Pernikahan adalah Revolusi

16.04.00

Bismillah. Semakin sering saya mendatangi acara pernikahan maka cerita yang saya tampung juga semakin banyak dan bermacam-macam. Beberapa ada yang membuat migren saya kambuh karena suara marawisnya mengalahkan pesona pengantin. Beberapa lagi ada yang membuat saya kalap karena berbagaia makanan yang tersaji.. hehe. Beberapa lagi ada yang membuat saya ikut hanyut dalam larut suara 'sah' yang tumpah bersamaaan dengan air mata. Saya tidak benar-benar paham apa yang terjadi saat itu sebelum merasakannya. Dan benar saja, momen itu memang momen basah-basahan untuk mata. Kehidupan baru... baru saja dimulai.

Saya mengerti bahwa pernikahan bukanlah soal mudah, semoga saya tidak keliru membaca kehidupan yang baru tiga bulan kita jalani. Sayang, saya memulai tulisan ini dengan beberapa kebingungan harus memulai dari mana, saya mencoba mencari kata yang bisa menampung semua maksud yang ingin saya sampaikan, namun semakin saya ingin menghias kata justru itu tidak dari kedalaman hatiku.

Sebelum menulis ini, saya memikirkan banyak hal yang menjadi alasan saat seseorang memutuskan untuk menikah, ada beragam alasan dan alangkah hebatnya perasaan tak lengkap sehingga menjadikan pernikahan sebagai proses panjang untuk memahami rasa saling memerlukan, sampai pada akhirnya kita akan paham bahwa pernikahan adalah penyempurna separuh agama.

Seperti yang pernah kamu bilang bahwa kesederhanaan yang menarik hatimu, hal ini membuatku ingin tahu banyak, dan saya mendapati cinta dan mencintai dalam kesederhanaan adalah lebih baik dari cinta yang berapi lalu padam seketika. Bersahaja dalam cinta barangkali inilah yang harus dipupuk oleh mereka yang telah dan akan menikah.

Dari sekian banyak definisi dan tujuan pernikahan, saya menganggap bahwa pernikahan itu revolusi. Dimulai dari kamu yang mengurungkan niat untuk berpanjang lebar dalam kata dan janji, tetapi langsung secara jantan mendantangi orang tuaku *jauh-jauh ke wakatobi... menyebrang lautan.. mana tiketnya muahal lagi...hehe* pernikahan adalah kata lain dari keberanian sejak awal memulai.

Pernikahan itu Revolusi ketika tanggung jawab tidak lagi dianggap beban justru menjadi sesuatu yang diperjuangkan, semacam panggilan jiwa. Ada suami yang rela berangkat pagi-pagi, dan ada istri yang rela bangun lebih awal dari siapapun. Hal ini tidak akan kita temukan di luar pernikahan,

Pernikahan itu Revolusi ketika dua hati bertekad untuk bersama-sama menjalani hidup, menyatukan dua rimba yang berbeda, berangkulan bertukar cerita, sama-sama menguatkan kesabaran menjalani kehidupan yang kadang berdarah, tak saling melepaskan genggaman tangan walau menempuh jalan berliku, ketika itu cinta tak menemukan akhir dalam perjuangan. Inilah yang saya maksud dengan kehidupan baru itu baru saja dimulai.

Pernikahan itu Revolusi ketika seorang laki-laki terus saja bergerak menyambung nyawa untuk anak dan istrinya, ia tak lagi perduli pada lelah, yang ia tahu diseberang sana, ketika malam pekat ada do'a yang terus mengalir dari dia yang menyimpannya dalam hati, dan juga senyum manis dari bocah-bocan mungil yang memanggilnya ayah.

Pernikahan itu Revolusi ketika para lelaki kalah dalam egonya sendiri, ia rela berhemat-hemat demi mengumpulkan uang dan harta benda untuk istri dan anaknya. Ia yang dulu begitu berapi dengan semangat kelaki-lakiannya seperti larut pada pengabdian dan rasa cinta pada keluarganya. Jazakallahu khairan :')

Pernikahan itu revolusi ketika ia tidak lagi datang dalam limpahan materi seperti yang banyak diperbincangkan orang-orang, justru saya dapati pernikahan menjadi begitu bersahaja ketika seorang suami terang-terangan mengatakan bahwa tak ada lagi yang ingin ia cari saat ia menemukan istrinya dilubuk hatinya yang paling jauh. :')

Pernikahan itu Revolusi ketika perempuan yang tadinya hanya berharap menerima tetiba saja memberikan segala apa yang dia punya untuk laki-laki yang telah berjanji setia, ia bahkan rela jam-jam malamnya tersita saat suaminya mengginggil sakit, ia rela menahan laparnya hanya sekedar menunggu laki-laki yang sudan menjadi suaminya untuk makan bersama. Ia berikan ruang-ruang yang suaminya butuhkan begitu saja, Ini bukan cinta gila, tapi begitulah pernikahan mengajarkan. Percaya saja cinta tak akan pernah selesai atau habis dibagikan, suatu saat nanti akan ada masa kita kembali mengurai makna cinta, kita kembali mengulang cerita lama, bahwa pernikahan adalah memberi apa yang ada didalam hati.

Pernikahan itu Revolusi ketika cinta tak menemukan akhir dalam perjuangannya, pastilah tidak mudah membagi ruang yang tadinya nyaman kita nikmati seorang diri. Namun setelah pernikahan, ada perempuan dengan selapang dada memberikan ruang itu untuk anak dan suamimu. Nanti, barangkali akan ada keadaan dimana kekuarangan yang belum pernah kita rasakan menjadi warna dalam hari-hari pernikahan kita, biarkan saja, karenanya hidup menjadi lebih semarak.

Pernikahan itu Revolusi ketika rumah menjadi tempat yang selalu saja di tuju sejauh apapun kaki ingin melangkah pergi. Rumah mengingatkan pada sesuatu yang lama dan menjadikannya baru begitu saja saat lelah yang menjatuhkan keringatnya satu-satu, bahkan tidak terasa lagi lelah itu karena senyum manis istri yang menyambut ia di depan pintu. Ini istilah lain dari istri penyejuk hati yang Rasulullah kabarkan. Istri yang menjadikan rumah layaknya syurga.

Sampai akhirnya kita akan mengatakan bahwa cinta kita tidak pernah berubah hanya lebih dewasa, Hingga usia menggamit kita dalam rambut beruban, Hingga usia menjatuhkan ingatan kita satu-satu, hingga usia tetap menjaga kebersamaan kita dalam keriput yang sudah tak terhitung, dalam penglihatan yang tak lagi sama terangnya, dalam sapa yang sudah membutuhkan pengulangan, dalam langkah yang mulai ringkih, dan gigi kita tak lagi sama rapinya. Hingga mungkin kita akan saling meninggalkan dengan janji untuk saling menunggu di syurga.

26 Ramadhan 1435 H
Menulis adalah cara untuk mengikat kenangan... sudah tiga bulan...... semoga bs terus menulis apa yang sudah kita lewati sampai nanti... *Buat kenang-kenangan kalau salah satu diantara kita, atau kita berdua sudah masuk usia pikun.. hehe..

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of