Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah

11.20.00

Salah satu kebiasan yang rutin saya lakukan dengan suami adalah ngobrol panjang kali panjang, hehe, ada macam-macam cerita dan semuanya selalu berkesan untuk saya. Kadang karena sudah kebanyakan cerita, cerita yang sama pun berulang, tapi anehnya disetiap cerita berulang itu selalu ada rasa yang sama, tidak ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan padahal pake nelpon murahnya udah habis. Hehe. 


Ahad dua pekan yang lalu suami saya membagi materi daurah yang ia dapat dari salah seorang syaikh, tema daurahnya bikin saya kepo.

“Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah”

Pasti sudah ada bayangan kan, pemuda seperti apakah gerangan yang akan syaikh ceritakan. Walaupun saya sudah ada sedikit bayangan tapi kepo yang saya derita tak kunjung berkurang. Setelah suami saya pulang dari daurah, saya langsung menelpon dan memintanya untuk membagi hikmah yang ia dapat. Masyaallah ceritaya panjang sekali kaka.. Tapi ada banyak hikmah di dalamnya. Silahkan dibaca, enjoy!

Daurah dimulai dari kisah perang Uhud. Pada perang ini, banyak sahabat yang syahid.Ketika itu Rasulullah Shallu alaihi wassalam mendatangi setiap pasukan yg wafat dan masih hidup. Beliau mendatangi satu per satu untuk memberikan semangat dan juga mendoakan.Langkah beliau terhenti saat melewati jenazah salah seorang shahabat,beliau shallallahu alaihi wa salam meneteskan air mata dan mendoakan untuknya kebaikan yang banyak. Sahabat itu adalah musha’ab bin umair

Mush’ab bin umiar, siapa yang tidak mengenal pemuda ini, tampan, ramah, kaya raya, pakaian yang dipakainya merupakan yg terbaik di zaman itu. Hampir seluruh kenikmatan dunia ia dapati dihadapannya, namun ketika islam datang, ia harus memilih, kemikmatan itu kah atau Allah dan Rasul-Nya? Mus’ab bin umair dengan teguh hati memilih Allah dan Rasul-Nya.

*****
Setelah masuk islam mush’ab bin umair mmeninggalkan semua kesenangannya, bahkan ibu yang sangat ia cintai pun ia tinggalkan. Bersama Allah dan Rasul-Nya mush’ab bin umair tumbuh melewati hari-hari ketaatannya sampai ia menemui syahid.

Lalu mengapa kira-kira syaikh mengangkat nama mush’ab bin umair sebagai contoh pemuda yang tumbuh dalam ketaatan.

Tunggu, sebelum jauh...

Bayangkanlah, seorang  mush’ab bin umair sebagai seorang pemuda yang...

Cakep,

Tajir,

Ramah dan sopan,

Rapi dan wangi,

Barang tentengannya pun bredid-brendid euy..

Anak kesayangan

Apa lagi yang kurang, tinggal berleha-leha menikmati hidup. Nah, disinilah keutamaan mush’ab bin umair, ia meninggalkan semua kenikmatan itu karena cintanya yang mendalam pada Allah dan Rasul-Nya. Para shahabat tak tahan untuk tidak menitikan air mata setelah hijrahnya mush’ab bin umair, pemuda necis dengan pakaian serba wah itu kini hanya mengenakan jubah kumal yang setiap bagiannya penuh tambalahn, di akhir hayatnya, kain yang ia kenakan tak cukup untuk menutupi jasadnya. :’(

Dari kisah mush’ab bin umair kita bisa mengambil beberapa kriteria pemuda yang tumbuh dalam ketaatan.

Pertama, Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apapun. Dari potongan kisah mush’ab bin umair kita mendapati hubungan mush’ab dan ibundanya yang manis, tidak terbayang bagaiamana pergulatan batin mush’ab saat harus memilih, namun iman itu telah kokoh dalam hati, Allah dan Rasul-Nya yang utama.

Kedua, Memahami hakikat kehidupan dunia dan akhirat. ..

Mush’ab bin umair menjadi contoh yang sempurna dalam perkara ini. Andai beliau tidak mengecap kenikmatan dunia, maka barangkali kisah hijrahnya tidak akan menggetarkan jiwa mereka yang membaca kisahnya. Masyaallah, keputusan mush’ab untuk meninggalkan kenikmatan yang sudah menimangnya tidak lain karena pemahaman yang utuh bahwa kehidupan akhirat itu lebih kekal.

Ketiga, Sabar.


Sabar itu ada 3 .

1. Sabar di atas kebenaran.

Kisah dr mushab bin umair ketika ibu tercinta mogok makan agar mushab meninggalkan islam pastilah menimbulkan pergolakan batin. Tapi beliau sabar di atas kebenaran sekalipun orang yang paling dicintainya menjadi penentang yang utama.

2.Sabar terhadap takdir Allah dalam melaksanakan ketaatan.Barangkali untuk yang biasa hidup susah sabar dalam kesusahan jadi berasa biasa, nah ini mush’ab bin umair, hidupnya enak-enak terus, setelah hijrahnya, kesabaran adalah warna utamanya.

Sabar dlam menjaga kebenaran yang telah diterima.

Keempat, Jujur kepada Allah dalam ibadah (mengamalkan)

Kelima, Teguh diatas kebenaran sampe akhir hayat.


Terakhir... “Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (yaitu) diantaranya adalah Pemuda yang tumbuh dalam keadaan (selalu) beribadah kepada Allah.

******
Terima kasih Adi Nugraha untuk ceritanya, semoga kita bisa menjadi pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, dua orang pemuda -suami istri- yang tumbuh dalam ketaatan.


Gambar dari sini

23 Maret 2015

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of