Pernikahan itu Revolusi

14.39.00

Bismillah. Semakin sering saya mendatangi acara pernikahan maka cerita yang saya tampung juga semakin banyak dan bermacam-macam. Beberapa ada yang membuat migren saya kambuh karena suara marawisnya mengalahkan pesona pengantin. Beberapa lagi ada yang membuat saya ikut hanyut dalam larut suara 'sah' yang tumpah bersamaaan dengan air mata. Saya tidak benar-benar paham apa yang terjadi saat itu, tapi ada semacam pesan tersirat bahwa kehidupan baru untuk dua orang berbahagia itu baru saja di mulai.

Tami...
Saya mengerti bahwa pernikahan bukanlah soal mudah, semoga saya tidak keliru membaca kehidupan yang belum pernah saya jalani sebelumnya. Saya memulai tulisan ini dengan beberapa kebingungan harus memulai dari mana, saya mencoba mencari kata yang bisa menampung semua maksud yang ingin saya sampaikan, namun semakin saya ingin menghias kata justru itu tidak dari kedalaman hatiku.

Sebelum menulis ini, saya memikirkan banyak hal yang menjadi alasan saat seseorang memutuskan untuk menikah, ada beragam alasan dan alangkah hebatnya perasaan tak lengkap sehingga menjadikan pernikahan sebagai proses panjang untuk memahami rasa saling memerlukan, sampai pada akhirnya kita akan paham bahwa pernikahan adalah penyempurna separuh agama.
Seperti yang pernah kamu bilang bahwa kesederhanaannya yang menarik hatimu, hal ini membuatku ingin tahu banyak, dan saya mendapati cinta dan mencintai dalam kesederhanaan adalah lebih baik dari cinta yang berapi lalu padam seketika. Bersahaja dalam cinta barangkali inilah yang harus dipupuk oleh mereka yang telah dan akan menikah.

Dari sekian banyak definisi dan tujuan pernikahan, saya menganggap bahwa pernikahan itu revolusi. Dimulai dari dia yang mengurungkan niat untuk berpanjang lebar dalam kata dan janji, tetapi langsung secara jantan mendantangi orang tuamu, pernikahan semacam kata lain dari keberanian sejak awal memulai.

Pernikahan itu Revolusi ketika tanggung jawab tidak lagi dianggap beban justru menjadi sesuatu yang diperjuangkan, semacam panggilan jiwa. Ada suami yang rela berangkat pagi-pagi, dan ada istri yang rela bangun lebih awal dari siapapun. Hal ini tidak akan kita temukan di luar pernikahan,

Pernikahan itu Revolusi ketika dua hati bertekad untuk bersama-sama menjalani hidup, menyatukan dua rimba yang berbeda, berangkulan bertukar cerita, sama-sama menguatkan kesabaran menjalani kehidupan yang kadang berdarah, tak saling melepaskan genggaman tangan walau menempuh jalan  berliku, ketika itu cinta tak menemukan akhir dalam perjuangan. Inilah yang saya maksud dengan kehidupan baru itu baru saja dimulai.

Pernikahan itu Revolusi ketika seorang laki-laki terus saja bergerak menyambung nyawa untuk anak dan istrinya, ia tak lagi perduli pada lelah, yang ia tahu diseberang sana, ketika malam pekat ada do'a yang terus mengalir dari dia yang menyimpannya dalam hati, dan juga senyum  manis dari bocah-bocan mungil yang memanggilnya ayah.

Pernikahan itu Revolusi ketika para lelaki kalah dalam egonya sendiri, ia rela berhemat-hemat demi mengumpulkan uang dan harta benda untuk istri dan anaknya. Ia yang dulu begitu berapi dengan semangat kelaki-lakiannya  seperti larut pada pengabdian dan rasa cinta pada keluarganya.

Pernikahan itu revolusi ketika ia tidak lagi datang dalam limpahan materi seperti yang banyak diperbincangkan orang-orang, justru saya dapati pernikahan menjadi begitu bersahaja ketika seorang suami terang-terangan mengatakan bahwa tak ada lagi yang ingin ia cari saat ia menemukan istrinya dilubuk hatinya yang paling jauh.

