Dzulhijjah: Cerita di atas keyakinan

11.30.00

Bismillahirrahmanirrahim. Ini hari ke tiga di bulan dzulhijjah, siang nanti saya ada rencana ke dokter, ini keputusan yang agak terlambat padahal sudah tiga hari ini saya meriang hebat. Saya baru tahu kalau meriang itu bisa mengundang rindu, hehe, saya jadi sering rindu akhir-akhir ini, efek yang paling terasa dari rindu ya itu saya jadi sedikit lebay bawaannya ingin tidur terus.

Sambil menunggu-nunggu waktu ke dokter, saya membuat catatan ini, ini adalah hasil bacaaan tiga harian ini, cerita keluarga Nabi Ibrahim menjadi teman yang sangat baik dan yang paling penting berhasil membuat saya menyeka air mata. Keren sekali keluarga Nabi Ibrahim itu!!

Saya memulai cerita ini ini dari kisah perjuangan seorang pemuda bernama Ibrahim yang sudah berikrar bahwa sesembahan yang haq itu hanya Allah saja setelah ia melewati pencarian yang panjang. Ia memang pemuda yang berhati lembut dan penyayang, kebenaran yang sampai padanya ia jelaskan dengan penuh kelembutan pada ayahnya, namun kelembutan dakwahnya ditolak mentah-mentah, tak hanya itu, ia terancam pembunuhan dan perajaman dari kaumnya.

Penolakan kasar dari kaumnya tak lantas mengurangi keyakinannya, Panas bara apipun  ia lewati dengan langkah yang yang mantap  bahwa Allah bersamnya. Dan alangkah cukup keyakinan itu baginya 

Di bagian yang lain, kisah keyakinan Nabi Ibrahim kembali membuat saya kehabisan kata-kata, saya membayangkan bagaimana pergulatan batin yang harus ia alami saat Allah memerintahkannya untuk membawa anaknya bersama ibunya dan meninggalkan mereka di suatu lembah yang tidak memiliki tanaman dan air. Demikianlah perintah tersebut tanpa ada keterangan yang lain. Dengan hati bergemuruh ia berjalan di tengah-tengah tanah yang penuh dengan tanaman, melewati gurun dan gunung-gunung. Kemudian beliau memasuki tanah Arab. Ia menuju ke suatu lembah yang di dalamnya tidak ada tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada air. Lembah itu kosong dari tanda-tanda kehidupan. Ia sampai ke lembah Lalu beliau menurunkan isterinya dan anaknya lalu meninggalkan mereka di sana. 

Ketika beliau mulai meninggalkan mereka dan berjalan, tiba-tiba isterinya segera menyusulnya dan berkata kepadanya: "Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di lembah ini, padahal di dalamnya tidak terdapat sesuatu pun." Ibarahim hanya diam saja dan terus meneruskan langkah tanpa menoleh pada istrinya yang terus mengulang tanya yang sama. Ia terus melangkah menjauh.

“Apakah ini perintah Allah?” tanya istrinya kemudian.

“Ya.” jawabnya pada akhirnya.

Baiklah guman hajar ‘Allah tidak mungkin menyia-nyiakan iman dan amal siapa yang berserah diri padaNya’

Kemudian, ujian lain berupa mimpi mendatangi Ibrahim. Kali ini bukan hanya meninggalkan, ia harus mengakhiri hidup buah hati yang  telah dinantinya selama berpuluh tahun dengan segenap harap dalam setiap sembah sujudnya. Keyakinannya yang mantap tak lantas menghapus rasa kasih sayang dalam hatinya, ayah mana yang mampu mengalirkan darah dari leher anak yang dikasihinya, ayah mana yang rela mengakhiri hidup anak yang telah dinantinya dengan kesabaran yang selalu dikuatkan. Kegundahan hati sang ayah rupanya terbaca oleh ismail kecil, dengan lisannya ia meyakinkan ayahnya untuk melakukan perintah Rabbnya “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Dengan keyakinan yang mantap akhirnya Nabi Ibrahim  melaksanakan perintah Rabbnya, ia mengarahkan pisau ke leher Ismail dan benarlah Allah tidak akan menyia-nyiakan keyakinan hamba-Nya, putranya ismail digantikan Allah dengan hewan sembelihan dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya." (Qs. An-Nisa': 125)

Yakin kemudian bersabarlah!!

Bekasi, 3 Dzulhijjah 1434 H

You Might Also Like

12 comments

  1. subhannallah.. yakin Allah adalah penolong terbaik.. :)
    ehh buyunkkk.. sbelum hari raya kurban d sunnahkan berpuasaq,,, sbaekx sehari sebelumx atow gmn?
    mohon petunjuk
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah di perintahkan ki memang untuk banyak-banyak beramal termaksud perbanyak puasa, yg dikhususkan itu puasa di tanggal 9 dzulhijjah (keutamaannya menghapuskan dosa setahun sebelum dan sesudahnya)..

      Hapus
  2. MasyaAllah. Jika hati sudah beriman, maka perintah apapun dari Allah, akan dipatuhi. Nabi Ibrahim adalah suatu contoh keimanan dan ketauhidan yang kokoh pada Allah SWT bagi kita, sebagai umat Islam

    BalasHapus
  3. Ngaji lagi disini ~ Totalitas keimanan yang luar biasa, suatu ketundukan dengan kesadaran yang mutlak akan penghambaan seorang hamba kepada Rabb-nya

    *cepat sembuh mbak Rahma ^_^

    BalasHapus
  4. Ya Allah . . . . berilah kasih sayang-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi kasih sayang-Mu kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya diantara makhluk makhluk-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

    Semoga Mbak Rahma cepat sembuh

    BalasHapus
  5. Udah sembuh, ini udah bisa lari-lari :D

    BalasHapus
  6. Kisah Ibrahim dan Ismail adalah sebuah wujud dari ketaklikan seoarang hamba kepada Alloh. Dengan rasa itulah seharusnya kita melakukan korban.

    BalasHapus
  7. Keyakinan yang dimaksud ini bisa jadi sesuai sabda Allah SWT ya, 'Berdoalah kamu, niscaya akan Ku-kabulkan'. Subhanallah.

    BalasHapus
  8. Subhanallah..
    terima kasih sudah diingatkan kembali kisah ini mbak rahma... salam kenal..

    BalasHapus
  9. ujian datang bertubi2., klimaksx disitu.., disuruh menyembelih anakx sendiri...

    dari Mush'ab bin Sa'id, dari Ayahnya, Ia berkata "Wahai Rasulullah manusia manakah yang paling berat ujiannya ? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu menjawab para Nabi dst.. (Riwayat Tirmidzi)

    BalasHapus
  10. makanya kenapa ibrahim diberi gelar, bapaknya para nabi....

    BalasHapus
  11. ^^
    Kalau sekarang meninggalkan istri tanpa sebab dinamakan kurang ajar tuh..

    BalasHapus

I'm Proud Member Of