Buku : Kembali ke Titik Nol

15.16.00


Bismillah

Buku kembali ke titik nol mengingatkan pada menit-menit saya banjir keringat, karena tidak satupun pertanyaan yang bisa saya jawab pada tes seleksi karyawan sebuah bank syariah yang ada di negri kita.

Bisa dibilang itu menjadi titik balik saya mulai mengenal keaungan syariah, lebih tepatnya setelah pulang tes saya langsung blingsatan mencari jawaban soal-soal yang hampir membuat saya depresi.

Untuk hal ini saya harus bersyukur, walaupun tidak sampai ke tahap akhir penyeleksian tapi setidaknya lewat tes itu saya jadi tau-tau sedikit istilah keungan syariah, dan paling penting Riba mulai membuat gelisah. Apalagi saya tahu betul peran bank konvensianal untuk usaha para pedagang di kampung saya, tawaran kredit dari bank sudah berasa angin sorga, enak banget, bikin usaha dan di modalin bank, tinggal nyicil perbulan, dan tau-tau selesai, alias mulai lagi buka lapak utangan baru. 

Singkat cerita seumur-umur sampai berpenghasilan sendiri saya pun turut ikut icip-icip si angin sorga karena orang tua saya berdagang dengan modal uang bank. Ilmu Riba yang sempat bikin gelisan masih timbul tenggelam, apalagi setelah masuk dunia kerja, dimana jerat-jerat cicilan dengan bunga enol persen begitu menawan, belum lagi sebagian kenalan yang belum paham bahaya riba ikut memberikan testimoni betapa terbantukannya mereka dengan adanya sistem cicilan, lebih mahal dikit sih, tapi kalau nggak nyicil kapan coba kita bisa punya ini dan itu.

Apa boleh buat keadaan seperti mengkondisikan dengan mudahnya seseorang bisa kecemplung riba, belum lagi gaya hidup yang ikut-ikutan menjerat, biar kata ngutang yang penting bisa gaya, modal 500 ribu sudah bisa bawa pulang motor, modal kartu kredit sudah bisa bawa pulang iphone, modal 5 juta sudah bisa ganti motor pake mobil, modal seritifikat rumah udah bisa ngutang buat pesta nikahan, cicil-cicilan seperti memudahkan banget ya.

Bermodal sedikit pengetahuan tentang Riba saya coba googling sana, googling sini, saya bertemu banyak hadist yang membuat saya takut, sengerih ini kah riba, kok sampai sampai disandingkan dengan menzinahi ibu sendiri. Ini salah satu hadist yang membuat saya merinding.

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)

Lalu sebenarnya bentuk riba itu seperti apa sih? apa-apa yang di kategorikan riba, gimana akadnya? de el el. *Yuk baca buku ini biar ngerti apa itu riba.

Waktu berlalu, jujur, Riba hanya menjadi pengetahuan sampai tahu saja bahwa Riba haram. Setelah itu tidak pernah lagi ada pembahasan serius, sampai beberapa bulan lalu ada video buatan yufid kembali mengingatkan tentang bahaya riba, obrolan ustadz dan sales kartu kredit benar-benar bikin keringatan, ya ampun gusti.

Sejak hari itu saya kembali lagi membaca artikel-artikel yang membahas Riba, dan ditengah perjalan saya bertemu buku kembali ke titik nol. Duh membaca buku ini berasa disiram air berember-ember, menyadarkan, menyegarkan, bikin merinding. Ada bagian yang membuat sedih, saat teringat orang tua dan suadara-saudara yang belum paham Riba, yang belum paham betapa bunga bank tidaklah seindah kembang yang ada di taman.
 
Buku ini tidak hanya menggetarkan, tapi juga membuat saya malu, urusan duit betapa sering mencerai beraikan perasaan bersalah, juga rasa berdosa. Bahwasanya, disekeliling kita begitu banyak percik-percik riba, yang kadang sudah kita ilmui namun masih susah di amalkan, mengamalkan saja sudah susah maka apalagi menyampaikan ke orang lain. Belum lagi berbagai alasan-alasan pembenaran yang akhirnya menutup mata.

Buku Kembali ke titik Nol begitu menarik untuk saya, getar hati saya semakin menjadi saat membaca bab tentang konsep rezki dan kisah-kisah mereka yang ditolong Allah karena berani mengambil sikap meninggalkan apa yang di larangNya, karena yakin dengan apa yang Allah janjikan.

"Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti bagimu dengan yang lebih baik bagimu" (HR. Ahmad) 

Buku ini sangat recommended, cerita saya di atas baru sedikit saja tentang betapa menggunggahnya buku ini, oh iyaa, beberapa hari sebelum ketemu buku ini saya sempat kepikiran buat nyicil laptop berlogo apel kegigit karena iming-iming bunga enol persen. Haha, aduh.

Baca buku ini deh biar kita tahu betapa menjeratnya Riba, bunga bank, kartu kredit, dan iming-iming bunga nol persen. Bukunya banyak dijual online, yang berminat bisa langsung tanya-tanya gugel :)

Akhir kata, kita berlindung kepada Allah dari jerat-jerat riba dan godaannya. Semoga pelan-pelan kita bisa menjauh dari Riba, dan hidup sesuai tuntunan syariat. Aamiin.

Salam, 














You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of