Mengaku tidak galau :D

14.58.00

Entah ada hubungannya atau tidak, saya mendapati kalau semakin kita menangkis tuduhan galau pada diri kita, galau itu semakin menyeruak, semakin mengelak bukannya tertepis malah galau itu semakin memantul-mantul, semakin ingin kelihatan tidak galau yang nampak malah kegaluan yang sebenarnya, yang sudah berkeringat lelah.

Entah lagi, galau yang ingin disembunyikan itu banyak cabangnya, berhasil menyembunyikannya lewat ucapan tapi status-status di media sosial kemudian mewakili. Berhasil menyembunyikannya lewat raut muka tapi kemudian terwakilkan lewat ucapan-ucapan. Kesimpulan sementara, mengaku sedang galau sebenarnya mudah saja, biar ceritanya singkat juga. Tapi, entah mengapa galau menjadi semacam aib tersendiri pada perasaan.

Belum lama ini saya mendapati status seorang teman yang agak sewot karena ada yang mengatakan bahwa statuss-statusnya di fb terbaca galau. Saya tidak sampai hati berkomentar pada statusnya yang menyangkal tuduhan itu tapi saya sepakat dengan si penuduh itu. hehe, Pertanyaan pertama: Ah jangan-jangan perasaan galau itu jarang tersadari si empunya? Maka jadilah teman saya itu menyangkal mati-matian padahal kegalauannya sudah terdiagnosa.


Kembali pada galau sebagai Aib yang ingin disembunyikan, saya ketawa ketar-ketir saat mendapati ustadz yang berceramah bahwa seorang muslim harusnya tidak perlu digalaukan urusan dunia, sang ustadz juga menambahkan bahwa kegalauan bisa jadi karena jarang mengingat Allah, bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Sederhananya, yang galau bisa jadi karena jarang mengingat Allah. Saat mendengar ceramah ini, saya tidak mengelak ini itu, namun jika itu benar maka bisa jadi yang mengelak dibilang galau sebenarnya tidak ingin diketahui kekacauan hubungan hatinya dengan Allah.

Jika sudah berhubungan sama Allah, maka larinya pasti ke amalan. Sedang pada amalan kita-kita ini selalu ingin terlihat baik, beramal baik walaupun sebenarnya tidak. Maka bisa jadi kegalauan kita yang naik ke permukaan adalah cara Tuhan menasehati kita, coba intip lagi hatimu. Dan tuduhan galau itu sikapi saja dengan tenang, seperti yang sudah saya bilang diawal, semakin mengelak, semakin terlihat, bisa jadi kita merasa tidak galau padahal sebenarnya galau.

Ah dan lagi, semua jenis perasaan itu ternyata butuh teman untuk berbagi, kita mungkin bisa marah sendirian, terharu sendirian, menangis sendirian, semua derita ditanggung sendiri namun sekali waktu kita butuh teman berbagi. Normal. Kita masih manusia, kan? banyak hal yang berpotensi membawa kegalauan disekitar kita, dalam diri kita, jadi galau itu wajar, yang jadi tidak wajar kalau ditolak mati-matian padahal semua bukti sudah mengarah pada kegalauan kita. hehe.

Ini hanya pendapat saya saja ya, uang tidak kembali jika salah :D


You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of