Teristimewa..

10.39.00


Hari ini satu tahun umur pernikahan kami, jika pendewasaan cinta harus diperhadapkan pada waktu, maka satu tahun masih sangat sebentar untuk sekedar belajar mengeja makna cinta. Sampai detik ini dan mungkin sampai nanti saya tidak akan pernah merasa tercukupkan dengan definisi cinta yang hanya melibatkan perasaan tanpa ada upaya. Upaya yang selama ini saya pikir hanya terus memberi dan memberi, namun nyatanya dalam cinta penerimaan jauh membutuhkan upaya lebih, menerima ia yang tidak sempurna atau bahkan kurang bukanlah perkara mudah saat kita sudah berharap lebih. 

Sebenarnya saya punya pilihan lain untuk tidak menulis banyak hal tentangnya, cukup saya menyimpannya di hati saja. Tapi, saat menyadari akan masa dimana ingatan tidak lagi sama untuhnya maka saya segera bergegas menulis ini. Saat saya mengingat bahwa kenangan seperti waktu yang tidak dapat diulang maka keinginan saya untuk untuk memiliki mata dan telinga yang canggih agar bisa merekam semua yang saya dengar dan lihat darinya semakin tidak tertahan.

Saya mengenalnya delapan tahun yang lalu pada pamflet yang ditempel sepanjang koridor jurusan, pamflet ucapan selamat atas terpilihnya ketua mushola jurusan teknik elektro Universitas Hasanuddin. Hanya Sepintas lalu saya membaca pamflet itu, lalu waktu berjalan cepat, dan hari ini satu tahun umur pernikahan kami. Jika melihat kebelakang, ada rentetan takdir yang kadang tidak saya mengerti, namun satu tahun ini membuka hati saya untuk terus dan terus berparasangka baik padaNya yang terlalu banyak memberi.

Maka satu tahun ini, cinta mengajarkan saya pada arti penerimaan pada apa yang dicinta, baik buruknya juga lebih kurangnya, lapang sempitnya, dan susah senangnya

******


Setahun yang lalu kami menikah dengan acara kecil yang sederhana, tidak ada pelaminan, musik, dan juga pakaian mewah. Dari semua acara nikahan yang pernah saya hadiri, pernikahan kami terbilang paling 'biasa', hehe. Karena mati lampu, saya sampai tidak mengingat wajah penghulunya. Suasana kemudian menjadi syahdu  saat orang-orang mengucapkan kata ‘Sah!’ secara bersamaan, saya merinding di detik itu. Tangis haru pecah dan kebahagiaan tumbuh di mana-mana. Langit dan bumi seperti sedang bergemuruh dalam bahasa sederhana. Laki-laki yang saya kenali lewatu pamflet itu kini menjadi suami saya.

Orang-orang mengatakan bahwa kami mirip, muka jodoh katanya. Saya hanya tersenyum mendengar ini. Hampir lima tahun kami mendiami jurusan yang sama, tapi terlintas pun tidak bahwa dialah orangnya, pernah beberapa kali saya mendengar orang-orang membicarakannya, kala itu saya tidak ingin tahu lebih banyak, saya sesekali melihatnya berjalan cepat, dengan wajah yang menunduk. 


Hari-hari berlalu dengan cepat, hari ini satu tahun umur pernikahan kami, satu tahun yang membuat saya banyak bersyukur dan jatuh cinta pada upayanya untuk menjadi lebih baik. Kadang saya harus tertegun lama menyaksikan ia banyak mengambil tugas rumah tangga dipertemuan-pertemuan singkat kami. Ia menggantikan saya mencuci pakaian, selepas makan piring saya diangkatnya tanpa beban, saat saya terbatuk ia dengan sigap mengambilkan minuman, tak jarang kami harus ngotot-ngototan karena ia memaksa mengambil sapu. Untuk apa ia melakukan semua itu, tanyaku? Katanya dengan lembut, saat ini saya belum bisa membelikanmu apa-apa, hanya dengan cara ini saya membahagiakanmu. :’( 


Hari ini satu tahun pernikahan kami, kami lewati hari-harinya dengan mimpi yang terus saja menyala. Kami menyimpan banyak mimpi, list tempat yang ingin kami kunjungi, barang-barang yang ingin kami beli, juga nama-nama yang akan kami beri hadiah jika ada rezki. Kadang kami sengaja mendatangi supermarket untuk melihat-lihat mesin cuci, teflon, kursi, dan gelas yang ingin kami beli dibulan-bulan berikutnya.  

Hari-hari berlalu dengan cepat, perjalanan rumah tangga kami tak selalu bertabur bunga, adakalnya kami berbeda pendapat, satu tahun ini mengajarkan banyak hal tentang bahagia yang tidak melulu serasi, tidak melulu cukup, tidak melulu romantis, dan tidak melulu bersama.

Hari ini satu tahun pernikahan kami, lewat tulisan-tulisan yang pernah saya buat untuknya,  saya kembali menengok apa yang telat kami lewati. Demikianlah, saya sangat mencintainya. Saya selalu tersenyum setiap kali mengingat senyumnya, ia yang teristimewa di hati.

Dimana lagi aku temui laki-laki semacammu?
Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, hafalanmu pun kadang kulambung jauh.
Tapi, dimana lagi aku temui laki-laki seikhlasmu?
Wajahmu tak gagah melulu, nafkah darimu kadang tak mencukupiku.
Tapi katakan kepadaku, dimana lagi aku jumpai laki-laki sesabar dirimu?
Kau tak pernah mengangkat suara, juga mengeluhkan perangaiku.
Aku benar-benar tidak tahu, kemana lagi aku mencari laki-laki sebaik dirimu?

*Karena saya gak bisa bikin puisi akhirnya saya contek puisi Sataro GK untuk istrinya dengan sedikit perubahan versi saya. Puisinya sangat menginspirasi, Terima kasih*

Gambar dari sini

14 April 2015


You Might Also Like

2 comments

  1. so sweet. hehe
    wah pake acara mati lampu? hihi... pasti tambah mengharukan.
    memang sebaik2 pernikahan adalah yang sederhana, gak usah liat ke atas, papan atas heee... sederhana itu islam. Yang penting sah :)

    Aku mau tanya, kenapa mirip? ketemu di manakah kak rahma dan suami? asli sama2 Makasar?
    Jawab *penasaran dot com hehe

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaykum an nur.. katanya wajah kami mirip.. hehe... beliau senior saya di kampus.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of