Dont stop now, you almost there :)

16.07.00

Pekan kemarin saya mendapat pelajaran dari beberapa kejadian yang saya temui . Benar-benar berharga karena saya nggak harus jalan jauh untuk membuka mata saya bagaimana harus melihat kesalahan/ dosa dari sisi yang berbeda.

Jujur saya adalah tipikal yang suka down apalagi saat melakukan kesalahan yang jelas-jelas saya tahu bahwa itu salah, berangan-angan agar waktu dapat berjalanan mundur, galaunyapun kadang sampai berhari-hari. Tapi galau yang berhari-hari itu tidak lantas membuat saya tidak kumat lagi karena kenyataannya hampir tidak terhitung saya mengulang kesalahan yang sama. Hari ini taubat besok kumat lagi.

Pelajaran yang temui ada pada kisah Abu mihjan. Sabtu kemarin saya nonton acara khalifah di trans tujuh, kisah abu mihjan diceritakan dengan sangat baik oleh ustadz budi anshari pada acara tersebut. Awalnya saya sempat malas-malasan menyimak kisah beliau, alhamdulillah Allah berkenan, diakhir cerita saya mendapat banyak pelajaran.

Siapa abu mihjan? nggak terkenal ya? Saya juga baru pertama kali mendengar nama ini, kisahnya langsung membuat saya berderai air mata, mampu memberi semangat untuk terus berupaya baik, dan semakin membuat saya yakin bahwa pada setiap diri kita keinginan untuk baik itu selalu ada, yang membedakan barangkali hanya upayanya. Jadi, jangan berbutus asa kaka. Jatuh bangun dalam hidup itu biasa, salah pun sudah dipatenkan sebagai sifat dasar kita sebagai manusia, sebaik-baik ia yang melakukan kesalahan adalah yang segera menyesalinya.


Abu mihjan adalah salah satu shahabat Rasulullah. Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras).Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, beliau adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, beliau tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu beliau dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya beliau pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, beliau sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara beliau mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali beliau membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, beliau sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya!

Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan beliau memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang beliau cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. beliau masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan beliau takjub kepadanya, dan mengatakan: 

“Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.
Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan beliau sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

****
Masyaallah kisah Abu Mihjan mengajarkan banyak hal, jelas bahwa beliau pelaku maksiat namun kecintannya pada kebaikan sungguh mengajari saya untuk tidak cepat berputus asa menempuh jalan-jalan kebaikan, dan juga terus berprasangka baik pada saudara seiman yang masih terlihat ‘salah’ karena bisa jadi hidayah untuk mereka sudah sangat dekat tinggal menunggu waktu saja, bisa jadi dia yang kita lihat ‘salah’ sedang tertatih bangkit menjadi lebih baik. Jangan berhenti berupaya baik!

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)
Semangat!

17 Februari 2015

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of