Rumput tetangga

06.05.00

Masih teringat jelas bagaimana dulu galaunya dikejar-kejar tanya kapan sarjana, antara ingin bersenandung memohon hentikan tanya itu atau mau lari ke hutan saja, menyendiri di sana. Dalam kegalauan, mimpi untuk cepat-cepat sarjana menjadi begitu indah, ah, pasti melegakan kalau sudah sarjana, tidak pusing-pusing lagi memikirkan skripsi. Bisa bebassssss...bassss...basss...

Giliran sudah sarjanaa, kemudiaan nganggur berbulan-bulan. Menebar pesona dilamaran kerja jangan dikira enteng, sedikit banyak bisa bikin depresi, apalagi uang bulanan sudah di setop, mau minta malu, nggak minta kelaparan, terpaksa ngutang diwarung terdekat ajaa dulu. Dibagiaan ini, angan-angan bepernghasilan berhasil menghantui, sungguh meresahkan. Setelah menunggu berbulan-bulan kesabaran yang dipaksakan akhirnya berbuah juga, dunia berangkat pagi-pagi pulang sore-sore pun dimulai.

Dalam suasana suka cita menerima cucuran keringat ditiap bulannnya, akhirnyaa sampailah pada masaaa lahirnya tanya“Kapan nikah?”hehe. Jangan tanyaa bagaimana galauanya bagian ini, untuk kamu-kamu yang tidak mengerti juga maka cukuplah kegalauan merampungkan skripsi di kali sepuluh. Umur tak dapat ditawar sampailah di usiaaa panic. Dan akhirnyaa yang ditunggu datang juga disaat-saat injury time. :D Perjuangan untuk melangkah ke pelaminan tetap bikin ngelap keringat. Hari bahagia itu deg-degannya saingan berat sama ujian skripsi, deg-degan tapi syahdu. :D

Apa selanjutnya?

Ehm... “udah isi beloom?”

Isi angin :p

Tanpa mengurasi rasa bahagia, tanya “udah isi belum” mulai bikin galau lagi. Jadilah fokusnya beralih bagaimana biar cepat hamil. Tips dan trik biar cepat hamil diselami satu-satu dengan khusyu. Sebelum hamil, pikir kita, pasti senang banget kalau hamil-melahirkan-merawat anak dan seterusnya. Intinya, yang diharap yang indah-indahnya saja.

Giliran hamil,mualnyaa berbulan-bulan sepanjang hari, belum lagi melahirkan, mau normal, mau operasi, saya yang penakut begini udah keder duluaan ajaa. Hehe, Apalagi giliran merawatnya. wuihhhh

Setelah ituuu.. Apa?

Nah ini masalah duniaa keibuan yang sedang hottttt saat ini. Wanita antara karir dan rumah. Kegalauaan semakin bertambah-tambah kala anak demi anak bermunculan. Ditambah bisilk-bisik para ibu yang sudah resign duluaan, rasanya bangga sekali bisa menanggalkan karir dan fokus mengurus RT.

Untuk bagian ini saya cuma mau bilang bahwaa setiap kitaa memiliki jalan hidup yang nggak sama, tawakal oke, tapi berpikiran bahwa ibu yang sudah beranak dan masih saja bekerjaa termaksud golongan ibu-ibu yang nggak ngerti tanggung jawab kewanitaan, pikiran ini sungguh nggak tepat, bukankah kita nggak tahu pasti bagaiamana kondisi rumah tangga seseorang. Saya suka terharu melihat mbak-mbak di dekat rumah, sudah kerjanya jauh dari kampung, ninggalin keluarga dengan gaji yang nggak seberapa. Kalau ada pilihan lain tentulah mereka ingin di rumah menemani anak dan suami, tapi lagi-lagi ini hidup tidak selalu sejalan dengan apa yang diangan-angankan. Namun satu hal yang harus selalu diingat bahwa rezki dari Allah tidak pernah terteorikan dengan teori ekonomi manusia.

Oh iyaa, Ini ibu-ibu diruangan saya baru aja ceritaa kalau beliau agi pusing tingkat dewa mencari pembantu RT untuk menemani merawat anak-anak di rumah.. Eh itu jugaa urusan ASI. Saya suka risih sendiri saat membacaa kisah ASI teman-teman di media sosial. Mungkin jaman sudah tidak ditempatnya lagi, tapi saya selalu merasa bahwa Susu ibu adalah bagian yang pribadi. Diluar urusan kesehatan yang memang menuntut untuk di bahas*ini mungkin cuma perasaaan saya saja.

Oke.. Sampai disini, hidup memang rangkaian ujian..

****

Saya yakin yang mengalami drama di atas bukan cuma saya saja,bahkan barangkali ada yang dramanyaa lebih panjang, dengan bumbu yang beda-beda.

Ada yang yang dituntut bekerja membantu suami kemudian berpenghasilan namun digalaukan dengan keinginan untuk di rumah saja, ada yang dirumah saja melayani suami dengan sepenuh hati namun masih galau saja saat melihat perempuan seusianya bekerja diluar rumah, bosan di rumah terus, pikirnya enak berpenghasilan bisa membantu keluarga. Ada juga yang mendapat kesempatan kuliah diluar negri, namun lagi-lagi kesempatan yang didambakan banyak orang itu tidak cukup melegakan, ah enak kali ya, menikah, di rumah melayani suami, pikirnya. Dan tidak sedikit juga yang langsung akselerasi, gak dipusingin skripsi dan kerjaan, tahu-tahu langsung nikah, punya anak, dan kelihatan bahagia. Dan jadilah kita iri..mauu jugaa.

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Selalu, Selalu :)

Setiap kita memiliki cerita kehidupan masing-masing, tantangannnya juga beda-beda :)

“Kemudahan adalah ujian syukur, sedang kesulitan adalah ujian sabar”

4 September 2014

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of