Pernikahan itu Revolusi ketika kamu yang tadinya hanya berharap menerima tetiba saja memberikan segala apa yang kamu punya untuk dia yang telah berjanji setia, kamu bahkan rela jam-jam malammu tersita saat ia mengginggil sakit, kamu rela menahan laparmu hanya sekedar menunggu ia untuk makan bersama. Kamu berikan ruang-ruang yang kamu butuhkan begitu saja pada dia, Ini bukan cinta gila, tapi begitulah pernikahan orang tuanku mengajarkanku, tam. Percaya saja cinta tak akan pernah selesai atau habis dibagikan, suatu saat nanti akan ada masa kalian kembali mengurai makna cinta, kamu ajak dia kembali mengulang cerita lama, bahwa pernikahan adalah memberi apa yang ada didalam hati.

Pernikahan itu Revolusi ketika cinta tak menemukan akhir dalam perjuangannya, pastilah tidak mudah membagi ruang yang tadinya nyaman kita nikmati seorang diri. Namun setelah pernikahan, kamu dengan selapang dada memberikan ruang itu untuk anak dan suamimu. Nanti, barangkali akan ada keadaan dimana kekuarangan yang belum pernah kamu rasakan menjadi warna dalam hari-hari pernikahanmu, biarkan saja, karenanya hidup menjadi lebih semarak.

Pernikahan itu Revolusi ketika rumah menjadi tempat yang selalu saja di tuju sejauh apapun kaki ingin melangkah pergi. Rumah mengingatkan pada sesuatu yang lama dan menjadikannya baru begitu saja saat lelah yang menjatuhkan keringatnya satu-satu, bahkan tidak terasa lagi lelah itu karena senyum manismu yang menyambut ia di depan pintu. Ini istilah lain dari istri penyejuk hati yang Rasulullah kabarkan, Tam. Istri yang menjadikan rumah layaknya syurga.

Sampai akhirnya kamu mengatakan bahwa cinta kalian tidak pernah berubah hanya lebih dewasa, Hingga usia menggamit kalian dalam rambut beruban, hingga mungkin kalian akan saling meninggalkan dengan janji untuk saling menunggu di syurga.
“Barakallahu laka wa baraka 'alaik, wa jama'a bainakuma fi khair"
"Happy wedding Tami & Rifyal"
20 Oktober 2013



You Might Also Like

10 comments

  1. Terus kira-kira kapan ya Revolusi itu tiba... -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan ya?

      saya aja nggak tahu..

      Hapus
  2. :)
    pernikahan itu revolusi. di mana perubahan tanggung jawab yang jauh lebih besar. bukan hanya untuk di dunia tetapi juga di akhirat. Nice :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa katanya gitu, setelah menikah yg tadinya enak2 an sendiri, harus di bagi sama teman hidup *cieeh

      Hapus
  3. Selamat juga buat temannnya ^^
    betul sekali apa yg Ukhti sebutkan, harus siap segalanya..

    BalasHapus
  4. Pernikahan tidak sekedar masalah 2 keluarga yang menyatu, tapi juga masalah membangun ummat. Dengan memilih pasangan yang sholih/shilihah, itu bisa menjadi jalan untuk mempersiapkan ummat yang lebih baik.

    Karenanya, pernikahan membutuhkan ilmu. Ilmu dalam mempersiapkan dan ilmu untuk mendidik keluarga..

    Selamat menuntut ilmu mba rahmah...
    Mumpung masih sendiri, mumpung masih belum ada yang membatasi, teruslah berprestasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya makasi mbak nhinisss...berilmu sebelum beramal yaaa...

      Hapus
  5. alhamdulillah bi khair ukh... Pernikahan hemmm... :D

    BalasHapus
  6. setuju dgn judul diatas, pernikahan adalah revolusi, resolusi menuju pendewasaan diri dan pendewsaan agama (menyempurkan agama)..,

    “Barakallahu laka wa baraka 'alaik, wa jama'a bainakuma fi khair"
    "Happy wedding Tami & Rifyal"

    BalasHapus

I'm Proud Member Of