Ruwaid my kupukupu

1:48:00 PM


Sudah tiga pekan ini, ibu saya tiap kali menelpon pasti menanyakan "Ruwaid sudah bisa jalan?" dan jawaban saya "belum". Maka jadilah pekan-pekan terakhir ini berisi wejangan agar Ruwaid bisa cepat jalan, cepat lari, saya disuruh bacakan surah al kautsar + dishalawatin tiap jum'at (entah apa hubungannya), kakinya dipukul sejadah setelah orang sembahyang jum'at (kanan 8 kali, kiri 9 kali), tumitnya ditepuk pake jagung, Ruwaid disuruh berdiri di rumput basah, kakinya Ruwaid di lap pakai embun, dan sampai hari ini Ruwaid masih malas-malasan, di suruh berdiri dia duduk, diminta duduk di berdiri, suka suka dia deh. Hahaha.

Mengenai wejangan orang tua, nggak harus dimasukin ke hati, karena maksudnya pasti baik, dalam setiap komunikasi yang menentukan bagaimana rasanya adalah penerimaan, jika kita menerimanya baik, bagaimanapun penyampaiannya maka akan baik-baik saja. Terutama jika orang tua yang menyampaikan.

Melihat perkembangan Ruwaid setiap hari, selama ini saya nyaris tidak pernah pusing dia bisa apa, saya biarkan dia belajar pelan-pelan. Kenyataannya sekarang, doi susah banget disuruh kalem, merangkak kemana-mana, padahal sebelumnya dilatih biar bisa merangkak, giliran udah merangkak disuruh kalem. hihi. Untung Ruwaid belum bisa protes. 

Jauh sebelum Ruwaid lahir, saya udah sering nguping obrolan teman-teman yang lebih dulu di kasih anak, mereka mengeluhkan betapa ada banyak sekali komentar orang lain tentang anak-anak mereka, yang bunyinya ngebandingin, yang kesimpulannya 'anak kamu telah banget taunya'. 

Merawat anak sama halnya merawat seekor kupu-kupu, dari ulat sampai ia bersayap indah dan bisa terbang. Nggak bisa dipungkiri suatu saat nanti Ruwaid akan dikelilingin banyak tuntutan, saya ingin dia bisa tahu apa yang dia inginkan, karena banyak sekali anak-anak yang disibukan dengan keinginan orang tuanya sampai ia lupa apa yang dia inginkan. 

Ruwaid saat ini ada di fase ulat ulat, mungkin nanti saya juga merasa 'lain' saat Ruwaid dibanding-bandingin sama anak lain. Menemaninya setiap hari adalah kesempatan untuk melihat apa yang membuat dia nyaman. 

Dari sekarang sebisa mungkin saya mengingatkan diri saya bahwa Ruwaid pun sedang berjuang belajar, tanpa harus mengecilkan hatinya dengan membandingkannya dengan anak lain. Saya akan belajar menghargai pilihannya sedini mungkin. Apapun hasil usahanya saya harus ada dibarisan paling depan yang menghargainya, kalaupun nanti dia terjatuh, saya akan membantunya berdiri tanpa melukainya dengan keberhasilan orang lain.

Ruwaid my kupukupu, semoga kita bisa temanan terus ya sampai nanti Ruwaid udah bisa terbang tinggi, sering-sering pulang ya :)

Love You.

You Might Also Like

1 comments

  1. Hai mba..aku suka tulisan nya dan aku pun merasakannya, anak sendiri suka dibandingin sama anak lain, seperti dibilang penakut,blm bisa jalan, blm bisa ngomong dll. skrg ga terbukti, mmg tiap anak puya fasenya nya sendiri :)

    Salam kenal ya mba..

    ReplyDelete

I'm Proud Member Of