Hal yang menggelisahkan part 7

11.47.00

Bismillah. Ini selasa sore yang tidak biasa, setelah bapak saya meninggal setidaknya saya mendapati diri saya yang dulu penakutnya ampun-ampun jadi sedikit berani. Hari ini tepat satu pekan bapak saya meninggal dunia, tidak terpikir sebelumnya tentang sore ini yang akan seperti ini, saya termangu memandangi kuburan bapak. Entah bagaimana kabar beliau saat ini?

Tadi, saya dihubungi oleh salah seorang teman saya, ia menanyakan kabar. Ditengah obrolan teringatlah salah seorang teman kami yang beberapa bulan lalu ditinggal meninggal oleh bapaknya, mengingat ini, saya terdiam lama, dulu saat menyaksikan ia yang kehilangan, saya sempat berpikir bahwa sayapun dapat bersikap sesedarhana ia yang tidak memerlukan waktu lama untuk mengembalikan tawanya. Setelah mengalami kehilangan serupa, saya harus mengakui bahwa perasaan kehilangan ini belum bisa saya sederhanakan, seorang bapak memiliki kedudukan tersendiri di hati anak-anaknya.

Waktu masih seperti kemarin, mungkin selamanya akan seperti ini, kejadian esok masih menjadi rahasia yang paling rahasia. Tidak bisa diramalkan. Saat membuat tulisan rangkaian pengurusan jenazah, saya tidak bepikir kalau saya akan memakai ilmu ini sedemikian cepat, bahkan sebelum saya menuntaskannya. Sekarang, saya memiliki banyak alasan untuk menuntaskan tulisan ini hingga selesai, salah satunya, saya ingin agar kamu (saya lebih-lebih) yang membaca tulisan ini benar-benar mempelajari pengurusan jenazah dengan sebaik-baiknya, apa-apa saja pelanggaran umum yang dilakukan masyarakat saat pengurusan jenazah, dan sesudah pemakaman, setelah itu, dakwahkan pelan-pelan pada kerabat dekat kita, adalah suatu kebanggan tersendiri untuk orang tua kita  saat pengurusan jenazahnya dilakukan dengan baik oleh anak-anaknya. Oh iya satu lagi, ilmu ini grogian, susah dipelajari jika jenazah sudah didepan mata, jangan seperti saya yang terlambat belajar dan tahu-tahu proses belajar belajar belum selesai, ilmu sudah minta diamalkan :)

Berbicara tentang kematian, kematian yang menjadi semacam cerita berulang yang gampang dilupakan padahal selalu saja mengintai dan menjadi gerbang utama alam akhirat, dari sekian banyak hal yang membuat mata saya basah saat menyaksikan proses sakratul maut bapak saya adalah karena saya ada disitu, menyaksikan bagaimana perlahan-lahan nafas itu terhenti, bagaimana tidak berdayanya jasad saat dimasukan ke ke dalam parit sempit bernama kubur. Maka, semakin teranglah kerugian bagi mereka yang lalai dalam hidup yang sementara ini.


Pembahasan terakhir mengenai prosesi penguburan jenazah dicatatan sebelumnya sudah sampai pada point ketigabelas, ini lanjutannya...

Empat belas, setelah jenazah diletakan, maka setiap muslim yang hadir disunnahkan untuk menggenggam tanah dengan tiga genggaman dan ditaburkan ke dalam kuburan. Hal ini berdasarkan perbuatan nabi shallallahu alaihi wa sallam. (HR. Al Baihaqim dihasankan oleh syaikh al albani dalam kitabnya al irwaa' (no.690)

Lima belas, disunnahkan untuk meninggikan kuburan kira-kira sejengkal agar diketahui bahwa itu adalah kuburan sehingga tidak dihinakan seperti diinjak, diduduki dll. Disunnahkan pula menjadikan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya itu seperti punuk unta karena seperti itulah kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian diletakkan batu-batu kerikil di atas kuburan tersebut sebagaimana yang dilakukan pada kuburan Nabi (HR.Bukhari) Tujuannya agar diketahui bahwa itu adalah kuburan sehingga tidak dihinakan. Kemudian diatasnya diperciki air, kemudian letakan batu di atas kuburan tepat diatas kepala mayat. Tujuannya agar dikenal sebagaimana yang dilakukan Rasulullah pada kubur 'Utsman bin Mazh'un. (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh syikh al Albani dalam ahkaamul Janaa-iz.

Enam belas, do'a setelah jenazah di makamkan, 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ.
“Ya Allah, ampunilah dia dan teguhkanlah dia“. 

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika selesai menguburkan mayat dia berdiri dan bersabda: “Mintalah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan untuknya keteguhan, karena sekarang dia sedang ditanya.“ ( HR. Abu Dawud)

Tujuh belas, disunnahkan untuk melakukan ziarah kubur untuk mendo'akan dan mengambil pelajaran. Mengenai ziarah kubur, tidak boleh mengkhusukan hari tertentu untuk berziarah kubur, tidak juga membaca Al Fatihan di kuburan. Adapun yang dilakukan Rasulullah saat berziarah adalah berdo'a untuk si mayit dan memintakan ampun baginya. Di larang keras meratapi jenazah, musti sabar :)

Delapan belas, hendaklah seorang muslim berhati-hati terhadap perilaku mengagung-ngagungkan kuburan, dilarang berlebih-lebihan dalam membuat bangunan di atasnya dengan nisan, mencari berkah, dan mengusap-ngusap kuburan karena yang demikian itu membawa pada kemusyrikan. 

Sembilan belas, diharamkan menembok kubur artinya meletakan tembok diatas kubur atau mendirikan bangunan diatasnya, atau menulisinya, atau duduk, atau bersandar padanya

Dua puluh, dimakruhkan menguburkan dua mayat atau lebih dalam satu kuburan, kecuali terpaksa, seperti karena banyaknya orang yang meninggal, sedangkan orang yang menguburkannya sedikit, jika terjadi demikian maka hendaklah dibuat pemisah dari tanah antara jenazah yang satu dengan yang lainnya.

Alhamdulillah selesai. Sebagai tambahan sekaligus saran, coba cari referensi mengenai tiga harian, tujuh harian dan hari-hari yang diperingati setelah kematian. Ilmu yang sampai ke saya, hari-hari itu tidak disyari'atkan namun begitu akrab di masyarakat kita. Musti banyak belajar lagi, Wallahu a'lam bishshawwab.

Tetap stay tune ya, masih ada satu topik lagi, jangan lupa kasih masukan atau saran atau tambahan atau apa saja..

Salam, 

Catatan dari tanggal 17 kemarin baru selesai hari ini (230913)

















You Might Also Like

1 comments

  1. Innaa Lillaahi wa inna ilaihi raji'uun..

    Turut berudaka cita.. semoga setiap hati menjadikan ini momen untuk muhasabah diri.

    Beberapa hari lalu seorang teman pernah bertanya hukum tentang 3 harian, 7 harian tersebut. Saya juga belum tahu dasarnya. Tapi pernah saya dengar itu berasal dari adat hindu. wallahu a'lam.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of