Mengaku baik.. tunggu saja ujianmu :p

09.20.00

Tuhan tahu betul bagaimana memperlakukan orang tidak sabaran seperti saya ini. Caranya mudah saja yakni dengan terus-terusan membuat saya tidak sabaran. Untuk saya ujian kesabaran ini di mulai dari urusan remeh temeh semisal urusan kaos kaki yang bertukar pasangan sampai urusan pasangan hidup. hahaha. Pagi ini, kesabaran saya di uji dengan kasus ringan, jari saya tidak bisa diajak kompromi untuk finger print padahal sudah masuk injury time, sedikit lagi saya akan kena potong gaji tapi sidik jari saya tidak juga terbaca, saya menggerutu tidak sabaran. Saya paham betul bahwa saya sedang di uji dengan hal ini. Satu-satunya masalah, ya itu, saya tidak sabaran. Ujian kesabaran ini akan naik kelas tingkat kerumitannya saat saya 'menampilkan'  diri sebagai orang sabar atau 'berusaha' menyabarkan diri padahal dalam hati saya menanggung kejengkelan tingkat dewa. 

Hal ini terus saja berulang dan baru saya sadari akhir-akhir ini seiring seringnya saya menggunakan kata sabar untuk orang lain. Untuk orang lain sedang pada diri sendiri gagap pengamalannya. Sabar untuk saya pribadi hampir menyentuh semua sisi kehidupan yang saya jalani, tampa andil orang lain sekalipun saya masih saja di tuntut bersabar. Untuk urusan dengan Tuhan yang sifatnya pribadi begitu saja saya harus menyabarkan diri dengan kesabaran yang sering tidak bisa saya tanggung, belum lagi melibatkan orang lain dan memasuki ranah-ranah perasaan. Pelan-pelan saya menyimpulkan bahwa penderitaan adalah nama lain dari  ketidak sabaran. Saya sering 'merasa menderita' karena tidak sabar. :p (mati ko naah) kabar lainnya bahwa di mana ada ujian pasti kesabaran di tuntut, sedang hidup adalah rangkai ujian jadi siap-siap saja menderita seumur hidup jika tidak sabaran.

Baru ujian kesabaran saja sudah merepotkan begini, belum lagi ujian yang lain, belum lagi ujian dari pengakuan-pengakuan 'palsu' yang saya kemukakan, belum lagi ujian dari apa yang keluarkan dari mulut dan apa yang saya tuliskan, banyak ujian. Saya pernah mendengar bahwa ujian hidup itu bisa datang dari apa yang kita katakan atau tuliskan. Dan benar saja, Saya mengalami ini. Hal ini mulai terasa saat saya berbagi nasehat dengan seorang teman tentang menjaga pergaulan. Tema pembicaraan kami adalah pacaran dilarang agama, Saya memberikan penjelasan panjang kali panjang. Kami  juga sempat membahas adab-adab dan efek dari pergaulan yang tidak terjaga.

Saat itu, saya berada diposisi yang memberikan nasehat. Kemudian, tanpa diminta, ujian pergaulan mendatangi saya. Untuk ujian ini, rasanya, saya ingin lari ke hutan lalu belok ke pantai kemudian memanjat pohon. Berat. Pelajaran nomor wahid, "buktiin omongan lu, jangan omong doang." hahahah. Disini, saya seperti mendapat wangsit untuk hati-hati memberikan nasehat. Untung saya tidak kapok. Idealnya. setiap nasehat yang keluar dari lisan-lisan kita harusnya adalah upaya perbaikan diri. Rasanya aneh saja, jika nasehat yang kita berikan kepada orang lain justru tak menyentuh hati-hati kita. 

Di lain hari, Saya membuat pengakuan pada seorang teman tentang rencana Tuhan yang selalu lebih baik. Sebenarnya pengakuan saya ini mengandung misi untuk meyakinkan dia, untuk menghilangkan kesedihannya. Kemudian, tak menunggu musim berganti, ujian dari pengakuan saya tempo hari datang menghadap. Saya diuji dengan rentetan kejadian yang lari jauh dari rencana yang sudah saya tulis di tembok. Saya mendapati diri saya hampir tak lolos ujian, saya masih sering mengeluh dan meragukan rencana Tuhan. Saya belum mampu bersabar.

