Long distance marriage

14.07.00

Eh dosaa nggak ya... nguping pembicaraan yang awalnya gak diniaatin? :D. Kemarin itu saya beneran nggak niat buat nguping pembicaraan mas-mas di warteg tempat biasa beli makanan di jam istirahat kerja. Eh kuping tak dapat dihalangi untuk stay tunee, jadilah saya khusyu’ disitu mendengarkan cerita mas-mas di dekat tempat saya duduk. :D

Tenang sajaa.. Gak ada unsur ghibah kok di dalamnyaa, yang adaa hanyaa hikmaah... Hikmah.. hikmah. Jadi berasaa deh makan di warteg bagaikan menyelam sambil minum susu sekalian memetik hikmah, sekali menyelam tiga empat jenis makanan bisa dilahap. Hahaha.. Ceritaa dari mas-mas yang kemarin itu benar ngademin. Menambah keyakinan lagi untuk tetap saja berprasangka baik sama Allah.

Eh saya aja kali yang kayak gini nih, harus sering-sering di ingatin, teori untuk berprasangka baik sama Allah sudah saya hafal mati tapi keseringan banget lewat kalau lagi nggak waras, sering banget ngeluh. Dan benar sajaa sabda Nabi, berikan nasehat.. berikan nasehaat.. berikan nasehat, karena nasehat itu akan tetap berasaa manfaatnya untuk orang-orang yang ada keimanan dalam hatinya. *walaupun imannya masih loyo-loyo kayak saya* :)..

Jadi cerita mas-masnya itu adalah di seputaran LDM an.. Saat tahu tema yang di bahas adalah LDM... Antena saya langsung berdiri. :v

Teman dari mas-mas itu nanyaa... “istrimu masih di kampung ya?”

Si mas nya bilang “Iya”

Truss temannya nanya lagi “ kok nggak di bawa kesini aja sih, nggak kerjaa jugaa kan”

Si mas nya menjawab sendu “istri nemanin mertuaa di sana, lagi sakit nggak bisaa di tinggal”

Saya... Masih setia mengikuti alur ceritaa sambil nunggu mbaknya bungkusin makanan.. Terharu juga lama-lama, padahal kalau mau di kata, istri nggak kerja ini kan gampang ajaa kalau mau ikut, eh ternyata Allah mengirim ujiaan lewat ibu mertua.. Eh letak ujiannya di mana sih? Ehmm.. Tinggal berjauh-jauhan sama pasangan adalah ujian tersendiri, sayang.. Hehe.. Dan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah menikah.. :p

Ini pisahnya masih disekitaran NKRI.. Lalu terbayang nggak gimana rasanya jadi TKI di arab sana.. Haruss pisah jauh dari sanak keluarga T_T

Jadilah saya merenung sepanjang perjalanan pulang dari warteg.

Untuk pasangan yang sedang menjalani LDM. Pasti deh sering-sering mendapat pertanyaan yang bernada pernyataan “kenapaa nggak ikut suami ajaa” atau “semoga cepatt-cepat bisaa tinggal seatap yaa” atau “nggak ngalah ajaa, ikut suami”

Terus yang ditanyaa hanya bisaa megurut dada.. Haha.. Nggak tahu gimana rasanya sih. Hehe

Suatu hari Khalifah ‘Umar bin Khattab mendengar seorang perempuan berkeluh kesah karena merindukan suaminya yang belum juga kembali dari medan perang. Maka Khalifah ‘Umar pun bertanya kepada putrinya sendiri, Hafshah, Ummul Mu’minun, berapa lama kiranya seorang istri dapat bersabar ditinggal oleh suaminya. Empat hingga enam bulan, ujar Hafshah. Maka sejak itu, ‘Umar bin Khattab menetapkan bahwa seorang prajurit Muslim tidak boleh pergi ke medan perang lebih dari empat bulan.

Nah para suami... Paling lama enam bulan yaaa.. Aduh enam bulan, padahal enam hari aja rasanya sudah sesuatu kaka. :)

Long distance marriage (LDM) memang bukan kondisi ideal berumah tangga, idealnya kalau sudah menikah yah sama-sama menjalani pahit manis kehidupan. Tapi LDM juga enggak terlarang kalau lah kondisinyaa memang menuntut kesitu, jadi LDM lebih ke keadaan dan tuntutan, bukan sekedar keinginan semata. LDM bukan kondisis ideal tapi bisaa jadi untuk rumah tangga kita saat ini LDM adalah kondisi paling ideal. Setiap rumah tangga punya ujiannya masing-masing, kan? Nah bisa jadi Rumah tangga kita sedang di uji dengan hal ini. Yakin.. Yakin.. Yakiin, Yang tinggal seatap jangan di kira bebas ujiaan.. Ada ujiannya juga, tapi soalnya beda sama kita yang LDM an.. Oke.  

Untuk kita-kita yang sedang berLDM jangan biarkan masa-masa ini berlalu tanpa makna. Harus ada target dong.. Masa udah kurban perasaan tapi enggak dapat apa-apa.. Dapat apa-apa nyaa harus bernilai ukhrawi laaah. Buat targettt bersama, Misalnyaa...

1. Kita LDM an dua tahun, tapi dalam waktu dua tahun itu kita harus bisa menghafal lima juz al qur’an  ya. Kalau nggak bisaa LDM an nya di tambah lima tahun lagi.. Hehe.. Caranyaa.. Bisaa dengan stor hafalan tiap malam. Waktunya bisa di atur kaka, hafalan nya jugaa.
2. BerLDM jugaa memberi ruang untuk kitaa belajar lebih banyak lagi, terutama agama.. Aduh jadi berasaa banget pentingnya belajar agama setelah nikah, nah berLDM tanpa dibebani tanggung jawab rumah tangga adalah ruang untuk belajar banyak hal, dan banyak kebaikan lainnya. Caranya... Bisa dengan saling memotivasi untuk rutin bertarbyah, tahsin, atau les bahasa arab atau laiinyaa.
3. Paket JODOH (just one day one hadits) bisa dijadikan paket LDM an kitaa.. Sambil kangen-kangenan sekalian nagih hafalan hadits. Yang belum punya Diktat nya bisaa hubungi saya, insyaallah nanti di share
4. LDMan tidak boleh mengurangi sakinah berkeluarga dengan rutin berbagi nasehatt.. Bisa dengan meminta suami ditiap jum’tnya untuk menceritakan kembali khutabah jum’at di masjid *cara ini adalah cara jitu biar si doi nggak tidur pas jum’atan” hehe
5.Dari sisi duniaa juga nggak kalah penting.. Kalau saya tiap kali lemes karena kangen.. Haha.. Lebay ya.. Saya senantiasa mengingatkan diri.. Rahmaaa.. Rahmaa.. Sadarrrr... Sadarrr.. Ingat cita-cita kamu ke tanah suci.. aamiin
6. Dan banyak terget kebaikan lainnya..

Terakhir... Terus berdo’a agar segera dikumpulkan dalam satu atap.. Aamiin.

LDM tidak boleh menjadi penghalang kebaikan diantara kita. Semagat kaka :)

8 Oktober 2014

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of