Nggak Isbal? tetap keren koq...

17.47.00

Bismillah. Tetiba saja saya ingin membahas ini setelah melihat salah seorang engineer di tempat kerja yang tetap eksis walaupun pakaiannya tidak seperti yang lain, celananya enggak isbal (maaf yah tadi saya out of control dengan mata saya ini, tapi tenang saja, saya hanya melihat bagian belakangnya, piss). Cerita kali ini sebenarnya laki banget nih, tapi yang perempuan musti tahu juga buat jaga-jaga untuk anak sama suami kita nanti, target jangka panjang, hehe. Jangka pendeknya, buat keluarga kita yang muslim.

Pernah dengar istilah isbal kan?  Isbal itu memanjangkan pakaian di bawah kedua mata kaki bagi lelaki, dan ini termaksud perbuatan yang dilarang agama.

Saya baru tahu istilah ini  setelah memasuki perkuliahan. Tahunya agak telat. Waktu itu, saya sempat dibuat heran oleh beberapa teman kuliah yang memilih untuk memakai celana yang agak 'ngegantung' dengan bahan yang nggak anak muda banget (baca: kain). Awalnya agak aneh juga, selain tidak sesuai tren kala itu, model ini terlihat sungguh asing di area teknik dimana hampir seluruh laki-lakinya merasa lebih keren dengan memakai celana jeans yang melewati mata kaki dan ada sebagian yang ingin tampil lebih memukau lagi dengan menambahkan sobekan-sobekan tidak beraturan di area celana jeans yang dikenakan.

Karena penasaran akhirnya saya jadi banyak nanya ke senior-senior (akhwat) yang ada di Lembaga Dakwah Kampus dan tahulan saya kalau memakai celana yang 'ngegantung' alias nggak isbal itu adalah sunnah. Titik!

Tapi, kok senior saya yang anak-anak mushola celananya nggak ngegantung ya, apa dia nggak tahu kalau itu sunnah? aliran mana diaah? apa nggak sealiran sama teman saya yang celananya ngegantung? *Awal-awal pencarian emang kayak gini nih, banyak nanya* Itu juga yang ustadz-ustadz di tivi celananya juga nggak ngegantung, masa' mereka nggak tahu kalau itu sunnah. Kamu juga yang baca tulisan ini pasti ikut bingung juga, cekidot, mari sist broh, kita baca penjelasan lengkap mengenai perkara ini.


Para ulama telah sepakat bahwasanya isbal itu haram jika dilakukan karena sombong. Akan tetapi mereka berselisih pendapat jika isbal dilakukan bukan karena sombong. Kita akan dapati pernyataan para ulama yang tidak menyatakan haram bagi isbal tanpa kesombongan, mereka menyatakan bahwa isbal tanpa kesombongan hukumnya makruh (dibenci oleh Allah). Karenanya bisa kita katakan bahwa para ulama sepakat jika isbal tanpa kesombongan adalah makruh.

Jelas yah sampai disini, Jika bukan karena sombong maka hukumnya makruh. Kesepakatan ulama ini jelas ada dalilnya ya, dalilnya juga jelas dari Rasulullah.

Nabi shallallahu 'alihi wa sallam telah bersabda :

“Barang siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya pada hari Kiamat”.
(HR. Bukhari 5788 dari hadits Abu Hurairah dan Muslim 5424 dari hadits Ibnu Umar)

Dikisahkan bahwa Rasulullah itu jika berpakaian "(Ujung) sarung Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam hingga tengah kedua betis beliau" (HR At-Thirmidzi)

Saya melihat Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam memakai baju merah, seakan-akan saya melihat putih kedua betis beliau
(HR Al-Bukhori )

Nabi shallallahu 'alihi wa sallam ujung baju dan sarung beliau hingga tengah betis padahal beliau adalah orang yang paling bertakwa dan paling jauh dari kesombongan bahkan beliau tawadlu kepada Allah dengan memendekkan baju dan sarung beliau hingga tengah betis dan beliau takut ditimpa kesombongan serta ujub, maka mengapa kita tidak meneladani beliau? Ini sedikit sanggahan saja untuk mereka yang masih mengaku tidak sombong dengan tetap memanjangkan celana. Malu dong sama Rasulullah.

