Kita ada di Pemakaman

09.34.00

100913- Saya tidak ingin menyembunyikan perasaan ini, bahwa saat saya menulis catatan ini, hati saya bergetar hebat dan hampir saja saya mengurungkan niatku, namun saya kembali terkenang pada bapak, pada masa muda yang telah ia kisahkan, pada kesabaran dan ketabahannya. Entah berapa banyak ia telah menggunakan usianya untuk kami anak-anaknya, entah sudah berapa peluh dan bulir air mata darinya untuk kami anak-anaknya. Saya terkenang lagi, pada siang dan malam yang bapak lewati untuk menjaga kami, pada madu kehidupan yang bapak dapatkan namun tanpa mencicipinya, langsung saja diberikan kepadaku, anaknya.

Sekali lagi, dalam kehidupan ini ada perasaan-perasaan yang sulit untuk digambarkan, sampai detik saya membuat catatan ini, saya masih belum bisa menjelaskan dengan baik kedalaman perasaan kedua orang tua pada anak-anaknya, perasaan seorang bapak pada anaknya. Kemudian saya mendapati pada kisah terdahulu, kuatnya keterikatan hati seorang bapak dan anaknya, perasaan macam apakah yang dialami Nabi Yaqub itu saat kehilangan Yusuf hingga kedua matanya memutih karena sedih dan daya penghlihatannya pun memudar. Padahal ia adalah Nabi yang pengenalannya pada Allah tidak diragukan lagi, namun ternyata kecintaan kepada Allah selamanya tidak akan menutup ruang dihati untuk anak-anaknya. Atau sedalam apakah perasaan Nabi kita Muhammad ketika putranya Ibrahim meninggal dunia hingga air mata beliau bercucuran. Maka semakin pahamlah saya mengapa seorang bapak rela berpayah untuk anak-anaknya, dihatinya ada cinta yang tidak dapat ditakar-takar.

Siang ini, saya semakin mengarifi, betapa kehidupan ini amat singkat dan sebaik-baik bekal itu adalah takwa, waktu yang berlalu pada akhirnya akan menghabisi kita, dan semakin jelaslah, tidak ada yang dapat mengelak dari kematian itu, tidak juga harta dan anak-anak. Saya menunduk sangat dalam menyaksikan jasad bapak yang pelan-pelan dimasukan ke dalam kubur, saya yang sangat mencintainya bahkan tak bisa melakukan apa-apa. Saya meringkuk dengan duka di bawah pohon jambu setelah memegang jasad bapak untuk terakhir kalinya, lalu pelan-pelan kubur bapak  ditimbuni tanah. Bapak, entah kapan lagi kita akan bertemu, maafkan saya yang belum berbakti. Semoga Bapak senantiasa dalam penjagaan dan lindungan Allah ta'ala. Ya Rabb Engkaulah sebaik-baik pemberi balasan, sungguh, bapak telah melakukan banyak kebaikan untuk kami anak-anaknya. Ampuni ia, jadikanlah kuburnya taman-taman syurga dengan kesejukan yang menentramkan. Aamiin.


Berbaktilah selagi bisa, sempatkanlah setiap saat untuk mengingat-ngingat kebaikan orang tua kita, agar kita semakin berupaya untuk menyempurnakan bakti, saya ingin mengabarkan padamu bahwa perasaan kehilangan ini sangatlah dalam, perasaan ini lahir bukan karena ketidak ridhaan, perasaan ini lebih pada tabiat dasar hati, seorang bapak pada anaknya, seorang anak pada bapak yang dicintainya.

Pict from here




You Might Also Like

3 comments

  1. renungan buatku juga mbak,

    BalasHapus
  2. Saya sangat setuju. Kadang sesuatu yang berharga itu baru terasa saat ia telah tiada. Maka selagi kesempatan itu ada jangan pernah di sia-siakan.

    BalasHapus
  3. Terima kasih sudah mengingatkan,kak. Tidak ada anak yg akan pernah benar2 siap hadapi perpisahan dgn orgtuanya. Kak rahmah yg tabah, ya

    BalasHapus

I'm Proud Member Of