Dzulhijjah: Refleksi dakwah Nabi Ibrahim

09.30.00

Semakin mendekati puncak haji, rasa deg-degan yang saya rasakan semakin tidak karuan. Berita di tivi tentang mereka yang sudah menabung bertahun-tahun agar bisa berhaji berhasil membuat saya merinding, dan lagi, gagap gempita rindu untuk mendatangi tanah haram itu semakin tidak sabaran saja. Entah kapan, semoga bisa, saya benar-benar ingin merasakan desak-desakan untuk taat seperti yang saya lihat di tivi sekarang ini. Wahai Rabb ku, mudahkanlah niatku ini. 


Sekarang ini kita sudah berada di penghujung hari-hari terbaik, untuk setiap orang hari-hari ini bisa jadi memiliki makna yang tidak sama. Akan tetapi, saya yakin kita akan satu suara jika saya mengatakan bahwa sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah membawa pesan tauhid lengkap satu paket, dimana ada kisah Ismail sebagai seorang anak yang kesabarannya menyejukan hati, kemudian ada istri yang kataaatannya menenangkan dan ada dia, Ibrahim seorang laki-laki yang hanif dengan ketaatan yang mendapat pujian langsung dari Allah.

Kisah ketaatan keluarga Nabi ibrahim ‘alaihis salâm lebih jauh patutlah membuat kita banyak malu. Jangankan diminta untuk menyembelih anak sendiri atau meninggalkan istri di lembah tak bertuan, kita ini diminta untuk meninggalkan si 'dia' yang belum halal saja sudah keberatan setengan mati. Malulah jadi kita.

Sedikit kisah, sebelum datangnya ujian yang datang berombongan pada  Nabi ibrahim sebagai seorang ayah dan juga suami, ada bagian kisah yang memposisikan Nabi Ibrahim sebagai seorang nabi dan juga sebagai seorang anak dari laki-laki yang pada masa itu berprofesi sebagai pemahat berhala. Perasaan sedu-sedu kemudian mendatangi Nabi Ibrahim tak kala ajakan pada orang terkasih ditolak dengan pengusiran dan juga ancaman.

Singkat kata, mendakwahi orang tua bukanlah soal sederhana. Perbedaan cara pandang, rasa lebih tahu, dan tidak adanya iman di dalam hati semakin mempersepit peluang dakwah, namun lagi-lagi Nabi Ibrahim memberikan teladan yang anggun bagaimana menyampaikan dakwah hikmah dengan tetap memposisikan diri sebagai seorang anak yang menginginkan kebaikan untuk orang tuanya. 

Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim mengajar kita dengan perkataannya yang diabadikan Al Qur'an.

“(Ingatlah) ketika (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun?” (Maryam : 42)

Ibn Asyur menukilkan bahawa panggilan Nabi Ibrahim kepada ayahnya itu (dalam bahasa Arab berbunyi ‘ya abati’ yang bermaksud ‘wahai ayahku’) adalah ucapan yang penuh kelembutan dan memanggil dengan panggilan yang sesuai.

Inilah antara pengajaran awal dari ayat ini yang kita akan dapati juga dalam ayat-ayat yang seterusnya, Nabi Ibrahim berulang kali memanggil ayahnya dengan panggilan hormat dan penuh kelembuta. Masyaallah. Hikmah sekali, tidak ada kesan menggurui apalagi niatan untuk kasar. Ya Abati'...

Tak hanya lembut, dalam dakwah nabi Ibrahim pada ayahnya kita juga akan mendapati bagaimana Nabi Ibrahim Memilih Perkataan Terbaik. Dimana wacana yang digunakannya adalah sehalus-halus wacana, dengan penggunaan budi bahasa, kelembutan, kehalusan, kesopanan, adab yang cantik dan akhlak yang baik.”

Di ayat lain, Ibrahim menjelaskan pelan-pelan pada ayahnya bahwa telah sampai  padanya ilmu yang tidak diberikan pada ayahnya, caranya awesome banget. Kesabarannya top, dengan intonasi dan kelembutan yang tetap terjaga.

“Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebahagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu. Kerana itu, ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan jalan yang lurus.” (Maryam : 43)

Bahkan setelah penolakan itu datang, konsistensi kasih dan kelembutan Nabi Ibrahim dalam dakwah masih juga terjaga. Masyaallah.

“Dia (Ibrahim) berkata : ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam : 47)

Saat sampai di bagian ini, saya terkenang pada orang tua saya, apa yang telah saya lakukan untuk menyampaikan kebenaran yang telah saya ketahui, upaya macam apa yang telah saya usahakan untuk menjaga diri dan keluarga saya dari neraka yang menakutkan itu? Ya Allah..

Salam, 


 





You Might Also Like

5 comments

  1. Subhanallah...
    tulisan terakhir makjleb.

    BalasHapus
  2. sebuah hikmah akan ketundukan ketauhidan dan kelembuatan dalam berdakwah khususnya kepada keluarga kita,
    makasih mbak Rahma

    BalasHapus
  3. Subhannallah...jadi teringat lagu nasyid "belajar dari Ibrahim"
    belajar untuk mencintai Allah, belajar rela berkorban, kekuatan tauhid..
    nasihat yang sangat tepat di bulan Dzulhijah ini,,makasih mbak :))
    salam EPICENTRUM

    BalasHapus
  4. Renungan yang manis .... semoga kita bisa melakukan yang terbaik dalam koridor-NYA .. ^__^

    BalasHapus

I'm Proud Member Of