Perasaan suka :)

14.55.00

Lapar dan makan sebagai sahabat karib sudah berlangsung sejak lama sekali. Hubungan inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa warung padang dan warteg hampir selalu ada disetiap tikungan, itu adalah salah jenis kemudahan agar lapar dan makan tetap menjadi sahabat kental berdampingan, jika lapar yah tinggal makan.

Hubungan ini begitu sederhana untuk saya yang tidak pemilih, makan, telan dan kunyah, selesai. Namun lain cerita untuk teman saya yang pemilih, baginnya makan tidak sesederhana cara saya memandang, ada berbagai syarat yang ia patok dalam pilihan makanannya, mulai dari takaran bahan sampai cara tata letak makanan dalam piring. Belum lagi kebersihan yang mendapat patroli hebat saat saya mengajaknya makan dipinggir jalan. Ia begitu rumit, saya begitu gampang, katanya ia tak akan heran jika saya mati dengan gampang karena makanan yang saya pilih. hehe. Rupanya, untuknya peristiwa makan bukan saja urusan perut, ada nilai keindahan dalam ritual rutin perut itu, ada nilai rasa dan juga gengsi. 

Konon orang-orang kaya ada yang keliling dunia hanya untuk mencicip-cicip makanan. Ada yang sarapan di dubai, makan siang new york, dan menutup malam dengan hidangan romantis di hawai.  Baru makanan saja saya sudah tidak cocok jadi orang kaya. hahaha.

Kemarin, kami melakukan perjalanan ke tanah abang. Seperti biasa, saat matahari sudah mulai meninggi, perut saya pun berbunyi minta diisi. Sejak masih di bis saya sudah meniatkan untuk mampir di warteg yang saya jumpai dipinggiran tanah abang. Dari analisa bunyi perut, saya menyimpulkan bahwa saya akan menderita jika harus berjalan ke food court yang ada dilantai sepuluh tanah abang, belum mengantrinya, belum mahalnya. 

Niat saya bersambut, kami bertemu warteg tak berselang lama saat kami memasuki jalan menuju tanah abang. Saya mengajak teman saya itu mampir "ayo makan di sini aja yuk"

Saya mendapat respon yang kurang bersemangat tapi saya pura-pura tidak tahu. Saya memesan nasi ikan, ia masih bingung. Saya makan dengan santai, ia makan dengan ogah-ogahan. Saya sudah kenyang, ia masih juga ogah-ogahan, saya bahagia karena makanannya murah merian *hanya sepuluh ribu sajahhh*, ia masih saja begitu.

Saya tertawa melihat teman saya, manusia memang sering melupakan urusan yang pokok-pokok karena keinginannya, karena perasaan sukaa. Padahal apapun makanannya tujuannya tetap saja sama yakni agar tidak lapar. Maka beruntunglah orang yang bisa mengendalikan perasaan suka dalam dirinya. Perasaan suka yang diperturutkan itu akhirannya melelahkan atau minimal membuat lapat :D

5 Maret 2014
Kesempatan menulis terasa lebih sedikit dibulan-bulan ini.










 




You Might Also Like

4 comments

  1. Menurutku .. berbahagialah orang2 yang sederhana karena:
    - tak akan termakan oleh resesi kehidupan
    - karena tahu memilah2 mana kebutuhan dan kepentingan
    - kelak akan bisa menabung
    - makin bisa menajamkan mata hatinya dan mengasah logikanya

    LANJUTKAN :)

    Btw, kalo di sini toh masih bisa ki' makan ta' 5.000 di warung2 ala warteg, di dekat2 rumahku banyak warung2 kecil.
    *eh pentingkah dicerita? Abaikan mi kalo ndak penting nah :D*

    BalasHapus
  2. halah rahma.... gaya kamu. yg kerjaannya makan sushi, makan di solaria, pesen salad di pizza hut, siapa? siapa? Kali kamu switching bisa kaya mode in dan bersahaja mode on gru ya? ahahaha... btw, kl bln ini sdikit wkt buat nulis, yakin deh bln2 dpn bakal byk yg kmu tuliskan disini. hohohiho :P

    BalasHapus

I'm Proud Member Of