Revisi kesekian

09.57.00


Ini untuk kali kesekian saya membuat revisi dalam proposal hidup saya. Setelah hampir setahun ini, saya mendapati disekian banyak lembar rencana hidup yang telah saya tulis disitu hanya ada saya dan keluarga yang akan saya bina nanti, tentang kedua orang tua saya hanya ada beberapa baris saja. Mata saya sempat berlinang semoga ini bukan bibit lupa yang telah mengakar dari jauh-jauh hari, saya ingin sesegera mungkin merencanakan masa tua untuk ibu saya. Maka hari ini untuk mereka, Wahai Uwais Al qarni semoga kita bisa berbagi syurga.

Saya merasai setelah memasuki usia dewasa, perlahan kehadiran mereka tergantikan orang-orang sekitar saya, ditambah kesibukan dan rencana-rencana masa depan. Mengingat merekapun hanya sesekali, tanpa tersadari saya semakin menjauh dari mereka, bukan hanya fisik tapi ikatan hati pun mulai saya kendurkan. Ini hanya saya karena saya yakin bahwa kasih orang tua tetap saja begitu, waktu tak kuasa mengubahnya.

Ingatan-ingatan masa kecil tentang mereka seperti terkikis satu-satu, saya bahkan baru tahu bahwa waktu masih bayi, ibu saya harus membawa saya kemana-mana karena saya terus saja menangis, hampir empat puluh hari saya tak sekalipun diturunkan dari gendongan ibu.” Kakak saya pernah bilang kalau “ibu itu selalu tidur larut malam karena memikirkan kamu sendiri disitu” saya merasa bersalah saat mengingat lagi betapa ibu tidak pernah sekalipun membeli perhiasan saat saya kuliah dulu, semua untuk kuliah saya.

Kenangan tentang bapak terlampau banyak “dulu bapak tak sekalipun menolak permintaan anak-anaknya, bapak bisa betah dengan baju itu-itu saja asal kami anak-anaknya bisa memakai pakaian yang layak” atau “Bapak rela berhemat-hemat bahkan untuk makan pun dibatasi tapi saat kami merengek meminta uang jajan, beliau mudah saja memberikannya”

Hari ini kurang sepuluh hari, tiga bulan sudah bapak meninggalkan kami sekeluarga, dan hampir setiap hari saya mengingat betapa saya belum memberikan apa-apa untuk beliau. Rasanya saya ingin sekali dilemparkan ke momen di mana saya bisa ngobrol santai dengan bapak saat ke kebun, saat belajar memancing untuk pertama kalinya, saat bapak begitu setia mengajari saya mengendarai motor.”

Untuk ibu, saya tidak ingin menunggu berumah tangga untuk menyesali momen yang telah terlewati, saya tidak ingin menunggu bagaimana sakitnya persalinan dan terlambat menyadari betapa melahirkan itu adalah pertaruhan nyawa. Betapa saya tidak ingin menyesali bakti yang terlambat untuk membalas kasih tak berujung darinya.

Saya sering menyesal saat mendapati diri saya yang kadang tidak sabaran saat ibu menanyakan banyak hal ke saya padahal pertanyaan itu tak lebih dari kasih beliau yang tidak sekalipun cuek. Awal bekerja, saya sempat berpikir bahwa dengan mengirimi ibu uang bulanan itu sudah cukup membahagiakan beliau, namun nyatanya ibu bahkan tidak sekalipun menanyakan uang itu setiap menelpon, ibu tidak perduli apakah saya mengiriminya atau tidak, yang ibu ingin tahu apakah saya baik-baik disini.

Maka kali ini, revisi proposal hidup saya akan saya siapkan halaman khusus tentang mimpi-mimpi saya untuk kedua orang tua saya. Saya akan berupaya mendakwahi ibu saya dengan dakwah tauhid yang sudah saya ilmu, saya akaan menyampaikan ke ibu bagaimana cara berwudhu dan sholat yang Rasulullah contohkan, saya akan bersabar mengulang ejaan ayat-ayat al qur'an saat penghlihatan ibu mulai terganggu, pelan-pelan saya akan menemani masa tua ibu dengan menceritakan kisah sahabat Rasulullah, saya akan menceritakan kisah dua khalifah yang ibu kenali lewat makamnya di masjid Nabawi sana. Saya akan berusaha dengan segenap upaya agar bisa memakaikan ibu dan bapak mahkota di akhirat nanti tersebab memiliki anak yang menghafal al qur’an. Aamiin

Saya akan mempelajari bagaimana masa tua terlewati, hingga saya dapat bersabar saat merawat ibu. Ini bukanlah soal sederhana, namun saya ingin mempelajarinya. Jika kemarin saya begitu bersemangat mempelajari parenting maka kali ini, disebagian hidup saya akan luangkan untuk ibu saya, untuk menyiapkan bekal membersamai masa tua beliau. Berada disamping beliau saat keriput mulai menjalari tangan yang dulu menggendong saya tanpa keluhan, berada disamping beliau saat kaki yang dulu selalu kuat mulai ringkih, saya berharapa dimasa-masa itu saya bisa berada disamping beliau, bersama membersamai sampai titik terakhir kehidupan. Aamin.

Dan tak lupa, semoga saya bisa menjadi anak yang membahagiakan orang tua di akhirat nanti, saat para orang tua terheran-heran dengan derajat mereka yang melambung tersebab anak sholeh yang selalu mendo’akan. Semoga nanti, saya, ibu, bapak, dan kakak-kakak saya bisa keliling syurga bareng-bareng. Aamiin

Terakhir, saya berharap kelak suami saya mendukung ini, hingga kami dapat bersama-sama merawat orang tua kami, bahu-membahu meraih surga dengan segenap bakti pada orang tua. Aamiin.

Desember awal 2013



 

You Might Also Like

3 comments

  1. so touchy kak.. semakin dewasa mmg seharusnya kita semakin menyadari bhw hidup memang bukan hanya tentang diri kita sendiri :-)

    BalasHapus
  2. Semoga Impian-impiannya tercapai..

    BalasHapus
  3. Ukhti.... sangat benar sekali, jangan tunggu nanti utk ortu kita... pengalaman memiliki ortu yg sdh renta dan sakit2an, benar2 butuh ilmu utk birul walidaini, karena kita bs sj punya niat baik, sdh diusahakan maksimal, maka ujian kita adl keistiqomahan, apakah kita bsanggup merawat ortu spt mrk merwat kita dimasa kecil, karena ortu yg renta dan sakit2an itu melebihi anak kecil. Ujian kesabaran, keikhlasan akan selalu dihadapi urk mencapai puncak ibafah yaitu istiqomah.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of