Menjadi Minimalis

2:18:00 PM


Selama ini saat ngomongin kerjaan rumah sering saya dengar ada yang bilang bahwa 24 jam nggak cukup untuk menyelesaikan segalanya di rumah.  Awalnya saya menganggap hal ini agak berlebihan. Setelah memutuskan di rumah saja mengerjakannya semua sendiri saya baru tahu rasanya, rasanya memang wow.

Hasilnya saya sering terbawa emosi karena merasa 24 jam hidup saya hanya untuk kerjaan rumah dan nggak ada waktu untuk diri sendiri. Seiring berjalannya waktu (ceileh) saya sadar sendiri kalau bukan waktunya yang nggak cukup tapi sayanya yang keseringan main alias nggak bergegas saat anak lagi tidur tapi malah ikutan tidur.

Jujur aja saya sempat syok saat awal-awal resign, saat harus mencuci dua baskom per dua hari sekali, nyetrika tumpukan cucian setinggi gunung uhud, masak berulang-ulang, beresin rumah yang nggak beres-beres. Dulu selama kerja kantoran semua urusan rumah saya serahkan ke Mba Sum, makanya sekarang setiap kali nyetrika pasti deh saya ingat Mba sum. 

Karena takut mengalami penuan dini akibat kelelahan ngurus ini itu, setiap kali anak tidur kerjaan saya kalau nggak ikutan tidur adalah mikir gimana ya biar saya bisa senang-senang aja melakukan semua kerjaaan di rumah walaupun capek tapi mood tetap happy. Pasti kalau curhat ke teman-teman yang udah jago ngurus urusan rumah bakal dinasehati untuk ikhlas, haha. Makanya saya memilih merenung seorang diri, walaupun berat akhirnya saya akui kalau akar masalah kelelahan tak bertepi (ciee) karena saya belum pintar manajemen waktu dan perasaan, yang kedua saya belum ketemu cara beres-beres yang asik, ketiga saya masih suka nyimpan barang yang nggak saya butuhin banget dan ini menjadi sebab rumah berantakan padahal udah diberesin, padahal lagi tempat tinggal kami nggak luas tapi kok susah rapinya ya?

Untuk alasan pertama, manajemen waktu dan perasaan, sering berantakan karena pas Ruwaid bobo eskpektasinya mau beresin rumah, masak, nulis, dan lain-lain. Kenyataannya keseringan ikutan tidur juga. Ini jadi PR banget untuk saya karena manajemen waktu yang nggak baik bikin mood berantakan dan kurang tidur. Salah satu hal yang saya lakukan untuk mengatur waktu adalah membuat semacam daily list yang jadi prioritas saya hari itu, komitmennya nggak ngelirik yang lain kalau semua yang ada di daily list belum selesai. Hasilnya, lumayan bisa tidur siang sama Ruwaid.

Dan yang paling penting mindset 24 jam nggak cukup udah hilang dari kepala saya, bukan nggak cukup tapi belum bisa di atur dengan baik. Sering merasa nggak sih kalau pikiran kita yang sering membuat segala sesuatunya ribet, sudah pusing duluan melihat setrikaan yang numpuk padahal setelah dikerjain ternyata nggak butuh waktu lama untuk diselesaikan. Intinya selama masih bisa buka wa dan update status di medsos berarti masih ada waktu luang. Apalagi kalau mainnya lebih lama dari pada beres-beresnya. Salah satu point dari menjadi minimalis adalah bisa menyederhanakan cara berpikir alias nggak gampang mumet. hehe


Untuk alasan yang kedua, saya belum bisa move on dari Marie Kondo. Walaupun belum  semua saya praktekan, tapi metode konmari mengubah saya dalam seni beres-beres rumah. Ditambah sekarang anak saya sudah pintar ngebongkar sana-sini. Mungkin bukan cuma saya saja yang susah fokus saat barang-barang berhamburan tidak pada tempatnya. Marie Kondo dengan metode konmari membantu mengurai kelelahan dalam urusan beres-beres, jadi selama ini berantakan bukan cuma faktor ada yang ngeberantakin tapi cara menyimpan dan mengorganisir belum tepat.

Untuk Alasan Ketiga ini mengantarkan saya untuk hidup minimalis dalam segala hal, yang paling kelihatan banget sih dari barang-barang yang saya punya. Selama bertahun-tahun saya hidup bersama banyak sekali tumpukan barang, rasanya sayang untuk dibuang walaupun sebenarnya nggak dipakai. Saya sempat ingat ibu saya yang masih menyimpan sampai sekarang buku-buku saya waktu SD, nah sama persih saya yang masih menyimpan kartu kontrol praktikum waktu kuliah, ceritanya buat kenang-kenangan. haha. Sayangnya bukan cuma kartu kontrol yang saya simpan, barang-barang lain juga banyak. Kebiasaan nggak baik ini baru saya tinggalkan setahun terakhir ini setelah mengenal Metode Konmari. Hasilnya, lebih plong.

Semalam untuk mengawali tahun baru saya kembali membuka semua kotak penyimpanan untuk melihat barang-barang yang selama setahun belakangan jarang saya pakai, alhamdulillah berhasil saya kumpulkan satu kantong besar. Dan rasanya menyenangkan sekali saat memindahkan barang-barang tersebut ke orang yang lebih membutuhkan.

Jadi tahun ini salah satu resolusi saya adalah menjadi minimalis mulai dari cara berpikir lebih yang disederdanakan sampai mikir panjang dulu saat ingin beli sesuatu, yang saya rasain emang beda banget rasanya punya sedikit barang sama punya banyak. Selain bisa gampang diatur, gampang milihnya juga, dan rapi.

Kadang kalau lagi rajin saya suka nulis barang-barang yang ingin saya beli tapi nggak kebeli entah itu karena nggak punya uang atau berhasil melawan hasrat jiwa, kepikiran seandainya dari dulu hidup minimalid dan banyak pertimbangan kayak gini pasti tabungan udah banyak. hehe

Tapi belum terlambat untuk memulai hal baru yang bisa membuat diri lebih baik dari hari ke hari, untuk saya pribadi pilihan untuk hidup minimalis membuat mood saya lebih happy.

Selamat berhari senin, untuk yang lagi jaga rumah tetap bahagia ya dengan pilihan untuk nonkrong di rumah seharian :)

Sumber gambar dari mariekondo

You Might Also Like

3 comments

  1. Saya pun saat anak-anak liburan sekolah, beberes rumah. Lumayan lah barang yang sudah jarang dipakai mulai disingkirkan

    ReplyDelete
  2. Nah dirumah barang-barang juga numpuuuuk bangeeet. Pengen coba lebih minimalis lagi dan menerapkan metode konmari. Semangat! Makasi sharingnya yaaaaa <3

    ReplyDelete
  3. Ngebaca ini jadi sadar kalau aku juga belum bisa pinter dalam hal menyimpan dan mengorganisir barang dengan tepat. Mulai dari mindsetku dulu biar semua sinergis deh kalo gini 😬
    Semangat ya mbak

    Salam kenal
    Diah
    www.diahestika.com

    ReplyDelete

I'm Proud Member Of