#DearBapak

13.15.00

Bapak, apa kabar di sana? di sini hujan sedang keras-kerasnya, petirnya juga tidak mau kalah saingan. Ibu baru saja menelpon, beliau bercerita banyak tentang bapak, ibu mengingatkan saya kalau hari ini bapak sudah tiga bulan meninggalkan kami, beliau mengira kalau saya lupa pada hari ini. Akhir-akhir ini saya coba menahan diri untuk tidak membicarakan bapak, bukan karena saya sudah lupa sama bapak. Bukan, selamanya saya tidak akan lupa pada bapak, ingatan saya pada bapak tidak akan berubah walau arah angin berubah haluan, walau bumi terbalik sekalipun. Insyaallah. :)

Bapak, kemarin kak lia memimpikan bapak, katanya dalam mimpi itu bapak kelihatan baik sekali, sayang kita dipisahkan pagar. Kita ngobrol banyak dalam mimpi itu. Kata kak lia, dalam pertemuan itu bapak sangat bahagia, kelihatan sangat rindu dan terus saja memeluk kami, bapak juga bertanya kami kemana saja. Bapak, sejauh ini saya selalu menganggap bahwa kita memang hanya berpisah sebentar, nanti kita akan bertemu lagi. Saya sering berpikir, apakah setelah meninggal nanti kita masih bisa merasakan kangen pada keluarga kita di dunia. Semoga bapak baik-baik di sana, kami di sini baik-baik saja. :)

Bapak, musim hujan tahun ini pas mantab, pohon mangga yang kita tanam dulu tumbuh subur, anak-anak yang dulu pernah memangkas daunnya sudah saya omeli habis-habisan, hehe. Saya juga mengancam mereka dengan kepalan tangan. hehe. ancamannya berhasil. Setiap pulang kerja saya selalu menyempatkan diri untuk melirik pohon mangga kita, saya berharap pohon mangga itu bisa segera berbuah, rindang, dan dinikmati banyak orang. Katanya, pohon juga termaksud amal jariyah, semoga bisa untuk bapak.

Bapak, saya yang pelupa begini, kalau tentang bapak apa-apa bisa saya ingat, saya bisa mengingat banyak hal tentang bapak, dan tahu-tahu air mata saya jatuh. hehe. manjo.. *bukan buyung banget ini* hehe. Bapak maafkan saya kalau selama kebersamaan kita ada kata-kata yang nggak sopan dari saya. Terimakasih banyaaaak karena sudah sangat baik pada saya. Jika anak-anak lain bisa mengingat hal-hal tidak baik dari orang tuanya. Maka demi Allah tidak ada satupun hal tidak baik yang saya ingat dari bapak, semuanya baik, sangat baik bahkan. Bapak seperti bapak sungguh luar biasa. I love you full

Bapak, kemarin saat merapikan dompet, saya menemukan kartu pengobatan bapak selama di dharmais. Saya amat bersyukur karena saat bapak bolak-balik RS kita sealalu bersama-sama, bisa sering berpegangan tangan, dan saling mengkuatirkan. Kata ibu, bapak pernah bilang kalau mengingat saya yang jauh disini bapak jadi tidak nafsu makan karena kuatir, saya terharu saat tahu hal ini. Kekuatiran saya yang dulu begitu hebat barangkali tidak ada apa-apanya di bandingkan bapak.

Bapak, bulan februari nanti, tepat satu tahun jarak kita dengan kenangan kemarin saat berumrah. Saya bisa meler kalau mengingat lagi momen kiat berthawah sambil pegangan tangan, saat kita keliling mal di sekitan masjidil haram, saat saya menabrak jama'ah turki itu dengan kursi roda bapak, saat kita sholat di trotoar, hehe, saat kita duduk melihat-lihat ka'bah, saat saya membasuh muka bapak dengan air zam-zam. Saya sangat bersyukur karena Allah memilih saya diantara sekian banyak kakak saya untuk umrah bersama bapak, padahal kak tata uangnya lebih banyak, hehe, Alhamdulillah Allah memilih saya.

Bapak, tahu tidak ibu sering sekali menceritakan bapak, saya sering pura-pura santai kalau mendengar cerita beliau. Beliau benar-benar kehilangan bapak. Karena Ibu saya jadi tahu kalau hubungan suami istri itu memang tidak main-main, anak-anak boleh mencintai orang tuanya, tapi istrilah yang setia membersamai dalam keadaan perih sekalipun.Kepergian bapak benar-benar mengajarkan saya banyak hal, betapa kematian selalu saja membawan pesan tentang hidup yang begini, pada akhirnya setiap jiwa akan merasakann kematian itu, sekalipun seluruh penghuni bumi ingin menghalangi, sekalipun tembok-tembok yang tinggi ingin memagari, sekalipun hati menghiba-hiba untuk di tunda barang sesaat.

