Sederhananya Hijab Sebab Terjiwainya Ilmu

7:33:00 PM



Sudah tiga pekan ini saya kembali tarbyah, jangan tanyakan berapa lama saya absen, yang pastinya selama itupula hati saya ini merasa kosong. Rasanya ada yang kurang dan susah dijelaskan. Rasanya banyak menyesal karena dulu bikin banyak alasan saat diajak hadiri majelis ilmu, sekarang baru deh terasa menyesalnya saat hukum-hukum tajwid masih belepotan sedang anak menanti untuk di didik.

Tarbiyah (lagi) membawa ingatan saya pada 11 tahun yang lalu awal kali mengenal tarbyah di kampus, mengenal tarbyah tidak hanya membantu saya membedakan KHA dan JA yang saat itu masih tertatih saya lafadzkan saat berhadapan dengan Al Qur'an. Bisa dibilang dunia kampus menjadi tempat saya memulai hijrah dan selanjutnya jatuh bangun merasakan betapa istiqomah adalah pilihan.

Pertama kali bertemu Murabyah baru saya di sini, saya kembali bernostalgia dengan pertemuan pertama saya dengan kakak-kakak jilbab besar di Kampus. Tidak hanya jilbab besar, sebagian malah cadaran. Yang membuat saya heran mereka si kakak jilbab besar mau saja diuji kesabarannya oleh kami dedek-dedek labil yang ogah-ogahan diajak ke majelis ilmu. Dengan terpaksa akhirnya saya mau diikutkan pada satu kelompok kecil, yang kemudian saya kenal dengan halaqoh tarbyah. Saya mulai mengenal istilah afwan, syukran, muraby, ikwan, hijab, tundukan pandangan, dan beberapa kosakata yang sering terbolak-balik saya ucapkan.

Murabyah pertama saya begitu berkesan melekat manis di hati, hehe. Pertama mengenal beliau saya langsung jatuh hati. Jika ditanya apa yang membuat saya jatuh hati pada beliau, jawaban saya satu 'beliau sederhana mulai dari penampilan, pakaian, semua sederhana tapi setiap apa yang beliau ucapkan selalu menyentuh hati'. Selama tarbyah dengan beliau seingat saya hanya empat warna jilbab yang beliau kenakan, hitam, biru, abu-abu tua, dan hijau, itu terus yang beliau putar-putar. Di tahun-tahun itu jilbab besar belumlah seramai sekarang, untuk membeli jilbab besar juga nggak segampang sekarang terjual banyak dipasaran, dulu harus ke tukang jahit. Masyaallah sekarang, buanyaaaak banget, belum lagi di ig, yang cadaran juga banyak + modis-modis euy.

Beliau mengingatkan saya bahwa dulu saya tertarik pada jilbab besar bukan karena modelnya tapi karena akhlak beliau. 

Tarbiyah (lagi) membawa ingatan saya pada hari-hari yang lalu, pada murabiyah saya yang baru saya mendapati murabiyah yang dulu. Sederhana.

Pekan pertama tarbyah saya sempat keki sendiri, maigat, gamis yang saya kenakan berenda-renda. Hahaha. Sedang beliau dengan kedalaman ilmunya hadir dengan pakaian sederhana dan tertutup rapat. 

Saya sempat kepikiran pada kakak kakak yang saya temui dulu di kampus dan masih istiqomah sampai sekarang, mereka tetap sederhana, tidak tergiur dengan semaraknya model jilbab saat ini. Kenapa ya? 

Akhirnya naluri kepo menuntun saya untuk bertanya ke murabiyah baru saya tentang fenomena model jilbab saat ini, dan masyaallah jawaban beliau membuat hati saya ini layu. Dengan kekepoan tingkat dewa saya bertanya tanggapan beliau tentang model jilbab/hijab saat ini yang beragam model dengan harga yang sampai jutaan.

Jawaban beliau "Tidak ada dalil yang menyebutkan model hijab harus seperti apa, saat kita membicarakan hijab tanpa ada embel-embel syar'i pun harusnya sudah terwakili bahwa hijab itu fungsinya menutupi. Bukan modelnya tapi fungsinya. Saat ramai model jilbab dengan berbagai varian warna, yang harus dikembalikan ke pemakaiannya apakah hijab yang dikenakan itu sudah memenuhi syarat dan tujuan hijab?  yang paling tahu tujuan kita berhijab tentu hanya kita dan Allah"

Mendengar jawaban beliau saya diam-diam malu. Malu pada keinginan yang kadang terselip ingin terlihat wah dengan hijab yang saya kenakan. Dahulu di kampus hijab menjadi saksi terpanggilnya iman saat satu-satu muslimah yang saya kenali memutuskan untuk hijrah, hijab adalah pembatas yang menjaga dalam berinterakasi, betapa hijab begitu malu-malu saat ikhwa dan akhwat berbicara dibaliknya. Hijab menjadikan saya dulu beda. 

Saya tidak tahu pasti apakah tepat jika saya katakan bahwa sederhananya hijab sebab terjiwainya ilmu, sebab pada mereka yang tetap istiqomah dengan hijab nya yang sederhana saya mendapati ilmu agama ini meresap jauh ke akhlak mereka. Mereka paham betul makna hijab. Mereka begitu pemalu sekedar untuk menampilkan ujung hijab pada yang bukan mahramnya. 

Sedang saya ini, duh, saya harus lebih rajin lagi tarbyah agar hati saya ini bisa lebih menerima banyak ilmu dan lebih semangat lagi mengamalkannya.

T_T

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of