Tegar Di Jalan Hijrah

9:19:00 PM


Beberapa hari yang lalu saya dan suami ngobrolin hijrah. Obrolan jadi kemana-mana padahal awalnya hanya membahas artis-artis yang memutuskan untuk berhijrah. Saya mengingat lagi kisah hijrah saya (ganti ukuran hijab) yang jatuh bangun, sampai sekarang juga masih jatuh bangun ngelurusin hati. hehe

Setelah obrolan kami, kalau diingat-ingat hijrah yang dulu itu nggak mudah, mulai dari memaksakan diri ikut kajian sampai hanya ikutan karena rasa nggak enak, mulai paham tentang hijab yang harusnya nggak boleh dililit, nggak rame, dan tentunya menutup dada. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengganti ukuran hijab. 

Selanjutnya saya pontang panting, hehe, antara kuat nggak kuat, menyesuaikan kelakuan sama ukuran hijab. Mau balik ke kebiasaaan lama, rasanya malu sama hijab, mau ngecilin hijab lagi juga rasanya malu, dititik ini berasalah apa yang Allah firmankan dalam Al Qur'an bahwa kita nggak mungkin dibiarkan setelah mengatakan sudah berhijrah tanpa di uji.  Hal ini nggak mudah untuk saya, apalagi kelakuan sebelumnya masih seenaknya aja.

Dalam perjalanan hijrah, saya mulai paham ngegedein hijab hanya langkah pertama dalam perjalanan hijrah saya, selanjutnya saya harus belajar menata hati saya, untuk pindah ke apa-apa yang Allah suka dan ninggalin apa-apa yang Allah nggak suka. Ini nggak mudah, dan saya rasa bagian inilah yang tersulit mengingat kecenderungan manusia emang banyak suka sama yang Allah larang.

Dengan setengah hati, takut nggak kuat dengan pilihan berjilbab gede saya tetap melanjutkan langkah, Dikit-dikit saya mulai ngerti kenapa kakak-kakak berhijab lebar, bercelana cingkrang kalau jalan suka nunduk-nunduk, nggak jelalatan. Saya mulai belajar benarin bacaan al quran yang belepotan dengan huruf hijaiyah yang masih suka ketukar-tukar. Saya baru tahu ternyata dengar musik dilarang agama, bukan masalah melalaikan atau enggak tapi dilarang. Oh ternyata dibonceng sama yang bukan mahram itu nggak boleh ya.

Dalam urusan hijab pun terasa nggak mudah menyesuikan diri, saya berasa makhluk asing saat ngelirik ukhty ukhty dengan hijab mereka yang nggak rame sedang hijab saya bunga-bunga. Hijab mereka lebar banget dan polos, hijab saya banyak banget penitiya plus ada bros segede gabang. Manset untuk menutup ujung lengan yang untuk saya kala itu bikin gatal tapi mereka nyaman-nyaman aja. Kaos kaki yang menurut saya bikin repot mereka perjuangkan walaupun harus berbecek-becek. Malah ada sebagian yang bercadar padahal dengan wajah yang mereka punya, mereka bisa eksis dan punya fans club. Saya suka pakai sepatu lucu-lucu, mereka suka sepatu polos-polos. Saya suka keluar malam nyari makanan di warung area kostan, bahkan nggak sungkan makan di pinggir jalan, menurut mereka itu enggak 'baik'. 

Ngomong seenakknya aja sama lawan jenis, itu nggak boleh kata ukhty. Ini awal kali saya tahu kalau hijab bukan cuma kain untuk menutup aurat tapi juga menjadi pembatas dengan lawan jenis. Nggak boleh sering ke mol, di mol banyak ikhtilatnya (campur baur). Nonton di bioskop kalau bisa nggak usah, selain banyak iktilatnya, ada musik-musik juga, lagian nggak ada kebutuhan yang urgent banget di sana. Enggak boleh pajang-pajang foto di medsos takutnya ada yang terfitnah, ini bukan masalah cantik apa enggak, tapi setan itu pintar memoles. Ya Allah ternyata hijrah gini amat ya? 

Suatu hari dikajian saya dengar cerita hijrah keluarga Yasir yang berdarah-darah, kisah hijrah Mush'ab bin umair, dan kisah hijrah Bilal. Abdurahman bin Auf seseorang yang kaya raya setelah hijrah ke Madinah nggak punya apa-apa. Seiring waktu saya tahu bahwa hijrah memang butuh pembuktian. Hal ini jauh meresap ke hati para shahabat dalam hijrah mereka, saat di uji mereka paham bahwa saat memutuskan untuk berhijrah pasti akan diuji.

Jadi teori yang saya ceritain di atas sedang berusaha saya praktekan juga, hehe, ingat hijrah yang dulu setengah hati jadi tambah berat karena nggak berilmu. Untuk jadi baik itu emang harus dipaksain dulu, mudah-mudahan seiring berjalannya waktu bisa dinikmati. Sambil terus belajar saya pelan-pelan memperbaiki yang selama ini saya tahu belum benar di diri saya, walaupun sebenarnya masih sering jatuh pada kesalahan yang sama. Hijrah memang begini, nggak gampang. Kalau gampang pasti hadiahnya bukan syurga tapi payung cantik. 

Doa saya selalu, semoga terus bisa menetapi jalan hijrah ini, menikmati jatuh bangunnya yang kadang saya bikin-bikin sendiri. Saat menengok ke belakang hijrah bukan sekedar ngedein hijab terus selesai, karena banyak yang ngedein hijab lalu dikecelin bahkan sampai dibuka karena hijrahnya hanya sampai disitu. Setelah hijab ternyata ada banyak lagi yang harus dipelajari, bagaimana menata hati karena nggak akan istiqomah iman seseorang sampai istiqomah hatinya, dan untuk bisa menata hati nggak akan bisa dilakukan kalau nggak rajin datang ke majelis ilmu.

Hijrah saya yakini pasti banyak jatuh bangunnya, hari ini bisa semangat banget, besoknya loyo-loyo , tapi saya ingin selamanya berada di jalan hijrah. Soal hijrah setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi baik dari hari ke hari, karena ukuran baik dalam agama adalah takwa, takwa di hati bukan yang lain.

 “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi 'ala diinik”...  Aamiin.

You Might Also Like

1 comments

  1. terimakasih infonya sangat bermanfaat, kunjungi http://bit.ly/2oRxd3w

    ReplyDelete

I'm Proud Member Of