Biarlah sederhana saja..

15.05.00

Suatu ketika saya mendatangi acara pernikahan seorang teman, selama berada ditempat itu keinginan saya hanya satu, ingin segera pulang. Pilihan saya untuk duduk di dekat pintu keluar rupanya keliru, niat saya memang tidak lurus saat memilih posisi itu, ceritanya agar lebih lebih dekat meja puding. Jantung saya serasa lompat-lompat karena suara grup kasidahan yang meraung-raung. Karena tidak enak dengan teman saya akhirnya saya bertahan disitu sambil memegangi jantung yang siap-siap melompat.

Karena tempat duduk saya dibagian pintu keluar ruang resepsi, saya jadi leluasa memperhatikan dandanan tamu yang keluar masuk, dekorasi ruangan, dan dua orang yang berbahagia di depan sana. Kebahagian teman saya itu hampir tak terlihat pada wajahnya yang memutih tidak alami. Rasanya saya ingin sekali bilang ke teman saya itu bahwa ia telah dikhianati oleh tukang riasnya. hahaha. *behhh bedaknya kelewat tebal* urusan bedak tebal menjadi keheranan tersendiri pada pengantin indonesia *di luar para artis* kenapa harus tebal-tebaaaal? kenaapppppah? kenapah harus seperti artis kabuki? *bedak tebal teman saya menjadi bahan bercandaan sampe sekarang.

Kegiatan tidak bermakna yang saya lakukan sambil menunggu acara selesai adalah menguping pembiacaraan ibu-ibu yang duduk tidak jauh dari saya. Ibu-ibu di dekat saya membahas biaya pernikahan yang bisa mencapi puluhan hingga ratusan juta. Yang membuat saya melongo karena biaya itu di tanggung oleh mempelai laki-laki.. Ya Ampyunnn. Hikmah dari cerita ibu-ibu itu adalah saya tidak akan suudzon jika nanti paguyuban bujang lapuk tumbuh subur. Para bujang pasti akan kesulitan menikah jika harus membawa uang puluhan hingga ratusan jutaa.

Konon uang sebanyak itu bisa habis dalam sehari saja. Padahal tidak jarang yang harus mengutang agar uang itu bisa terpenuhi.
Dari menguping saya juga menemukan rona-rona gengsi gede-gedean dalam acara pernikahan. Acara meriah itu rupa-rupanya tak sedikiti disisipi niat untuk mendapat pengakuan.hiss..*mau dibilang kalau kata orang makassar*

Keinginan ingin diakui ini menjadi latar belakang pesta-pesta meriah ala orang kaya meskipun penghasilan sejatinya pas-pasan. Sayangnya lagi dorongan untuk diakui itu tetap saja dipertahankan tidak perduli pada keadaan ekonomi yang sudah berdarah-darah. Hal ini adalah efek paling nyata dari penyakit gengsian, memanipulasi ketidak mampuan dengan berbagai cara, ngutang kiri kanan pun tidak mengapa.

Begitu pentingnya rasa ingin di akui ini sehingga banyak yang harus dikorbankan sampai tanah warisan pun melayang, rekening terkuras habis, kepalapun ikut berasap karena pusing. Ada perasaan bangga saat banyak yang membicarakan, walaupun itu masih mengutang. Oh iya, salah karakter dasar mereka yang gengsian adalah sudah mau mati pun masih ingin gaya.

Bagaimana memutus rantai haus untuk diakui dan senang menjadi tontonan adalah masalah tersendiri dalam urusan pernikahan. Begini, ngotot bergaya itu melelahkan dan berpotensi melupakan bagaimanakah yang berberkah itu, melupakan bahwa dalam kesederhanaan itu ada berkah yang terjaga.

Sampai dibagian ini, masuklah saya pada pelajaran untuk saya catat, Rahma, pernikahan bukan untuk sok-sokan. Menikah itu ibadah, tolak ukur kebaikan ibadah itu ada pada cara Rasulullah. Saya terkenang lagi kisah bagaimana sederhananya pernikahan manusia paling mulia di muka bumi ini saat para tetamu pernikahannya shallallahu alaihi wa sallam hanya di jamu dengan kurma. Masyaallah.

20 Februari 2014




You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of