Hal yang menggelisahkan part 8

14.50.00

Bismillah, lewat tulisan ini, saya ingin berterimakasih pada kamu yang sudah ada disaat sendu-sendu seperti kemarin. Ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata dalam kehidupan ini namun air mata bisa  mewakilkannya. Barangkali ini juga yang dirasakan Rasulullah saat putra beliau Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah tak banyak berkata-kata kala itu namun air mata kemudian mewakilkan apa yang beliau rasakan. Air mata yang jatuh bukan karena tidak ridha, bukan itu, air mata itu lebih pada perasaan kasih sayang, juga kehilanggan, entah kapan lagi saya bisa bertemu dengan bapak saya setelah perpisahan kemarin. Kamu jangan kuatir lagi ya, perasaan saya sudah membaik. Alhamdulillah, janji saya untuk menuntaskan catatan ini juga akan segera lunas.

Saat sampai pada pembahasan ini, saya kembali mendapati bahwa agama kita ini mengaatur segalanya dengan manis, bahkan perasaan yang butuh pengertian mendalam pun mampu dipahaminya. Perasaan kehilangan yang dialami seseorang saat ditinggal meninggal oleh kerabatnya dipahami betul oleh agama kita hingga lahirlah sunnah yang di sebut ta'ziyah. Saya pribadi merasakan manfaat sunnah ini saat bapak saya meninggal, entah apa jadinya jika saudara-saudara seiman tak memberikan nasehat juga kunjungan saat sendu-sendu begitu. Masyaallah.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Ta'ziyah yaitu memotivasi orang yang tertimpa musibah agar bisa lebih bersabar, dan menghiburnya supaya bisa melupakannya, meringankan tekanan kesedihan dan himpitan musibah yang menimpanya”.

Berdasarkan kesepakatan para ulama, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah, hukumnya adalah sunnah. Hal ini diperkuatkan oleh hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya: Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Barangsiapa yang berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut. (HR Tirmidzi) 

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam berta'ziyah adalah,  

Pertama, disunnahkan untuk berta'ziyah kepada keluarga yang ditinggal wafat dengan mengucapkan.

أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ 


"Sesungguhnya Allah berhak mengambil apapun yang Dia kehendaki, sebagaimana Allah berhak memberikan apapun yang Dia kehendaki. Segala sesuatu di sisi Allah itu memiliki batas dan ketentuan. Hendaknya engkau bersabar dan mengharap pahala kepadaNya" (HR. Bukhari Muslim)

Sebagian ulama mensunnahkan, agar ketika melayat orang muslim yang ditinggal mati oleh orang muslim, membaca :

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاكَ وَرَحِمَ مَيِّتَكَ


"Semoga Allah melipatkan pahalamu, memberimu pelipur lara yang baik, dan semoga Dia memberikan rahmat kepada si mayit."

Kedua, dibolehkan menangis asal tidak berlebihan, karena Rasulullah pun menangis ketika putra beliau Ibrahim meninggal dunia.

Ketiga, dibolehkan bagi keluarga yang terkena musibah kematian untuk berkabung, yakni dengan meninggalkan perniagaannya, tidak keluar rumah untuk wisata atau yang lainnya, sebagai ungkapan kesedihan, Berkabung hanya dibolehkan selama tiga hari.

Adapun seorang istri wajib berkabung atas kematian suaminya selama masa iddah yakni empat bulan sepuluh hari, apabila ia tidak sedang hamil. Adapun jika ia hamil maka berkabung boleh dilakukan hingga ia melahirkan. 

Keempat, diharamkan nadah atau niyaqah atas kematian seseorang. Nadah artinya menyebut-nyebut kebaikan mayat, dengan berkata: "Duhai sepeninggalmu siapa lagi yang akan memberiku makan..siapa lagi yang akan memberiku pakaian" dan seterusnya. Adapun niyaqah adalah tangisan yang disertai rintihan menyeruapai suara burung merpati. Hal ini diharamkan karena menunjukan ketidak relaan seseorang pada takdir Allah.

