Dakwah dan kelakuan kita

07.55.00

Saya melongo melihat acara makan-makan di salah satu stasiun tivi padahal beberapa menit sebelumnya stasiun tivi tersebut mengudara dengan kabar yang bertajuk ikut merasakan kesedihan korban banjir dan sinabung. Mungkin itu wajar-wajar saja jika melihat kalau stasium tivi memiliki beragam acara, namun ikut meresapi jadi tidak terserap karena tak lama sebelum acara makan-makan enak itu ada orang-orang yang harus berebutan nasi bungkus.

Keheranan serupa juga mendatangi saya saat membaca status-status yang hilir mudik di media sosial. Baru beberapa menit mengatakan bahwa orang islam bersaudara, tahu-tahu tak lama berselang kiritikan pedas untuk mereka yang bersebrangan pendapat melayang bebas. Kritikan itu sebenarnya tidaklah memaksa, diterima syukur, tidak diterima tak apa-apa. Jadi jelas sebetulnya, untuk sesuatu yang boleh diterima dan boleh ditolak, tak perlu menimbulkan perdebatan. Tinggal ditolak atau diterima begitu saja. Idealnya memang tak perlu ribut-ribut, namun yang terjadi dikotak komentar lain cerita. Yang dikritiki pedas jelas tidak menerima begitu saja, balas lagi aahhh. hehe. Katanya bersaudara, koq saling menghujat?!

Banyak pihak menyangka bahwa kebaikan yang ditebar dengan cara menyoroti pihak yang dianggap 'salah' akan membuahkan hasil manis. Alhasil setiap hari kesibukannya hanya mencari-cari kesalahan pihak lain. Terus tentang dakwah, yakin saja jika caranya salah, jangankan untuk orang lain, pada diri sendiripun akan memantul. Bukti sederhananya, nasehat yang keluar dari mulut kita tidak sanggup mengubah kelakukan kita.

Ada lagi gaya dakwah yang mencerminkan betapa anehnya kelakukan kita. Kita sibuk berkoar-koar mengkritisi pemimpin negara sedang hati sendiri tak terurus. Kita sibuk kiri kanan mengkritisi teman kita yang masih pacaran, sedang di media sosial kita masih asik asoi lempar-lemparan komentar enggak penting dengan lawan jenis. Kita sibuk  mencibir saudara kita yang masih berhijab ala kadarnya, sedang bagaimana hijab syar'i belum kita dakwahkan. Macam manaaa ini. Sekarang ini kita sangat mudah membawa-bawa nama Allah dalam langkah-langkah kita, sedang cara yang Allah inginkan malah kita belakangi.

Cara dakwah kita barangkali harus dibedah lagi kemana arahnya, jangan sampai ajakan kita malah bukan pada Allah. Kesalahan cara kita akan nampak pada perangai terburu-buru dalam menanggapi, melupakan prinsip tabayyun, tak segan-segan membeberkan aib saudara seiman yang masih samar-samar. Kesalahan lainnya adalah salah urutan prioritas dalam penyampaian dakwah, bukan rahasia lagi kalau kita-kita ini tidak terlalu berminat pada dakwah tauhid, pembahasan tauhid rasa-rasanya sudah ketinggalan zaman, kabar yang ramai dipasaran rasanya selalu saja menyita waktu kita. Kita sering lupa bahwa tauhid adalah tujuan utama dakwah kita. Kesalahan cara yang paling fatal adalah kebenaran tidak lagi dari hati ke hati, kurangnnya ilmu menjadikan dakwah tampil keras, alhasil bukannya mengajak malah menakuti dan membuat orang menjauhi islam.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dialah yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" ( Qs. An Nahl: 125)

My dear, mutu dakwah kita tergambar jelas dari kelakuan kita. Jadi hati-hatilah jangan sampai kebaikan agama ini 'terkotori' karena cara kita. Berilmu sebelum beramal.

*Nasehat untuk saya, untuk saya, untuk saya, dan untuk sayaa* Astagfirullah. Maafkan cara kami ya Allah

11 Februari 2013
 







You Might Also Like

3 comments

  1. Aku bercucuran air mata membacanya ^^ ., but seriously aku seringkali mendapati kebanyakan media apalagi sosmed yang boro2 tabayuni... yang aku perhatikan mereka malah jadi tukang kritik. Terkadang gerah, tapi mau diladeni malah sama gilanya

    BalasHapus
  2. Aku jadi instrospeksi nih setelah membacanya.
    Terimakasih sekali sudah mengingatkan :)

    BalasHapus
  3. Subhanallah ....
    Serasa ini yang tulis siapa... indah tulisannya bagus. Bisa tambah ilmu dengan baca ini. Terima kasih Allah telah mengenalkanku padamu. Semoga bisa belajar
    :) nadeh....

    BalasHapus

I'm Proud Member Of