Enam hal yang harus diketahui dalam masa ta'aruf :)

10.38.00


Bulan ini saya mendapat beberapa undangan pernikahan, termaksud beberapa tanya dari teman-teman yang baru melangkah ke jenjang perkenalan“dulu waktu mempersiapkan pernikahan apa-apa saja persiapan saya, apa-apa yang saya korek dari calon pasangan saya”



Karena konsep pernikahan impian saya adalah yang sederhana maka persiapannya pun nggak ribet, alhamdulillah kala itu calon suami saya juga seiya sekata, kami sama-sama mengusung tema ‘sederhana’ jadilah benar-benar sederhana sampai foto nikahan pun nggak ada yang pake ekting pegang-pegangan tangan atau semacamnya, jekrak jekrek  dari beberapa fotografer amatiran, dan jadilah kenangan pernikahan kami sebagian banyaknya hanya ada di hati.

Untuk pasangan yang melangkah ke pelaminan lewat perkenalan singkat (baca: taaruf/ pakai perantara murabiyah (pihak ketiga)) pasti menyimpan banyak tanya yang kadang susah dibahasakan,mau cepat-cepat nikah aja. Nah setelah menikah pertanyaan yang mengganjal tadi terjawab sendirinya, alhamdulillah, kalau sesuai harapan, yang dikuatirkan saat jauh dari harapan, kalau nggak, bisa jadi ini mengundang prahara dalam rumah tangga, belum lagi kalau sudah merembet ke keluarga, jadi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan ‘diskusi atau mencari tahu keadaan’ calon pasangan kita sangatlah penting. Lalu apa saja yang harus dicari tahu (ada  banyaak... Scara kepo begini) hehe, ini beberapa hal yang penting dicari tahu sebelum menikah, ini baru sebagian ya :)

1. Agama

Jelas harus seiman ya. Fokus untuk point ini adalah gimana baik tidaknya agama pasangan kita. Gimana akhlaknya dan penjagaannya pada ibadah-ibadah rutin, Kalau ibadahnya aja di jaga, apalagi kamu. Nanyanya jangan ke orangnnya langsung ya. Yang Tidak kalah penting adalah pemahaman dia untuk hal-hal yang sudah kita ketahui hukumnya dalam agama, nanyanya bukan untuk ngetes tapi menyeleraskan pemahaman, kalaupun beda senggaknya kita tahu dari awal.

Pemahaman butuh diselesaraskan karena kebersamaan bukan cuma sehari dua hari, dan bukan cuma berdua saja, nantinya akan ada anak-anak yang akan membawa pemahaman orang tuanya, ada dakwah yang kita usung :)

Masalah lain untuk mereka yang sudah ikut kajian adalah saat ‘datang’calon yang tidak satu pengajian atau organisasi.

Untuk yang enggak sekufu alias beda tempat kajian pembahasan mengenai ngajinya kedepan gimana harus dibahas baik-baik, karena bisa jadi kecenderungan dari pasangan ingin mengajak pasangannya ngaji ditempat yang sama. Perbedaan ini juga bisa jadi akan berpengaruh ke rencana-rencana dakwah kita, tapi tidak harus jadi penghalang justru jika dikomunikasikan dengan baik akhirannya bisa saling melengkapi. Dari pengalaman saya dan suami yang ‘beda’ ada banyak pelajaran, yang tadinya dilihat beda alhamdulillah bisa saling melengkapi, khazanah keilmuan pun bertambah. Jadi, perbedaan tempat kajian nggak harus jadi penghalang.

2.Ilmu

Sepenting apa tarbyah/ halaqoh rutin pekanan buat dia?

Bagian ini nggak kalah penting karena ada juga suami-suami yang melarang istrinya untuk rutin bertarbyah tiap pekannya. :)

Dari point ini kita bisa lihat semangat dia dalam menuntut ilmu agama, dalam rumah tangga ilmu memiliki peranan yang sama pentingnya dengan makanan kita. Menikah ada penyatuan dua rimba, kebayang kan kalau nggak kompak. :)

Lalu gimana kalau yang datang ini nggak ngaji, masa lalunya juga suraamram? Ini butuh kepo yang mendalam. Hehe. Langsung menghakimi juga nggak baik, karena bisa jadi si dia sedang jatuh bangun memperbaiki diri, dan berharap kamu bisa menemani.. *tsaaah* ini harus dipertimbangkan baik-baik kaka .

3. Visi keluarga islami yang dibawa pasangan kita..

Kalau ditanya visi keluarga islam, kamu akan jawab apa?

Dulu waktu ngurus-ngurus surat ke KUA saya sempat ditanya sama bapak penghulu apa tujuan pernikahan untuk saya. Sempat keder juga sih ngejawabnya padahal dalam kepala udah ada setumpuk tujuan saya menikah.