Kelima, diharamkan pula merobek-robek baju, memukul pipi, mengacak-mgacak rambut dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi, "Bukan termaksud golongan kami orang yang menampar-nampir pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan suara jahiliyah" (muttafaq 'alaih)

Keenam, disunnahkan mengirimkan makanan untu keluarga jenazah jika mereka disibukkan oleh meninggalkanya salah seorang dari keluarga mereka. Hal ini berdasarkan sabdar Rasulullah ketika Ja'far bin abi thalib meninggal. 

Ketujuh, dimakruhkan bagi keluarga mayat membuat makanan bagi pelayat. Hal ini berdasarkan perkataan shahabat "Kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah kematin termaksud ratapan" (HR. Ahmad)


Khusus untuk bagian ini, saya punya sedikit cerita saat bapak saya meninggal, dikampung saya, acara meninggal begitu heboh, bantuan dari keluarga membanjir, mulai dari uang, berkarung-karung beras, berak-rak telur, berdus-dus minuman gelas, berekor-ekor ayam dan kambing bahkan ada sepupu saya yang memberikan sapi dan semua itu habis saat tepat di hari ke tujuh. Saya takjub sekaligus sedih, saya tahu itu tidak sesuai syari'at namun tak bisa melakukan apa-apa. Nah, temanku sayang, inilah manfaat kita mengetahui ilmu ini dari jauh-jauh hari agar kita bisa mendakwahkannya pelan-pelan pada keluarga kita. Akan sangat susah diterima, jika dakwah tentang pengurusan jenazah ini baru kita sampaikan saat jenazah sudah didepan mata..

Pembahasan lengkap tentang Ta'ziyah baca di sini

Alhamdulillah pembahasannya selesai, mohon koreksi ya jika ada yang terluput, minta sarannya juga ,kasih  tambahan atau  apa saja berkenaan dengan tulisan berangkai ini. Akhir kata, dan cukuplah kematian itu sebagai nasehat. Semoga tidak gelisah lagi, ilmu tentang pengurusan jenazah memang layak membuat kita gelisah jika tak dipahami baik-baik :)

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (Qs.Al-A'raf:34)

"Ya Allah, Ampunilah dosa-dosa bapak hamba, berikan rahmatMu kepadanya, selamatkan dirinya, muliakan dirinya dan luaskanlah kuburannya."Aamiin.

Sumber: Tata cara mengurus jenazah karya Syaikh Abdullah bin abdurrahman al jibrin

Salam,  

23 September 2013



You Might Also Like

4 comments

  1. Masyaallah... Semoga Ukhti tabah, ya? Kemarin ana juga mendapati salah seorang adik tingkat yang mendapati kenyataan ortunya pergi dalam kondisi tragis karena kecelakaan. Ayahnya berpulang lebih awal, dua hari selanjutnya sang Bunda menyusul. Sementara adik ini adalah anak pertama dari 3 bersaudara, dan baru kuliah di tingkat 2. Allahu akbar, akhawat yang takziyah kesana memberi kesaksian bahwa tidak ada yang keluar dari mulut adik ini kecuali ucpan-ucapan kebaikan dan pujian pada Allah. Semoga dengan semua yang kita lalui kita tahu bahwa hanya Allah saja tempat kita mengadu. Keep hamasah, Sista!!!

    BalasHapus
  2. Meskipun saya nggak bisa ta'ziyah dengan menghadirkan diri ke hadapanmu, semoga essensi ta'ziyah itu bisa terwakili secara batin yaa.. semoga Allah melimpahkan keabaran dan kebaikan yang luas buat kamu sekeluarga.

    Cepat pulih yaa Rahma :)

    BalasHapus
  3. semangat mba..doa terbaik untuk ayahnya mba..
    ilmunya sangat bermanfaat sekali untuk kami...
    :)

    BalasHapus
  4. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.. Semoga kak Rahmah sekeluarga diberikan ketabahan dan ayahTa diterima segala amalannya dan diampuni segala dosanya. Aamiin...

    Jazakillah khairan untuk sharing ilmunya kak :)
    Kak rahmah anak yang shalihah, semoga bisa terus menjadi amalan jariyah untuk ayahnya lewat doa-doa :')

    BalasHapus

I'm Proud Member Of