Jangan lupa bahagia

11.00.00


Setahun terakhir ini saya sering melihat status teman-teman di media sosial yang isinya mengingatkan untuk berbahagia, quote ini jadi semacam alarm buat saya, sederhana sih namun setiap kali membacanya saya langsung mengingatkan diri saya untuk berbahagia untuk apapun itu, sekecil apapun itu.

By the way ada nggak ya orang yang lupa berbahagia? atau sepanjang hari dalam hari-harinya hanya kemurungan yang ia dapati. Saya yakin tidak! kenapa? sebab jika mau direnungkan ada banyak hal-hal kecil yang sebenarnya dapat membuat kita berbahagia, namun karena terlalu fokus pada 'penderitaan' yang kita alami maka jadilah sebab-sebab kebahagian itu tertutup.

Hal ini saya rasakan betul saat anak saya meninggal beberapa bulan lalu, bisa dibilang saya ada dititik paling rendah. Saya diperhadapkan pada kondisi yang begitu berat sedang sebelumnya saya tak pernah menyiapkan diri, sedang di satu sisi saya bisa dengan mudahnya melihat orang-orang yang mengeluhkan kerepotan mengurus anak, yang pada saat itu begitu saya harapkan. Keadaan ini pelan-pelan membantu saya untuk melihat dari dua sisi, bahwa ujian bisa datang dalam wujud apa saja, meninggalnya anak adalah ujian, namun toh banyak juga yang merasa teruji dengan kehadiran anak-anak mereka, meski itu hanya ujian kesabaran.

Pelan-pelan saya mulai bangkit, dititik ini saya berusaha melihat segalanya dari sisi positive (berprasangka baik). Walaupun masih sering nangis air terjun.

Percaya nggak percaya sungguh keyakinan adalah pintu kebahagian yang lain. Apa jadinya saya jika saat terpuruk itu malah menyalahkan Allah, menyalahkan sekeliling saya, menyalahkan teman-teman saya yang masih asik-asik saja membagi kabar kebahagian tentang anak-anak mereka padahal disitu saya sedang sedih-sedinya. Keyakinan bahwa Allah mengatur segalanya begitu menenangkan sekaligus menumbuhkan benih-benih kebahagian.

Pernah suatu sore sepulang kerja, saya mendatangi makam anak saya dengan perasaan syahdu, bulir-bulir air yang jatuh dari langit melengkapi suasana syahdu yang saya rasakan. Seorang diri saya disitu mengangkat dedaunan yang jatuh di atas makan anak saya, aduh perasaan macam apa ini ayo kuat Rahma, sambil terus menguatkan diri saya teringat salah satu ayat dalam al qur'an yang menceritakan bahwa tak ada yang luput dari pengaturanNya bahkan dedaunan yang saya angkat satu-satu dari makam anak saya. Dengan perasaan lega saya meninggalkan makam anak saya sore itu, ya, yakin bahwa ada Allah yang mengatur segalanya.

Ada begitu banyak hal yang dapat membahagiakan, hanya kita saja yang menutup mata kita, kita sering merasa paling menderita. Sebenarnya saya malu menceritakan bagian ini, tapi biar saya ceritakan agar kita sadar betapa kita sering menjadikan apa yang kita alami sebagia drama sedih yang episodenya tak habis-habis. Masih pengalaman sepulang kerja dan hujan, kali ini hujannya sangat deras, dan saya lupa membawa jas hujan. Dalam perjalan pulang itu saya berangan-angan banyak hal, aduh enaknya kalau saya di rumah saja tidak perlu bekerja, aduh enaknya jika bisa tinggal sama-sama suami bisa ada yang jemput, dan banyak-banyak angan yang muaranya adalah nggak bersyukur.

Semua angan-angan saya langsung jatuh, ditengah kemacetan dengan guyuran hujan yang begitu deras, saya melihat ibu paru baya dengan baju robek-robek menarik gerobak seukuran mobil sedan, beliau tertatih-tatih menarik gerobak besar itu ditengah hujan deras. Hati saya tetiba sesak, betapa tidak bersyukurnya saya, betapa seringnya saya mengeluh.

Bersyukur adalah kunci kebahagian yang sering kita lupakan, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah mengingatkan dalam sabdanya bahwa untuk urusan dunia ini lihatlah orang yang dibawahmu, agar kamu tidak meremahkan nikmat Allah sekecil apapun itu.

Jadi jika saat ini kita begitu sulit berbahagia maka bukan apa yang tidak membuat tidak bahagia yang harusdikoreksi, namun sudah bagaimana prasangka kita padaNya, bagaimana keimanan kita padaNya, bagaimana syukur kita? *Sumber gambar dari sini

Salam, 


You Might Also Like

6 comments

  1. SETUJUUU paling penting memang bersyukur ya mak. Makasih sudah diingatkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, makasih juga sudah main ke sini ya...

      Hapus
  2. Terimakasih mak sdh diingatkan☺

    BalasHapus

I'm Proud Member Of