When I lost my father

14.29.00


"Kupejamkan mataku maka kurasakan hadirmu"

Saya tidak tahu harus memulai dari mana, perasaan ini adalah hal baru untuk saya. Saya ada di sini dengan hati yang belum benar-benar sembuh, sekarang, saya hanya ingin segera menulis tentang bapak agar nanti jika waktu melipat kenangan yang bergantian datang, perasaan saya pada bapak tetap begini. 

Kepulangan saya dua pekan yang lalu (Ahad 080913) adalah momen yang begitu kuatir, saya sedikit memaki waktu yang masih saja tenang-tenang, tidak perduli pada perasaan saya. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih empat jam, momen yang tadi begitu kuatir meleleh begitu saja, waktu yang tadinya diam ditempat seperti tergesa-gesa ingin mengkakhiri pertemuan saya dan bapak, bapak bangunlah. Saya mendapati rasa takut dalam diri saya menghebat saat saya melihat bapak terbaring tidak sadarkan diri dan tidak mengingat saya lagi.

Saya memandangi wajah  bapak dengan air mata yang sudah berlinang, malamnya, tiba-tiba saja kondisi bapak memburuk, walaupun lirih bapak terus saja meminta maaf kepada kami anak-anaknya. Saya terdiam, perasaan bersalah menghatamku dari segala arah, seketika saya menyadari bahwa ada banyak waktu-waktu letih yang bapak lewati sedang saya tidak berada disamping bapak, bahkan saya belum melakukan apa-apa untuk membahagiakannaya. Bahuku bergetar pelan, bapak, saya belum siap dengan perpisahan ini, sehari rasanya terlalu singkat. Ya Allah.

Saya menata hati pelan-pelan, kemudian duduk disamping bapak dan terus-terus mentalqinkan bapak. Bisa dibilang kondisi ini sangat kritis namun harapan padaNya tak juga putus asa, saya masih berharap ada keajaiban. Dan tetiba saja keajaiban itu datang, senin malam itu tiba-tiba saja bapak membuka mata perlahan, bapak menggenggam tanggan saya dengan sangat lemah, bapak belum mengenali saya.

Saya melewatkan seluruh malam itu disamping bapak, saya terus-terus memandangi wajah bapak yang mulai dimakan usia, saya tahu sel kanker dalam tubuh bapak mulai tak bisa dikendalikan. Rasa sakit yang membuat bapak tak sadarkan diri lagi pastilah rasanya sangat sakit. Selama ini tak sekalipun saya mendapati bapak lemah dengan penyakitnya, bahkan bapak sering menyembunyikan sakit ia rasakan. Saat darah mengalir deras dari hidung bapak, bapak masih saja berusaha untuk tenang. Saat sakit itu datang, bapak akan menggenggam tangan kami anak-anaknya seolah ingin menenangkan. Kesabaran bapak saat tak ada obat yang dapat mengehentikan cegukan yang bapak rasakan, bapak obati pelan-pelan dengan terus-terus mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah. 

Saya kembali terkenang pada saat bapak berdo’a sangat dalam di belakang maqam Ibrahim, pada harapan bapak untuk bisa sembuh. Ya Allah sungguh laki-laki ini dengan segala yang ada padanya telah berjuang tak mengenal lelah untuk kami anak-anaknya.

Senin pagi (090913), kondisi bapak semakin membaik, bapak juga sudah mengenali saya. Setelah kakak saya mengganti pakaian yang bapak kenakan, bapak meminta dibantu duduk. Saya menghaluskan buah untuk bapak, kemudian menyuapi bapak pelan-pelan, setelah itu saya mengajak bapak untuk sholat bersama dzuhur nanti. Bapak mengiyakaan. Sudah empat hari ini, lidah bapak mulai kelu, perkataan bapak sudah tidak jelas lagi. untuk menyapa bapak, kami harus mengulang sapa karena pendengaran bapak sudah berkurang. 

Beberapa waktu kemudian, bapak meminta dibantu berbaring dan bertanya apakah waktu dzuhur telah masuk, saya menjawab pelan dzuhur masih empat jam lagi pak. 

Sambil menunggu waktu sholat, saya mengajak bapak ngobrol.