Di kesempatan lain, Ujian kesabaran benar-benar menghadang. Pembahasan tentang sabar tiba-tiba saja naik daun. Saya banyak bicara tentang sabar, janji-janji manis untuk mereka yang bisa bersabar membuat saya bersemangat untuk mengamalkan perkara ini. belum lagi, keberuntungan untuk orang yang bisa bersabar serasa ada dipelupuk, begitu dekat. Saya mulai membangun kesabaran-kesabaran kecil. Ujian kesabaran muncul satu-satu, ujian kesabaran ini kemudian naik kelas. Pada tingkatan tertentu, Saya mendapati diri saya masih kurang sabar, saya bisa bersabar untuk keadaan yang tidak baik dalam keadaan kenyang. namun, Saya bisa esmosi tingkat dewa untuk keadaan yang sama dalam kondisi lapar. Kesimpulannya, sabar dan lapar berhubungan erat. hahaha. Beruntunglan mereka yang bisa bersabar. Makaan dulu sanaaa..

Pernah juga, Pembahasan dakwah  menguasai obrolan. Semangat saya berlari cepat, saya mulai menyusun rencana, menulis tentang dakwah, dan  berbagi nasehat. namun, rupanya, pengakuan tidak akan pernah dibiarkan mengaku dengan tenang, harus diuji dulu. Ujian tentang dakwah datang berupa permintaan untuk berkorban. di bagian ini, saya mendapati pengorbanan saya belumlah sungguh-sungguh, terlalu banyak pertimbangan. Saya harus mengakui bahwa nilai-nilai dakwah belum meresap baik kedalam hati saya. Lagi..lagi saya belum bisa bersabar.

Minggu lalu, ini tentang penyakit yang diderita oleh sebagian perempuan yang ada di Jagad Raya ini, Suka bercerita. Saya sudah berniat untuk tidak membicarakan kelemahan orang lain. Rencana baik ini terlaksana dengan sukses saat saya mendekam seorang diri di dalam kamar, dan tahu apa yang terjadi pemirsa, sesampai di tempat kerja, gosip-gosip murahan artis pun ikut menggoda saya, dan lagi-lagi saya tidak bisa menahan mulut untuk ikut berkomentar. Mata dan mulut seperti kompak menjadikan saya tidak sabaran. Saya seperti lupa dengan rencana baik untuk tidak lagi membicarakan kelamahan orang lain.

Kejadian-kejadian yang saya ceritakan di atas adalah ujian dari sebagian pengakuan saya yang lalu-lalu. Selamanya pengakuan saja tidak akan pernah cukup. Jika berani mengaku sholeh (PD tingkat dewa) maka tunggu saja pengakuanmu akan di uji sampai kamu terbuktiis sholeh atau ditampakanlah kalau dirimu hanya sekedar ngaku-ngaku aja. Jika sudah mengaku beriman, maka siap-siap saja, Ujian pasti akan datang, untuk menguji seberapa tangguh pengakuanmu. Oke, saya mengaku belum bisa bersabar. :D

Satu lagi, orang baik, orang sabar, orang sholeh yang aseli biasanya tidak mengaku-ngaku. Jadi, kalau ada yang ngaku-ngaku, yakin saja itu palsu. :D

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabut: 2-3)
 
26 Desember 2013
Pengaruh ngantuk , aliran arus jadi terbaca aliran sesat -_-'







You Might Also Like

1 comments

  1. jadi inget kisah yg seorang tokoh sufi terkenal.. beliau juga mendapat teguran karena dirinya merasa sudah beriman. :D
    tak menyangka kejadian2 tak terduga saat ucapannya dan hatinya tak tepat :D

    BalasHapus

I'm Proud Member Of