Mbak sum, Jazakillahu khairan

13.47.00

Saya tidak mengira kalau saya akan merasa bersalah seperti ini setelah berkata ketus pada pembantu yang bekerja di rumah saya. Saya seperti tidak ingin tahu apa sebab hingga ia datang terlambat, yang saya tahu pagi tadi kepala saya sangat pusing  dan ingin sesegera mungkin minum obat tapi sup yang menjadi pasangan bubur belum tersedia, minum obat dalam keadaan perut kosong bisa menjadi masalah baru lagi.

Perasaan bersalah yang saya derita semakin bertambah-tambah saat ingatan saya tertuju pada kisah Anas bin malik yang sudah melayani Rasulullah selama bertahun-tahun namun tidak sekalipun Rasulullah mengeluhkan pekerjaannya, kesalahan dimaklumi Rasulullah dengan mudahnya. Anas sendiri pernah berkata:” Rasulullah Shallallahu alaihi wasssalam tidak pernah menegur apa yang aku perbuat, beliau juga tidak pernah menanyakan tentang sesuatu yang aku tidak kerjakan, akan tetapi beliau selalu mengucapkan Masya’allahu kan wa ma lam yasya”.

Setelah berkata ketus, saya tahu bahwa tidak ada yang berubah kecuali perasaan bersalah yang saya derita semakin malu. Mbak Sum masih saja tersenyun, dengan lugunya ia menanyakan bagaimana kondisi saya pagi ini, ia juga mengingatkan agar saya istirahat yang cukup dan tidak boleh makan sembarangan, jauhi mie. Mbak Sum juga masih mengangkat piring yang saya pakai untuk makan, setelah itu ia membersihkan rumah, mencuci, dan menyetrika. Emosi lapar yang tadi sempat ada berubah seketika menjadi iba saat saya melihat mbak sum merapikan lemari pakaian saya. Beban hidup dan kehidupan serba terbatas yang di alami Mbak Sum seperti terpampang di depan mata saya, harusnya ini bisa membuat saya banyak mengerti, lagi pula upah yang saya berikan juga tidak seberapa dibanding rasa lelah yang harus ia rasakan setiap harinya. Jasa-jasanya pun luar biasa. Karenanya lah saya jadi tahu beres. T_T

Dan lagi, ketulusannya seperti tidak habis-habis, saya seperti lupa saja bahwa kemarinnya ia membawakan saya sop daging yang kemudian saya tahu kalau daging yang ia gunakan itu adalah jatah daging kurban yang ia dapat dari mushola sekitar tempat ia tinggal. Ada haru yang menganga karena ingatan pada mereka yang kurang mampu dan menganggap daging kurban sebagai barang mewah, sampai-sampai harus mengantri panjang, bahkan ada yang terinjak-injak. Kenapa Mbak Sum yang serba kekurangan begini memiliki semangat berbagi sedemikian hebat. Ini sungguh mengajariku betapa ketulusan itu datang dari hati yang lapang, bukan jaminan bahwa seseorang yang hidupnya serba lapang bisa dengan mudah saja memberikan apa yang milikinya. Ini masalah hati, Rahma. 

Mbak Sum, terima kasih banyak, jazakillahu khairan. Maafkan saya.

23 Oktober 2013
Ternyata sakit types itu dapat menyebabkan kontroversi di hati, perut dan kepala.

You Might Also Like

2 comments

  1. Syafakillah, kanda. Salam sama Mbak Sum yang baik hati :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya syukran dinaa... Insyaallah salamnya nanti saya sampaikan ya, main ke sini dong :)

      Hapus

I'm Proud Member Of