Jika yang kita dapati orang-orang yang berisbal ria adalah orang-orang awam yang tidak mengetahui maka masih bisa kita maklumi, akan tetapi yang menyedihkan adalah sebagian para juru dakwah yang sengaja berisbal ria, bahkan mencibirkan orang yang tidak isbal. Padahal minimal hukum isbal tanpa kesombongan adalah makruh. Apalagi pendapat yang lebih kuat bahwasanya hukumnya adalah haram meskipun tanpa kesomobongan, dan semakin bertambah keharamannya jika disertai dengan kesombongan. 

Dari 'Amr bin Syarid, berkata, "Rasulullah melihat dari jauh seseorang yang menyeret sarungnya (di tanah) maka Nabi pun bersegera segera atau berlari kecil untuk menghampirinya. Lalu beliau berkata, "Angkatlah sarungmu dan bertakwalah kepada Allah!" Maka orang tersebut memberitahu, "Kaki saya cacat (kaki x-pen), kedua lututku saling menempel." Nabi shallallahu 'alihi wa sallam tetap memerintahkan, "Angkatlah sarungmu. Sesungguhnya seluruh ciptaan Allah indah." (Setelah itu) orang tersebut tidak pernah terlihat lagi kecuali sarungnya sebatas pertengahan kedua betisnya." (HR. Ahmad)

Hadits ini dengan kasat mata menegaskan bahwa Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam tetap memerintahkan orang ini meski isbal bukan timbul dari rasa congkak, tetapi hanya bertujuan untuk menutupi kekurangannya (cacat). Bahkan Rasulullah tidak memberinya maaf. Bagaimana dengan kaki kita yang tidak cacat, tentunya kita malu dengan sahabat orang tersebut yang rela terlihat cacatnya demi melaksanakan sunnah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam.

Penjelasan Syaikh Utsaimin

Syaikh Utsaimin menjelaskan : "Mengisbalkan pakaian ada dua bentuk :

Bentuk yang pertama: Menjulurkan pakaian hingga ke tanah dan menyeret-nyeretnya. Bentuk yang kedua: Menurunkan pakaian hingga dibawah mata kaki tanpa berakar pada kesombongan.

Jenis yang pertama adalah orang yang pakaiannya isbal hingga sampai ke tanah disertai kesombongan. Nabi shallallahu 'alihi wa sallam telah menyebutkan, pelakunya menghadapi empat hukuman : Allah tidak berbicara dengannya pada hari Kiamat, tidak melihatnya (yaitu pandangan rahmat), tidak menyucikannya serta mendapat adzab yang pedih. Inilah empat balasan bagi orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong…

Sedangkan pelaku isbal tanpa disertai kesombongan maka hukumannya lebih ringan . Dalam hadits Abu Hurairah, Nabi berkata: (Apa yang dibawah mata kaki maka di neraka). Nabi tidak menyebutkan kecuali satu hukuman saja. Juga hukuman ini tidak mencakup seluruh badan, tetapi hanya khusus tempat isbal tersebut (yang di bawah mata kaki). Jika seseorang menurunkan pakaiannya hingga di bawah mata kaki maka dia akan dihukum (bagian kakinya) dengan api neraka sesuai dengan ukuran pakaian yang turun dibawah mata kaki tersebut, tidak merata pada seluruh tubuh (Syarah Riyadhus Sholihin 2/522-523, Syaikh Utsaimin).

