Telat punya anak tapi bahagia?

12.58.00

Tiga atau empat pekan yang lalu suami saya mengirimkan bbm yang lain dari biasanya, bbm yang lain dari biasanya itu kemudian menggerakan saya untuk menulis ini. Enggak tanggung-tanggung tulisan kali ini sampe panjang banget.. Hehe.. Semoga nggak Bikin ngantuk yak.

Ini isi bbmnya “Pernikahan adalah merayakan hidup dengan segala kemungkinannya”

Wooo super sekali beb :D... Hehe.. Kondisi perut saya yang terguncang lapar saat itu mendadak teduh. Saat berhadapan dengan kata mungkin, semua orang jika boleh memilih pasti akan memilih “kemungkinan yang mengarah ke yang nyaman-nyaman dan jauh dari soal-soal yang memberatkan, tapi mana bisa hidup enak terus, sudah jelas bahwa kehidupan dipergilirkan, kemungkinan untuk senang-senang hampir sama banyaknya dengan yang tidak menyenangkan. Menyiapkan imunisi untuk menghadapi banyak kemungkinan setelah menikah adalah hal wajib yang harus disiapkan sebab setelah pernikahan kata ‘mungkin’ menanggung beban tersendiri. Celakanya saya malah lupa menyiapkan bekal ini sebelum menikah, mikirnya cuma yang enak-enaknya aja. :D

Pentingnya persiapan yang saya ceritakan di atas adalah upaya preventif untuk menyelamatkan bahtera rumah tangga dalam pelayarannya, tidak bersiap membuka kemungkinan lain dalam pernikahan, yakni kemungkinan bubar tanpa dikomando.

Dari sekian banyak kemungkinan  saya ingin mengambil satu kasus saja. Kasus ini adalah kasus pertama dari kata mungkin yang akan dijumpai setelah pernikahan yakni “punya anak” mungkin punya, mungkin tidak, hanya Allah saja yang tahu. Kasus ini begitu penting untuk diselami sebab pertama, urusan punya anak akan menjadi tanya selanjutnya setelah melewati tanyaaa “kapan nikah”. Hehe. Kedua, punya anak bukan cuma urusan semua syarat dan prosedur sudah terpenuhi, bukan juga urusan pantas enggak pantas atau siap nggak siap. Kalaulah bertolak pada urusan kepantasan, maka pastilah takwa menjadi tolak ukurnya, jika takwa menjadi tolak ukur maka barangkali lolos berkaspun saya tidak akan mampu., ah takwaaa, jika takwa maka adakah lagi yang lebih pantas dari Sarah istri Ibrahim dan Aisyah istri Muhammad. Kalaulah bertolak pada kesiapan, tetangga saya di kampung pasti tidak akan beranak sampe selusin, sebab terang-terangan ia mengaku sudah nggak siap lagi punya anak berikutnyaaa karena untuk makan sendiri aja sudah susah.

Untuk saya kemungkinan punya atau tidak punya anak ini baru memikirkannya saja saya sudah dirundung rasa kepo... Aduhh bagaimana nanti jika ternyataaa saya menjadi bagian dari mereka yang ditakdirkan untuk tidak punya anak. T_T

Pada akhirnya segala kemungkinan setelah pernikahan menjadi tantangan totalitas seorang hamba, iyaa tawakal, berserah diri. Tanpa ini pasti setrees. hehe

Maka dari berserah diri lah pembelajaran dimulai, dari ayat ini..

    "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS. As-syuura:49-50)

Eh jujur yaah saya baru ngeh kalau ayat di atas ada dalam al qur’an. Selama ini bacanya lempeng-lempeng aja, ya Allah saya kemana aja. Barulah setelah menikah ini jadi berasa bertenaganya ayat ini, dan saya jadi turut merasakan cerita penantiaan dari para penanti yang sudah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun menanti kehadiran seorang anak. Rasanya jangaan ditanyaaa. Sekarang-sekarang tanggal haid itu kok jadi saingan yah ditungguinnya sama tanggal gajiaan. Hahaha..

“Udah isi belum?” tanya ini datangnya udah kayak minum obat, saban ketemu teman-teman pasti tanya ini enggak luput. Untuk orang dengan stok kesabaran yang terbatas seperti betaa cukup bikin galau. Hehe. Pelajaran dari pengalaman nggak sabaran melewati masa-masa penantian, dari penantian lulus spmb sampai penantiaan jodoh cukup menenangkan. Setiap urusaan ada waktunya. Tidak ada alasan untuk mengotori penantian ini dengan berburuk sangka kepadaNya. Akan ada waktunya.. Akan ada waktunya.. Akan ada waktunya..

Ehmm.. Tapi semakin kesiniii saya jadi paham kalau perasaan galau itu sangat wajar. Kewajaran ini berkaca pada kisah Nabi Zakaria yang sempat juga merasaakan sedih-sedih karena penantiaan akan hadirnya seorang anak harus berlanjut sampai mendapati Rambut beruban. Apa yang terjadi kemudiaan? Allah Mahabaik, Mahakuasa, dalam keadaan tuaa, istri mandul, Namun Allah berkenan, sabar itu pun berujung manis. Yup.. sabar itu berujuang maniss, ada pada kisah Nabi Ibrahim, juga imran, mereka adalah para penanti yang mengajarkan ketotalan dalam berharap dan berserah diri. Mereka mengimani dengan sebenar-benar iman bahwa hanya kepada Allah lah segala urusan itu berpulang.

Telat punya anak tapi bahagiaa? Mungkin nggak sih? Mungkin aja yak... Kita hanya bisaa berikhtiar namun Allah jua yang menentukan. Sedih-sedih di masa penantiaan hanya akan mengundang prasangka-prasangka nggak baik sama Allah. Ikhtiar terus dan terus ikhtiar. Semangat kaka... Jika Allah berkenan apa yang nggak mungkin. :)

24 September 2014
Besok gajiannnn :)

You Might Also Like

1 comments

  1. Tetangga saya 9th baru dikaruniai anak, begitu muncul 1 eeh buntutnya jd banyak... ada tmn TK anak sy mlah baru punya anak setelah menikah 15th...ad ek sy sdh 7th menikah sp skrg blm punya momongan, tp momongan anak tetangga dan anak2 didik di TK dia mengajar tmbh banyak lg... ktnya dia happy sj...yg penting trus berusaha dan berdoa...
    Semangat Mbakkk...

    BalasHapus

I'm Proud Member Of