Saya: Bapak, cepat sembuh ya, tahun depan nanti kita ke tanah suci, umrah lagi.
Bapak: Kapan kita ke sana?
Saya: Tahun depan, insyaallah
Bapak: Masih lama ya
Saya: Bulan dua, Insyaallah
Bapak: Iya (kemudian diam)
Bapak: Sama siapa kita ke sana?
Saya: Sama ibu, kak tata, kak lia, rame-rame kita kesana pak
Bapak: (diam sambil menutup mata)
Saya: Bapak?
Bapak: Nanti kita nginap di hotel yang dulu saja.
Saya: Iya, insyaallah. Bapak makanya yang kuat, cepat sembuh. (Bapak seperti mengingat lagi perjalanan umrah kami yang lalu, bapak pernah bilang ke saya, bahwa beliau ingin ke tanah suci lagi, kata beliau perjalan umrah beliau yang kemarin kurang terhayati karena selama di tanah suci bapak kebanyakan terbaring sakit)

Di tengah obrolan, salah seorang ustadz di kampung yang juga keluarga kami datang menjenguk bapak. Alhamdulillah bapak masih mengenal beliau, bapak sempat minta dido’kan, bapak juga sempat bertanya mengenai menjamak sholat untuk orang sakit pada Ustadz. 

Sudah sepuluh harian ini, bapak tidak lagi sholat karena hilang kesadaran. Saya tahu ini bukan keinginan bapak, selama ini saya tahu bapak sangat menjaga sholatnya, bahkan dalam keadaan cegukan hebat sekalipun. Sejak sakit yang bapak rasakan menghebat, ada masa-masa dimana sakit bapak hanya bisa diredakan dengan sholat, bapak saat kesakitan akan berjalan tidak tentu arah, namun saat kami menunjukan sajadah, bapak akan berdiri atau duduk dengan tenang, setelah itu bapak akan terbaring dan kembali kesakitan. Hal ini berulang, kami jadikan sajadah sebagai obat untuk bapak, tinggal tunjukan sajadah, maka otomatis bapak akan bersiap untuk sholat. Bapak bisa sholat sampai berulang-ulang dalam sehari. Mendapati ini, saya amat bersyukur, Ya Rabbana, tetapkanlah keimanan bapak hamba.

Saya: Bapak masih ingat tidak makna la ilaha illallah
Bapak: Apa?
Saya: bapak, salah satu makna la ilaha illallah itu adalah kita yakin bahwa segala penyakit itu hanya dari Allah, yang menyembukhkan juga hanya Allah.
Bapak: (hanya menggerakan alis, ini sudah jadi semacam kode untuk kami sejak bapak mulai susah berbicara)
Saya: Bapak, kalau kesakitan tinggal bilang la ilaha illallah saja,  jadi semacam kode, saya dan kakak akan segera paham kalau bapak sakit.
Bapak: (Hanya menggerakan alias)

Waktu sholat dzuhur datang, kakak laki-laki saya membantu bapak berwudhu, bapak sholat sambil tiduran di atas kursi, setelah takbiratul ihram, bapak menutup mata lama, saya tidak berani membangunkan bapak. Sorenya, bapak terbangun, dan tiba-tiba saja meminta untuk diantar jalan-jalan keluar rumah. Bapak dibopong ke dalam mobil, perjalanan sore itu rupanya menjadi yang terakhir untuk bapak.

Selasa malam, bapak terbaring lemah, namun juga tidak bicara apa-apa. Saya duduk disamping kepala bapak. Saya terus membisikan la ilaha illallah, sesekali saya mengingatkan bapak untuk mengikuti apa yang saya ucapkan. Lagi-lagi bapak hanya menggerakan alis, bapak berdzikir lirih. Malam itu saya tertidur sambil memeluk bapak, lewat tengah malam, saya terbangun dan mendapati bapak belum juga tidur, saya kembali mengingatkan bapak untuk terus-terus mengucapkan la ilaha illallah, bapak lagi-lagi mengiyakan. Air mata saya meniti, Ya Rabbana, mudahkan Bapak untuk terus-terus mengingatmu.