Sebuah renungan…

Sombong adalah masalah hati. Saat menegur orang yang isbal sebagaiamana yang dipraktekan oleh Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam demikian juga para sahabat, mereka tidak pernah sama sekali bertaanya sebelum menegur: "Apakah engkau melakukannya karena sombong? Kalau tidak, no problem. Kalau benar lantaran sombong, angkat celanamu!" Seandainya isbal tanpa diiringi sombong diijinkan, artinya tatkala menegur orang yang isbal seakan-akan Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam sedang menuduhnya sombong. Demikian juga para sahabat tatkala menegur orang yang isbal berarti telah menuduhnya sombong. Padahal kesombongan tempatnya di hati, sesuatu yang sama sekali tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dan para sahabat.

Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda "Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk mengorek isi hati manusia ." (HR. Bukhari)

Syaikh Bakr Abu Zaid berargumen, "Kalau larangan isbal hanya hanya bertautan dengan sikap sombong, tidak terlarang secara mutlak, maka pengingkaran terhadap isbal tidak boleh sama sekali, karena kesombongan merupakan amalan hati. Padahal telah terbukti pengingkaran (Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallamdan para sahabat) terhadap orang yang isbal tanpa mempertimbangkan motivasi pelakunya. (sombong atau tidak)." (Haduts Tsaub hal 22)

Ibnu Umar bercerita, "Saya melewati Rasulullah dan sarungku isbal, maka Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkomentar: "Wahai Abdullah, angkat sarungmu!". Aku pun mengangkatnya. "Angkat lagi!",kata beliau lagi. Maka aku pun tambah mengangkatnya. Setelah itu, aku selalu memperhatikan sarungku (agar tidak isbal)". Sebagian orang menanyakan: "Sampai mana (engkau mengangkat sarungmu)?". Ibnu Umar menjawab: "Hingga tengah dua betis" (HR: Muslim 5429)

Syaikh Al-Albani berkesimpulan: "Kisah ini merupakan bantahan kepada para masyaikh (para kyai, pen) yang memanjangkan jubah-jubah mereka hingga hampir menyentuh tanah dengan dalih mereka melakukannya bukan karena sombong. Mengapa mereka tidak meninggalkan isbal tersebut demi mengikuti perintah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam kepada Ibnu Umar (untuk mengangkat sarungnya) ataukah hati mereka lebih suci dari isi hati Ibnu Umar?" (As-Shahihah 4/95).

Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam tetap menegur Ibnu Umar, padahal Ibnu Umar sebuah figur yang jauh dari kesombongan, bahkan beliau termasuk sahabat yang mulia dan paling bertakwa, namun Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam tidak membiarkannya isbal, beliau tetap memerintahkannya untuk mengangkat sarungnya. Bukankah ini menunjukan bahwa adab ini (tidak isbal) tidak hanya berlaku pada orang yang berniat sombong saja ?.

Bahkan Ibnu Umar sangat takut dirinya terjatuh dalam kesombongan karena memakai pakaian yang menunjukan kesombongan

Masyaallah kan, yang masih berdebat kusir nih tentang hukum memanjangkan pakaian, bisa baca dalil-dalil ini. Dan lagi nih yah, dari semua dalil yang ada isinya adalah larangan memanjangkan pakaian, kalaupun ada perbedaan pendapat, harusnya, idealnya kita mengambil yang kuat, alias nurut-nurut aja saat di larang, iyaa nggak? Tentang ustadz yang tetap eksis dengan celananya yang isbal (melewati mata kaki) udah nggak usah di contoh, teladan kita itu Rasulullah bukan mereka atau bisa jadi ilmu ini memang belum sampai pada mereka :)

Gini, kamu tetap keren koq walaupun nggak Isbal, apalah arti pandangan manusia jika kamu tetap tampil dengan ketaatanmu di mata Allah dan Rasul-Nya.  :)

Sumber:  

You Might Also Like

3 comments

  1. Alhamdulillah..semoga selalu istiqomah dalam menjalankan sunnah ini.. .aamin

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, seperti kata teman saya.. biarkan ia 5cM menggantung.. menggantung di atas mata kaki Anda..

    BalasHapus

I'm Proud Member Of