Puisi untuk anakku

10.08.00

Anakku...
Senyumku membelah malam saat pertama kali aku menyapamu.
Dalam sapa khas seorang calon ibu yang menanti.

Aku masih ingat saat-saat itu.
Saat-saat dadaku membucah mengetahui engkau tumbuh dalam rahimku.
Saat-saat mencintaimu begitu mencemaskanku.
Adakah semua akan baik-baik saja, Nak?


Anakku apa kabarmu di sana?
Mengingatmu, mengingatkanku bahwa tak ada dapat melawan usia, bahwa hidup bersiap. ditinggalkan, bersiap meninggalkan.
Namun, rinduku tak juga membuatku tabah.


Rindu ini mendekap, menyekap dalam tanya, adakah disana engkau baik-baik saja?

Nak, Kenangan tentangmu terus saja menggema-gema.
Perasaan ini menjelma air mata yang jatuh berbulir-bulir.
Berlembar-lembar do'a telah kupintal.

Dalam hatiku ada ribuan harap, yang kutitipkan untukmu lewat sujud-sujud panjangku.

Nak, adakah nanti engkau akan mengenal ayah, mengenal ibu, meski mata kita tak pernah bertemu tatap?

Atau berjanjilah bahwa engkau akan menemukan kami, agar rindu ini terobati.

(Puisi Pertama untuk Ruwaifi, 4m7d meninggalnya Ruwaifi' kesayangan)

You Might Also Like

1 comments

I'm Proud Member Of