Apa kabar tarbyah, masihkan ia membuatmu rindu?

14.14.00

Tarbiyah. Pertama kali mengenal tarbyah saat saya menjadi mahasiswa baru jurusan Teknik Elektro Universitas Hasanuddin, tahun 2006. Sebelum itu mendengar istilah ini pun belum pernah. Untuk duduk dalam lingkaran tarbyah saya melewati banyak lika-liku yang menguji kesabaran para murobbi saya kala itu. Lingkaran yang saya ikuti pun tidak hanya satu, setiap ada yang mengajak maka saya akan mengiyakan. Alasan saya mengiyakkan tidak lebih karena perasaan tidak enak seorang anak baru pada seniornya, mengiyakan bukan berarti menampakan diri, hehe, janji-janji partai, mengiyakan tapi enggak kelihatan batang hidungnya.

Memasuki semester dua perkuliahan saya mulai kepo-kepo, dari tiga lingkaran tarbyah yang saya datangi mulai terasa perbedaannya. Disinilah awal kali saya mengenal harakah. Harakah? apaan? nggak terlalu ngerti juga. hehe. Sampai akhirnya salah seorang kakak murobbi menyuruh saya memilih, mau aktif di lingkaran yang mana. Kenapa harus memilih? nggak terlalu ngerti juga. Pilihan yang saya jatuhkan pun bukan karena karena ajaran yang di usung oleh masing-masing kakak murobbi. Pilihan saya jatuhkan karena melihat akhlak murrobi saya waktu itu. Bukan berarti yang duanya nggak berakhlak, namun sependek pengamatan saya kala itu, murobbi yang saya pilih lingkaran tarbyahnya adalah yang paling sabar, dan selalu membuat saya berhasil nganga-nganga saat beliau menjelaskan tentang agama ini.

Mulailah saya mengenal istilah akhwat-ikhwa. Yang awalnya sempat bikin keder, akhwat, afwan, dan ikhwa itu hubungannya apa? sodaara jauh ya? Upss.. jalan nunduk-nunduk pun ikut-ikutan saya lakoni, jalan sampe nggak  konsen. Mulai belajar menundukan pandangan :)

Bisa dibilang hidayahlah yang mendatangi saya. Jika melirik kelakukan yang lalu, ya ampunggg, saya ini tidak ada pantas-pantasnya diberi hidayah, kehidupang duniawi banget. Masih menjadikan 'mood' sebagai tuan, paling kreatip nyari alasan saat di ajak tarbyah, pahadal kalau urusan kampus demam stadium empat juga tetap saja di sambangi. Ya Allah :)

Memasuki semester empat perkuliahan, asrama tempat saya bernaung mengalami penggusuran. Mulailah saya mengembara mencari kost dengan bayaran murah tapi kualitas bintang lima, mana ada, semua yang pas di kantong penampakannya sungguh mengerikan, setelah berkelana dari hulu ke hilir kampus akhirnya takdir membawa saya pada Apondok orange, harga sesuai kantong, tapi alamak jauhnya dari dari fakultas, bedak ampe meleleh. Keadaan ini memaksa saya untuk rajin-rajin mampir di ATM, gaya-gayaan mau ngambil uang, sok-sok masukin atm padahal cuma ngadem doang. Di pondok orange saya dipertemukan dengan teman-teman sejawat yang sealiran, dan juga kami penghuni pondok orange adalah anggota fans club muadzin di masjid samping kostan :)

Kepo deh, siapakah gerangan muadzin bersuara emas itu.

Hari-hari pun berlalu, dan tidak sekalipun kami melihat wajah sang muadzin. Kalaupun berpapasan ia selalu pake helm. Nyadar kali dia bahwa ada mata-mata jahat yang mengintainya. Satu-satunya 'klu' dari sang muadzin adalah tulisan di jaketnya "UKM LDK MPM UNHAS"

Apaan lagi itu? kata teman saya waktu zaman-zaman ospek, sempat ada pengenalan UKM ini. Kok beta nggak  tahu ya? ngana serius kah? *eksperesi kepo*

Gayung bersambut, di kampus saya dapat undangan untuk mengikuti SII 1 (Studi Islam Intesif) yang di adakan UKM LDK MPM UNHAS. Disinilah, iya disinilah awal mula saya mengaetahui kenapa saya harus bertarbyah. Kehadiran saya sebagai peserta SII 1 begitu membekas di hati, ditambah lagi saya dijadikan salah satu anggota LDK MPM UNHAS.