Bapak ternyata bukan kematian itu yang kemarin membuat saya sedih sampai sakit kepala, hari itu hati saya mendadak kosong *sampe kena type saya* hehe. Bukan kematian itu pak, sebab saya paham betul bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti untuk setiap kita, hanya saja waktunya masih dirahasiakan dan bapak ditakdirkan lebih awal. Sejauh ini saya mendapati, penyesalan lah yang sering membuat saya mewek, mengapa dulu tidak lebih menghargai kebersamaan, mengapa dulu tidak berbakti dengan sebaik-baiknya, mengapa dulu tidak membersamai lebih lama, mengapa dulu tidak bertutur lebih baik, mengapa dulu saya tidak sering-sering memberi bapak hadiah, dan masih banyak lagi penyesalan. Keadaan ini sungguh tidak mudah untuk diselesaikan, saya tidak bisa sesegerakan mungkin menata hati, tapi seperih apapun perpisahan selalu saja mengajarkan betapa berharganya kebersamaan.

Bapak, saya sudah berjanji untuk tidak boleh lagi mengulang kesalahan yang sama, ke depan saya kan lebih menghargai kebersamaan, berbakti dengan sebaik-baiknya, tidak meninggalkan duka di hati ibu dan kakak-kakak saya. Jarak kita saat ini terlampau jauh akan sia-sia saja meskipun ditempuh dengan kecepatan cahaya sekalipun. Tapi, do'a pasti sampai.

Bapak, sebulan yang lalu mbak sum cerita kalau bapak sengaja membayarkan uang muka motor saya sebagai kado ulang tahun. Hari itu saya teler seharian di tempat tidur, selama ini saya mengira kalau bapak tidak mengingat hari lahir saya, ternyata saya salah, bapak bahkan menyisipkan hadiah. Saya sering dejavu kalau pulang kerja, yang biasanya bapak membukakan pagar, sekarang tidak lagi. oh iya pak, sekarang saya tidak penakut lagi, saya kadang ngarep biar ada jin yang muncul menyerupai bapak di depan saya. hehe.

Bapak, saya punya rencana besar akhir bulan january nanti.. hehe.. *bapak jadi orang pertama yang mendapat bocoran* saya belum bilang ke Ibu. bisa kepo tingkat dewa orang serumah kalau saya cerita dari sekarang. Semoga semua berjalan sesuai rencana, harusnya di hari itu ada bapak juga. :'(
 

Bapak, semoga bapak baik-baik di sana, semoga Allah berkenan mengabulkan do'a-do'a saya untuk bapak, semoga kita bisa bertemu lagi. Aamiin. :'(

10 Desember 2013



You Might Also Like

4 comments

  1. Untuk Bp. Mba rahma; Allahumma Ighfirrlahuu warhamhuu Allohumma hijaaballahu minannaar wa sitrollahu minannaar Amiin..

    *dan untuk rencanya mudah2n Allah memudahkan dan mengindahkan mba :)

    BalasHapus
  2. "Jarak kita saat ini terlampau jauh akan sia-sia saja meskipun ditempuh dengan kecepatan cahaya sekalipun. Tapi, do'a pasti sampai"

    Benar Mbak.. doa anak sholeh/sholehah untuk orang tuanya pasti sampai..

    Oh, iya bagi yang kehilangan orangtua, saya punya ebook #yatimbahagia. Isinya bukan bahagia menjadi anak yatim tadi bagaimana menghibur anak yatim agar bahagia. Semoga bisa bermanfaat.

    (bisa di dwonload gratis di blog saya)

    BalasHapus
  3. Dear bapak..
    Subhaanallooh, mengalir air mata ini, karena diri ini juga sudah ditinggalnya untuk menemui Allah. Dan sebentar lagi yakni 4 hari lagi adalah genap satu tahun/haul meninggalnya Bapakku. Alloh Kariim. Semoga Allah menempatkan tempat terindah untuk bapakmu dan bapakku. Mba pernah berumroh dengan bapanya, tapi kalau ana pernah bermimpi bertemu bapakku yang Insya Allah itu adalah di Masjidil Haram Makkah.

    BalasHapus
  4. bih hug utkmu...smoga rencananya dmudahkan. :)

    BalasHapus

I'm Proud Member Of