Visi keluarga muslim idealnya terencana sejak dalam pencarian pasangan hidup, karena tercapianya visi-visi dalam rumah tangga adalah hasil kerja sama suami istri, maka nggak salah ya kalau ada yang terkesan milih-milih dalam penentuan pasangan hidup.

Dari buku inspirasi rumah cahaya.. Ada beberapa visi keluarga muslim,diantaranya.
  • Menyejukan pandangan mata, penyenang hati, darinya bisa timbul sakinah mawaddah wa rahmah
  • Pemimpin bagi masyarakat bertakwa, lahir generasi pejuang.
  • Terjaga dari apa neraka
  • Bersama hingga ke syurga
Lewat pertanyaan ini, kita jadi punya bayangan tentang pasangan kita, kalau pun nggak sama bisa diskusikan. Setelah menikah langkah selanjutnya adalah merencanakan bagaimana mencapai visi tersebut.

4. Pekerjaan dan Financial

Point ini bukan karena kita matre, terbuka tentang kondisi kerjaan dan keuangan sejak awal perkenalan akan sangat berpengaruh pada kesiapa jiwa, siap saat berkekurangan, mau berbagi atau tidak? Berbagi utang dan cicilan :D

Dulu suami saya mengirimkan proposal lamarannya beserta data penghasilannya. Jadi dari jauh-jauh hari saya sudah tahu berapa penghasilannya si dia. Jadi saya tidak punya alasan apa-apa untuk menuntut ini itu pada suami sebab dari awal saya sudah tahu. Hal ini insyaallah menutup satu pintu syaitan dalam rumah tangga.

Tidak bisa dipungkiri bahwa urusan finansial adalah salah satu urusan yang paling sensitif dalam pernikahan. Satu hal yang perlu diingat, jika suami dan istri sudah dipersatukan oleh pernikahan tentunya rejeki yang didapat oleh masing-masing merupakan rejeki pasangan.

Bagaimana setelah menikah, apakah istri masih boleh bekerja diluar rumah?

Ini harus ditanyakan sebab ada beberapa type lelaki yang pantang membiarkan istrinya bekerja di luar rumah.

5. Tempat Tinggal atau domisili nantinya

Setelah menikah akan tinggal dimana? Tinggal pisah dengang orang tua atau gimana? Atau LDR an dulu kah?

6. Keluarga/ Nasab

Penting sekali dicari tahu, bukan cuma sekelas atau tidak, mengingat tidak sedikit prahara antara menantu dan ibu mertua. Kebanyakan yang mengalami prahara ini adalah menantu perempuan. Alhamdulillah dari hasil ‘kepo’saya tahu dari awal kalau suami saya lengket dengan ibunya, tipikal anak kesayangan mama. Jadi saya sudah mempersiapkan diri saat suami saya lebih mengutamakan ibunya dalam beberapa hal. Rasanya tidak mungkin seorang menantu cemburu ke ibu mertuanya ya? Eits jangan salah kaka... Sangat buanyakkk..kisah disinetron-sinetron itu buanyak di dunia nyata. Banyak istri yang sewot saat suaminya ngasih uang ke orang tuanya.

Untuk point ini ilmulah pendukungnya, bagaimana agama mengajarkan bakti pada orang tua. Setelah menikah bisa di diskusikan bagaiman agar birrul walidain bisa seimbangan kepada kedua belah pihak keluarga.

Terakhir, ingat selalu bahwa tidak ada rumah tangga yang sempurna, istrimu bukan bidadari,suamimu pun bukan malaikat, hal-hal yang tidak sesuai  itu pasti akan ada dalam berumah tangga.

Point di atas adalah sebagian hal yang saya tanyakan ke suami sebelum kami menikah :)

Semoga di mudahkan!
6 Maret 2015

You Might Also Like

2 comments

  1. assalamualaikum ukh, blog nya keren bikin nambah wawasan tentang taaruf :D hehe
    mau tanya ukh, boleh kah kita taaruf dengan seseorang yg pernah kita lihat sebelumnya? seperti satu ta'lim? tetapi tak pernah berbicara atau berkomunikasi(media sosial/telp/sms) berbicara hanya seperlunya, itu pun tentang agama... mohon penjelasan nya, terima kasih :)

    BalasHapus
  2. assalamualaikum ukh, blog nya keren nih jadi tambah wawasan tentang taaruf :D hehe
    mau tanya ukh, boleh kah kita taaruf dengan seseorang yg pernah kita lihat sebelumnya? seperti satu ta'lim? tetapi tak pernah berbicara atau berkomunikasi(media sosial/telp/sms) berbicara hanya seperlunya, itu pun tentang agama... mohon penjelasan nya, terima kasih :)

    BalasHapus

I'm Proud Member Of