Willing to be simple

13.49.00

Dulu, di blog ini, saya menyiapkan kolom khusus untuk puisi, waktu itu saya berencana mau rajin bikin puisi. Namun, setelah lewat setahun ternyata hanya satu puisi saja yang berhasil saya tulis, itupun noraknya ampun-ampuanan, manja-manja gak jelas gitu. haha. Epenkah. Bakat emang gak bisa boong. *puisinya sudah saya hapus, beserta kolomnya*

Eh tahu-tahu pagi ini saya kecantol puisi di efbi, sebenanrnya kalau tidak dipakekan lebel puisi, pasti saya nggak ngeh kalau itu puisi scara puisi yang beredar di dunia maya biasanya memakai bahasa yang bersayap, yang ini beda, kata-katanya sederhana, gampang di mengerti, gak musti mutar otak untuk memikirkan maksudnya, tapi hati pembaca dibuatnya bergetar, ada sesuatu dibarisan kata itu, saya terpesona pemirsa. hehehe. yayaya, ini puisi yang saya suka. Bungkus aahhh, akhirnya saya menemukan definisi puitis versi saya. Satu kata. Sederhana! 

Tentang sederhana dalam berkata-kata, harusnya saya menyadari betapa pentingnya hal ini sejak awal menulis di blog, biar gak usah nyesal karena sudah berlebay-lebay.. hehe. malu euy kalau mengingat tulisan yang dulu-dulu, walaupun tidak terang-terangan, selalu saja ada niat untuk menghias kata dengan rona-rona puitis, mau sok-sok an gitu, mau dibilang pintar, sok intelek, sok pake istilah elektrik, pamer mau nunjukin kalau bisa nulis yang syahdu-syahdu, bahasanya bermajas-majas pula, sampai pohon pun bisa melambai, mata bisa berbicara, hati bisa bergemuruh, jiwa bisa tertawa... hahaha. *ke laut aja lu* padahal bobot tulisannya tidak lebih berat dari sebiji kuaci.

Sebenarnya apa tujuan dari baris kata-kata yang kita rangkai? ini pertanyaan pamungkas untuk menghentikan kelebaian. Untuk membuat orang paham, bukan? bukankah akan lebih bersahaja jika memudahkan orang untuk cepat paham ketimbang ngiler karena terpesona duluan tapi sebenarnya gak ngerti, ini maksudnya apa sih? :D *capek deh*

Selanjutnya, siapa yang ingin kita pahamkan, kita atau pembaca? *pertanyaan sangat penting* saya pribadi, saat menulis sesuatu, saya pastikan betul bahwa saya paham apa yang saya tulis, artinya, output yang saya inginkan adalah memahamkan pembaca. Nah, bagian ini nih, saya sering lupa, sangking sibuknya memoles kata, saya sampe terluput untuk memikirkan si pembaca kira-kira paham tidak dengan tulisan saya ini. *tapi ada juga yang menulis untuk jalan keabadian katanya* beda orang beda maksud, makanya kita musti tahu tujuan kita menulis itu apa? Kalau untuk sok-soakan yah berarti gak masalah walopun lebay dan susah dimengerti. :D

Keinginan untuk menghias kata-kata bisa dibilang 'centil juga' kali yak? tujuannya untuk menggoda atau menarik perhatian. Contoh mudahnya, kita ambil hijaber gahul yang jilbabnya sampe susun tiga, kalung menjuntai sampe pusar, lipstik mengkilap, pipi merah merona, lengkap dengan anting-anting yang dipaksa masuk ke sela-sela hijab. Konon tujuan hijaber gahul ini sangat baik, mereka ingin agar syariat hijab lebih menarik, banyak peminatnya, namun apa yang terjadi kemudian, hampir bisa dipastikan kalau maksud dari hijab yang sebenarnya itu tidak terhayati. Apa coba tujuan berhijab? salah satunya kan untuk menghindarkan diri dari pandangan liar, dengan style yang sudah saya sebutkan, yang ada bukannya menghindari tapi mengundang woooww. Nah, 'kata-kata' juga demikian, oke, sudah berhasil dihias, mampu membuat orang berdecak kagum, tapi apakah maksudnya benar-benar sampai? sama halnya dengan hijab kata-kata pun butuh penyederhanaaan. Balik lagi, apa tujuan kita menulis?

Contoh kongkritnya, kita ambil dari Nabi kita, pernah tidak berpikir bagaimana jadinya kalau perintah dalam agama ini datang dalam bahasa yang rumit, susah dimengerti, pastinya kita jadi bingung, sederhana kaya gini aja kita masih sering malas-malasan, apalagi perintahnya sampai dengan kalimat yang ribet. Alhamdulillah Nabi kita tercinta sejak awal mula, sejak beribu-ribu tahun yang lalu sudah mengajarkan bagaimana harus berkata-kata, sederhanakan! Perhatikan hadits-hadits yang sampai pada kita, adakah yang membuat kita mengerutkan kening dulu untuk paham? nggak ada!Kalaupun mau dibilang puitis maka pada setiap hadits Rasulullah saya mendapati kedalaman tata bahasa, kata-kata beliau shallallahu alaihi wa sallam sederhana tapi maknanya dalem banget, sangking dalemnyanya tidak sedikit hadits yang membuat kita mewek terharu. Keren! 

Walaupun agak terlambat menyadari ini, tapi saya bersyukur segaknya saya masih sempat sadar, segera hentikan keinginan untuk memoleh-moles kata. Sederhana saja! Pastikan apa yang kamu (rahma) tulis bisa dipahami dan bermanfaat, minimal untuk dirimu (Rahma).

Gak ada maksud SARA ke mereka yang suka nulis puisi.. hehe.. tetap lanjutkan saja. beda orang beda seleraa :)









You Might Also Like

3 comments

  1. hahahahahhaa...

    buyung emang sech kalo d poles kata2x kadang kitapun sendiri bingung bacax...

    maksih banyak udah mengingatkan

    tetap menulis & bermanfaat
    :)

    saya juga uda menghapus catatan di fbku yg lebay..
    ckckckc

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah. jangan ko bilang, saya saja kadang bingung apa kah ini yang saya tulis.

      Hapus
  2. Assalamu'alaikum Mbak Rahmaa, salam kenal :)

    I'm so into youuuuu *dateng2 langsung lebai hihi*
    Somehow I find most part of my soul & thought in your writting ;*
    Cuma bedanya adalah Mbak Rahma bisa menuliskannya dengan cantik & tetap simple sementara kalau saya hanya muter2 di hati dan kepala *males bgt mau mulai nulis he..*
    Keep on writing & inspiring ya Mbak :)

    BalasHapus

I'm Proud Member Of