Inilah awal mula saya serius tarbyah walaupun masih saja sering bolong-bolong. SayaMulai terlibat dalam kegiatan-kegiatan dakwah. Saya juga mulai mengerti perkataan seorang alim yang terus saja membaca al qur'an meski tak tahu maknanya, al qur'an itu dapat menyembuhkan. Begitupun dengan interaksi yang mulai rutin saya lakukan dengan tarbyah dan dakwah, meskin tidak saya hayati, tapi pelan-pelan mengubah alur hidup saya. Eh ternyata akhwat, afwan, sama ikhwa enggak sodaraan. hehe

Selanjutnya mulailah saya memasuki gerbang kehidupan baru, apa-apa mau diberantas. Anarkis binggo. Ini nggak boleh, itu nggak boleh, keluarga saya sampe heran-heran, ini anak kesurupan setan mana sih. Setelah waktu berlalu, saya mulai mengerti bahwa dakwah dan penyampaiannya butuh metode, dan metode itu harus berpulang kepada cara Rasulullah.

Tarbyah bisa dibilang begitu mewarnai kehidupan saya. Majelis-majelis ilmu mulai membuat saya jatuh cinta, saya mulai mencintai ilmu, dan penasaran dengan kisah-kisah generasi terhadulu. Saya Mulai berela-rela menempuh jarak untuk mendatangi majelis ilmu, hati pun mulai mudah tersentuh dengan nasehat,  pakaian saya kenakan pun mulai berevolusi. Celana jeans, baju sempit-sempit mulai saya tinggalkan. Jilbal lebar mulai mengulur menutupi dada. Puncaknya saya memutuskan berjilbab besar beberapa bulan sebelum wisuda. Mengenai jilbab lebar ini, jauh sebelumnya saya sempat bilang ke diri saya bahwa modelnya nggak oke, Rahma jilbab kamu yang sekarang sudah oke<----- Bisikan syaitan. hehe. Perubahan prilaku dan pola pikir pun mulai saya upayakan. Aduh mulut silet ini, entah sudah berapa yang tersakiti dengannya. Ya Allah ampuni dosa-dosa mereka yang pernah tersakiti dengan lisan saya ini.

Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Waktunya meninggalkan kampus. 

Dan perjuangan mempertahankan hidayah bermula di titik ini dan jilbab lebar itu kini di uji. Saya  melihat beberapa teman yang dulu berjilbab besar kini lebih modis dan dengan gaya yang tidak lagi 'sederhana' bahkan beberapa ada yang terpangkas, entah karena tuntutan dunia kerja atau karena iman yang lemah, keadaan di tempat kerja seakan menjadi kondisi darurat yang membolehkan ini itu. Saya pun mulai memilih model yang cocok untuk saya pakai ke tempat kerja, agar tidak terlihat 'kampungan' atau lain sendiri.

Dan tarbyah, mulai menjadi nomor kesekian, alasannya apa lagi kalau bukan kesibukan di dunia baru (tempat kerja). Pelan-pelan mulai merasa tercukupkan dengan rekaman ceramah, keutamaan mejelis ilmu tidak lagi menggetarkan hati.

Pergulatan ini sempat saya alami di awal-awal memasuki dunia kerja. Alhamdulillah, tidak sampai tenggelam, karena pertolongan Allah lagi-lagi mendatangi saya. Tidak jauh dari tempat kerja saya ada pusat Radion Rodja. Di tempat ini kembali saya menata hati, dan bangkit dari keterpurukan hati yang sungguh tidak mudah. Setelah berlalu sekian bulan tidak mendatangi lingkaran rutin tarbyah, rindu itu kembali bersemi. Saya mulai mencari informasi untuk tarbyah lagi, dan masyaallah, murobbi saya di sini adalah murobi saya waktu zaman kuliah dulu, beliau juga pindah ke Jakarta.

Awal kali ketemu.. beliau langsung bilang "Ini Rahma yang selalu dicari-cari keberadaannya saat lingkaran tarbyah di mulai" hehe. Beta jadi keki. hehe.

 ****
Demikianlah, hari ini sudah empat bulanan saya tidak mendatangi majelis tarbyah, bukan karena tidak ingin hanya saja kondisi kehamilan yang mulai berat dan jarak yang jauh, membatasi aktivitas, tapi sungguh saya sangat merindukan lingkaran-lingkaran ukhuwah itu, sangat rindu pada kisah-kisah sahabat yang setiap kali diceritakan, saya selalu merasa bahwa kisah itu baru pertama kali saya dengarkan.

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga.(HR Muslim)

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya, dan menetapkan hati ini dalam ketaatan. Aamiin.

Gambar dari sini

12 Mei 2015

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of