Keluarga Hemat Air

10:16:00 PM

Ternyata betul adanya omongan orang-orang kalau gaji naik belum tentu tabungan nambah karena naluri jajan lebih banyak lagi setelah gaji naik juga nambah. Hal ini saya rasakan betul waktu awal-awal kerja, dengan gaji 10 kali lipat dari uang bulanan waktu kuliah tapi tabungan saya masih segitu-gitu aja, malah masih sempat ngerasain sengsara di akhir bulan.

Cerita gaji, kemarin malam kembali saya bahas sama suami, setelah tiga harian ini kontrakan kami kering kerontang karena air nggak ngalir, gila aja tiap kali mau masuk kamar mandi harus beli galon, untung kalau nggak lagi mencret. Sebenarnya kondisi susah air bukan hal baru untuk saya, dulu waktu kuliah di Makassar air disekitar kostan juga senen kamis ngalirnya, dulu nggak berasa merananya karena belum punya anak yang harus dicebokin pas lagi nggak ada air. haha.


Trus hubungannya sama gaji apa? jadi hubungannya pas air nggak ngalir kami bisa hidup dengan 4 galon air seharian, giliran air ngalir kami bisa menghabiskan 1000 liter dalam dua hari itupun masih kurang. 

Awalnya tiap kali nggak ada air dan melihat cucian numpuk saya selalu ngomel-ngomel nyalah-nyalahin pemerintah yang pura-pura nggak ngerti betapa air adalah hajat hidup yang utama, tapi setelah hampir dua tahunan di Ambon dengan keadaan air yang nggak jelas skema ngalirnya, saya mulai bisa santai dan yang paling saya syukuri adalah punya kesadaran untuk bisa ngerem diri saat punya sesuatu yang sedang berlebih, sederhananya, belajar hemat. Jadi pas air ngalir deras, saya akan bilang ke diri saya, untuk hemat air buat jaga-jaga kalau tiba-tiba airnya absen ngalir.

Pernah suatu hari, air di tempat saya ngalir deras, tetangga sebelah rumah kekeringan. Dalam pikiran saya gimana caranya bisa menampung air sebanyak mungkin sampai tuperware yang kecil-kecil juga saya isi air. Sedang tetangga saya, ngurut dada. Air yang saya tampung udah berasa harta karun yang nggak mau saya bagi-bagi. Dan tahu sendiri gimana kalapnya saya pas banyak air.

Beberapa hari kemudian saya baru sadar, coba kemarin saya hemat-hemat air, kan bisa berbagi sama tetangga. #sadarnyatelat.

Selama ini saya nggak sadar apa yang saya lakukan tiap hari dalam menyikapi apa yang saya punya dan saya keluarin membentuk saya, salah satunya itu tadi yang saya ceritain di awal, kebiasaan boros saat punya banyak duit, padahal sebenarnya kalau mau hemat ya bisa aja. Sama halnya dengan air, selama ini, pas lagi banyak air, saya nggak pernah mikir mau hemat-hemat, paling mikir nanti bayar tagihan airnya banyak dan hal ini nggak cukup membuat saya ngerem diri untuk menghemat air. Saya nggak pernah mau berpikir kalau saya hemat air bisa jadi hal ini akan bermanfaat untuk keluarga lain. Saya nggak ngerti pasti gimana pembagian air dari perusahaan air disuatu daerah, hanya saja, jika stok air dipakai berlebih oleh satu keluarga maka bisa jadi jatah keluarga lain akan berkurang #benarnggaksih?

Sebenarnya juga dengan hemat air selain pertimbangan teori jatah air, kita bisa menghemat dari sisi uang tagihan, uang tagihan air yang membekak bisa dialokasikan untuk hal lain, misalnya bantu orang-orang yang lagi susah air. hehe

Jadi selama dua tahun ini kami sekeluarga kecil belajar untuk hemat air, saya percaya, kebiasaan baik bisa menular pada kebiasaan lainnya. Mungkin saya agak lebay kali ya sampe mikir ke keluarga lain yang saya ambil jatah airnya, hehe, okey ini dilupain aja. Intinya saya sadar kalau selama ini di diri saya sudah mendarah daging kebisaan boros boros dahulu merana kemudian.

Suami saya pernah ngomong gini pas kami jalan beli galon, kita harus bersyukur walaupun air nggak ngalir tapi senggaknya kita masih bisa beli air galon, coba bayangin orang di Somalia dan negara-negara lain yang lagi konflik :)

Jadi pesan moral tulisan panjang ini adalah hari ini udah bersyukur belum bisa dapat air bersih dengan gampang, tinggal buka kran langsung ngalir...

Hiks, saya kadang masih lupa bersyukur :'(

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of