ayat tersebut, baik secara ilmu maupun amal. Mereka berkata “kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal secara keseluruhan”. #bagian ini jleb banget, kite-kite ini kadang sering nafsu pengen ngapalin banyak ayat, tapi tidak satupun ayat yang dimengeti maknanya, celakanya lagi, ayat yang sudah dihafal tidak diamalkan. Bagaimana mau diamalkan ngerti aja kagak.

Mengapa  Tadabbur Al-Qur’an?

Tadabbur Al-qur’an merupakan kunci ilmu pengetahuan. Dengan tadabbur segala kebaikan dan ilmu diperoleh. Dengannya iman bertambah dan tertanam di dalam hati. Dengan mentadabburi Al-qur’an seseorang dapat mengenali Rabb yang disembah, sifat-sifat-Nya yang sempurna, menyucikan-Nya dari sifat yang tidak layak untuk-Nya dan jalan mengantarkan dekat kepada-Nya. Dengan Tadabur pula seseorang dapat mengenal musuh yang sebenarnya, jalan menjerumuskan kepada adzab, sifat-sifat mereka dan sebab-sebab yang mendatangkan Adzabnya. Semakin meningkat intensitas tadabbur seseorang, maka bertambah pula ilmu, amal, dan bashirahnya. (Syeks As-sa’di Rahimullah)

Dengan tadabbur yang sungguh-sungguh seseorang  semakin yakin dan memahami bahwa al-qur’an adalah firman Allah karena ia menjumpai ayat-ayat yang saling membenarkan satu sama lain,

Syaikh menjelaskan juga bahwa Allah ta’ala mengajak hambanya untuk merenungkan (Tadabbur) ayat-ayat yang Ia turunkan dalam Al-Qur’an. Tadabbur merupakan salah satu kewajiban seorang muslim terhadap Al-qur’an. Siapa yang membaca dan menyimak Al-Qur’an tapi tidak mentadabburinya boleh jadi Al Qur’an akan menjadi hujjah atasnya. Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang seperti itu.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci “ 
(QS. Muhammad:24)

Hassan Al Basri Rahimullah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur’am sebagai surat dari Tuhan meraka, oleh karena itu mereka mentadabburinya pada malam hari dan mengamalkannya pada siang hari”

Dari Abdullah ibn mas’ud radhiyallahu anhu berkta, “ seseorang pengemban Al-Qur’an hendaknya dikenali dengan shalatnya pada waktu malamnya saat orang-orang sedang tertidur, dengan puasanya pada siang hari saat orang-orang makan, dengan tangisnya saat orang-orang bergembira ria, dengan tangisnya saat orang-orang tertawa, dengan diamnya saat orang-orang berbicara, dan dengan khusyu’nya saat orang-orang angkuh”
 
Manfaat Tadabbur Al Qur’an
  1. Mengokohkan Aqidah islamiyah dalam hati kita
  2. Akan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah, Cinta Kepada Allah itu menuntut bukti berupa sejauh apa kita meneladani Rasulullah
  3. Hati kita akan bersih
  4. Kokohnya persatuan
  5. Tidak akan terjatuh pada maksiat
  6. Al Qur’an menjadi jalan untuk membedakan hak dan Bathil
  7. Al-Qur’an adalah Obat.
Syaikh menceritakan bahwa ada seorang pasien yang sakit keras dan kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada lagi, kemudian orang itu menjadikan Al-Qur’an sebagai obat. Ia terus membaca membaca Al-qur’an  dan mentadabburinya. Hingga sampailah ia pada ayat “ Mereka bertanya Muhammad tentang gunung, maka katakanlah, Allah lah yang memporak-porandakannya”. Ia mentadaburi ayat ini, ia berpikir jika Allah mampu memporak-porandakan gunung maka Allah juga mampu menyembuhkan penyakitnya. Subhanallah.

Yang menghalangi kita dari Taddabur Al- Qur’an..
  1. Ada penyakit dalam hati , Seorang shahabat mengatakan bahwa andai hati seseorang bersih maka ia tidak akan pernah lelah dalam mentadabburi Al-qur’an
  2. Tidak mengetahui nilai dari Tadabbur Al-Qur’an
Di akhir materi, Syaikh menyebutkan ciri-ciri orang yang telah berhasil mentadabburi Al-Qur'an. Ciri ini nendang banget. kesimpulannya, saya belum mentadabburi Al-Qur'an. untuk mengetahui apakah kita sudah mentadabbur Al-Qur'an maka lihatlah hal ini pada diri kita:
  1. Apabila kita membaca Al Qur’an dan hati kita bersama kita
  2. Apabila kita membaca Al Qur’an dan Iman kita bertambah
  3. Apabila dengan membaca Al Qur’an akhlak kita makin baik
  4. Apabila mata kita meneteskan air mata saat membaca Al Qur’an
  5. Apabila kita takjub dengan bacaan Al Qur’an, bahagia saat membaca Al Qur’an
  6. Siapa yang mentadabbur Al Qur’an maka kehidupannya akan lebih baik


Tadabbur Al Qur’an adalah menghayati kedalaman Al Qur’an dengan ketajaman mata hati agar dapat menangkap rahasia di balik kata dan makna Al Qur’an. Ibarat orang mencari mutiara di dasar samudera, ia harus menyelam dan membongkar batu – batu karang di dasar kedalaman samudera itu. Begitulah orang bertadabbur, dengan bersungguh–sungguh, membaca, mempelajari, menghayati dan mengamalkan Al-Qur'an
_________________________________________________________________________

Teman-teman, semoga catatan ini menambah semangat kita dalam mentadabburi Al-Qur'an. Membaca Al–qur’an pada bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dari bulan selainnya. Besar harapan agar kita dimudahkan dalam mentadabburi Al-Qur’an, memaknainya, menjaga batasan-batasanya, mengamalkan isinya serta memelihara kehormatannya. Mohon dikoreksi ya apabila dalam catatan ini terdapat kesalahan.

Sumber :
Materi tabligh Akbar “Indonesia mentadabbur Al-Qur’an”
Buku Majelis bulan Ramadhan Karya Syaikh Muhammad bin shalih al ‘utsaimin.

5 Sya’ban 1434 H










You Might Also Like

6 comments

I'm Proud Member Of