Selasa pagi (100913), keadaan bapak kembali kritis, namun bapak masih sempat menanyakan apakah kami masih memiliki utang, bapak juga meminta maaf pada ibu dan kami anak-anaknya. Cairan keluar dari telinga bapak, beliau juga terlihat sangat kesakitan, Saya masih berusaha untuk tenang namun ketenangan saya tidak bertahan lama setelah saya menyaksikan kakak lelaki saya menitikan air mata. Kakak saya adalah yang paling tabah diantara kami bersaudara. Pagi itu, ia seperti luruh pada duka yang telah ia tahan di depan kami adik-adiknya.

Kakak saya mengatakan pada kami adik-adiknya untuk membantu bapak berdzikir sambil ia memwudhukan bapak. Saya duduk disamping kepala bapak, saya merasakan nafas bapak perlahan berkurang, gerakan lidah bapak juga melemah, paman saya mengatakan bahwa bapak sedang mengalami sakaratul maut, saya masih berharap bahwa yang bapak hadapi hanyalah sakit biasa, tapi nafas bapak perlahan-lahan berkurang, lidah bapak masih terus mengikuti apa yang saya ucapakan walaupun sudah sangat lemah. Kaki bapak tiba-tiba terhentak, mulut bapak agak terbuka, pada momen ini saya benar-benar merasakan saat ruh mulai dari cabut dari jasad bapak. Bapak sempat membuka mata lalu menatap saya dan ibu, setelahnya bapak kembali menutup mata, dan itu menjadi yang selamanya. Saya menatap wajah bapak dengan air mata berlinang. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ya Allah, ternyata rasa perpisahan ini sedalam ini. Saya mengusap wajah bapak kemudian mencium kening bapak pelan-pelan, "Bapak kelak kita akan bertemu lagi, kebersamaan kita di Dunia ini rasanya terlalu singkat, entah bagaimana caranya, kelak saya akan mencari bapak. Tentang Keinginan bapak untuk ke tanah suci insyaallah akan saya penuhi. Ini Janji, Ya Rabanna, Ampuni kesalahan-kesalahan bapak hamba, Rahmati dan muliakan beliau, Terimalah amalan-amalan beliau, Balaslah setiap kebaikan beliau dengan balasan terbaik dari sisi-Mu" Aamiin.

**********
Bapak, waktu  bisa melewatkan apa saja dalam kehidupan ini, tapi tidak tentangmu, selama umur masih ada, engkau akan selalu ada dalam do’a-do’aku hingga Allah berkenan mempertemukan kita lagi. Jazakallahu khairan bapak.

26 September 2013



You Might Also Like

7 comments

  1. innalillahi wa inna ilaihi raji’un | semoga amal baik Bapak kak Rahma diterima Alloh swt dan diampuni dosa2nya aamiin

    BalasHapus
  2. I cried ariver. Yang kamu ceritakan di tlp saat itu saya baca kembali. Dan saya menangis lagi... Untuk kehilangan orang tersayang, maka tak ada istilah menangis itu dilarang. Kuat ya ma.... Tanah suci, janji, semoga tertepati. Lantunan do'a dari anak sholih terhadap orangtuanya maka itu jadi amal jariyah yang tak putus2. Jadikan dirimu cewek sholih(ah) ya ma.

    BalasHapus
  3. semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah..Aamiin

    BalasHapus
  4. gerimis saya, kak. Semoga kubur bapaknya kak rahmah bisa menjadi taman dari taman-taman syurga. Aamiin...

    BalasHapus
  5. Semoga ini menjadi pelajaran bagi mereka yang masih ber-ayah dan ber-ibu untuk berbakti dan menghargai keduanya serta memanfaatkan setiap detik bersama mereka.

    Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, dan para orang tua kita (pembaca-maupun penulis) yang telah wafat aupun yang masih hidup. aamiin.

    BalasHapus
  6. Innalillahi wa inna 'ilaihi roji'un. Semoga Allah memberi ayahanda tempat terindah.

    Menangis pagi2 aku membaca tulisan ini...

    BalasHapus
  7. engkau anak sholehah insya Allah saudariku... kuatkan dirimu dan jangan pernah lepas mendoakannya... doa anak sholeh-lah satu yang tidak terputus

    BalasHapus

I'm Proud Member Of