#gamelevel1: Jebakan-Jebakan Batman

8:21:00 PM


Menjelang usia dua tahun, perasaan ajaib yang Ruwaid rasakan ke saya, ibunya, adalah ia merasa ibunya ini bisa segalanya. Apapun bisa ia minta dan saya bisa melakukan semua hal yang dia nggak bisa. Tadinya hal ini membuat saya terharu, lama-lama bikin saya keringat ijo saat permintaannya mulai aneh-aneh dan banyak macam, mulai dari yang sederhana sampai yang bikin saya minta ampun. Berasa jebakan-jebakan batman dan saya selalu terjebak.

Pernah dia minta pakai sepatu tapi mau langsung dua pasang sekali pakai, pernah minta nyusun bola-bola (nggak bisa disusun jatoh jatoh terus, diakalin pakai gelas juga nggak mau, maunya bolanya disusun, emakampun), pernah juga minta bola boling yang jumlahnya ada delapan dimasukin toples, harus muat semua tapinya.. Ya Allah toplesnya cuma bisa muat dua biji nak), tadi pagi minta dibukain tutup botol sampo, tutup samponya tuh semi permanent nggak bisa dibuka, saya sampai buka pakai gigi, pakai gunting tapi nggak bisa, dia nggak ngerti kalau nggak bisa dibuka, pokoknya maunya kebuka. Disitu, rasanya saya pengen masuk bak, dia juga pernah minta bapaknya untuk ngejar anjing. HAHAHA. *ceritainibarusebagian.

Yang sempat bikin saya kuatir adalah gimana nih kalau Ruwaid nggak mau ngerti  kalau ada hal-hal yang nggak bisa dan nggak boleh dia lakukan, susahnya tuh dia emang belum ngerti, efeknya dia nangis dari level merengek biasa sampai guling-guling dengan suara melengking kedengaran satu RT. Pas udah gini, saya dilema, mau dikasih takut dia merasa semua bisa dia dapat, nggak dikasih dia nangis dan bikin migren saya kambuh.

Sempat kepikiran saya kayaknya harus belajar ilmu kebatinan agar bisa mengerti si bocah ini lebih dalam. Syukurnya dari dulu, dikepala saya ada mindset bahwa bukan anaknya yang nggak mau ngerti tapi saya yang belum bisa seutuhnya mengerti dia. Ini sedikit menenangkan.

Alhamdulillah, pertanyaan yang mutar-mutar di kepala saya gimana caranya ngomong baik-baik ke Ruwaid kalau nggak semua yang dia minta harus bisa atau ada mulai menemukan titik terang saat saya membaca materi pertama kuliah bunda sayang instituT ibu profesional yang saya ikuti secara online, yes, kunci untuk saling memahami adalah komunikasi produktif. Pas baca materi ini berasa banget saya komunikasi saya masih kayak blender, hehe.

Untuk tantangan hari pertama Komunikasi Produktif pas banget karena langsung dapat Ruwaid nangis guling-guling minta dibukain tutup botol sampo. Aseli nangisnya sampai sesegukan, dia tambah ngamuk karena saya angkat dia dari baskom. Awalnya saya sempat nggak sabaran, apalagi pas mulut saya yang ada sariawannya kena jotos. Saya tarik napas dalam-dalam, antara bingung karena emang tutup botol samponya nggak bisa dilepas atau dibiarin aja nangis tapi saya takut merasa dia diabaikan.

Setelah hampir 15 menitan nangis, akhirnya mulai reda, dan dia minta asi, mulailah saya praktek komunikasi produktif sambil peluk-peluk dia, langkah pertama komunikasi dengan kontak mata, mungkin karena lagi kesal mata saya ditusuk pake jarinya, trus saya tatap lagi, berikutnya saya ditabok. hahaha.

Setelah dia bangun tidur, saya peluk trus saya ajak ngobrol kalau botol samponya emang nggak bisa dibuka, trus saya bilang kalau ada hal-hal yang emang nggak bisa ruwaid dapat, nggak bisa saya lakukan untuk dia. Responnya, dia diam-diam, nggak ngerti deh dia paham atau enggak maksud saya. Tapi senggaknya saya udah coba untuk mengajak dia bicara dan saya mulai belajar komunikasi produktif.

Selama ini sebenarnya saya udah tahu dikit pentingnya komuniasi sama anak, tapi biasanya karena mau cepat, saya kadang skip ngobrol-ngobrolnya, biasanya juga saya udah merasa duluan si anak diajak komuniasi juga nggak ngerti, jelas ini salah besar, yang saya rasain di hari pertama #gamelevel1 komunikasi produktif adalah berasa nabung kebiasaan baik pada anak, kebiasaan 'nggak selalu yang menurut saya baik yang akan kami lakukan, tapi harus ada kesepakatan'. Memang saat ini dia seperti belum mengerti apa yang saya bicarakan, tapi saya percaya ada yang nyangkut di jiwanya :)

Salam,

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of