Kita masih berproses

13.26.00

"Beruntunglah saya karena tidak sekalipun mengorek-ngorek alis" ini adalah pelajaran pertama yang saya ambil saat menjumpai dokter cantik berjilbab lebar di salah satu pengajian. Hari itu adalah perkenalan kami yang pertama dan sedari awal saya sudah mahfum bahwa perempuan yang ada di samping saya ini pastilah berkehidupan yang mapan, semua barang tentengannya melambangkan kemakmuran hidup. Handhonenya adalah handphone dengan body lebar namun tipis, tasnyaa mengingatkan saya pada pada para artis yang hobi mengoleksi tas-tas mewah, dan mata saya tanpa sengajar mengarah ke alisnya. Wih.. sulaaam alis.


Oke. Mata saya sudah keterlaluan, otak saya tidak bisa saya kendalikan untuk tidak mengomentari alis berbentuk busur panah itu. ya ampyun rahmaaa. Kajianpun dimulai, saya berusahaa untuk fokus dengan berusaha menulis setiap petuah yang dikeluarkan ustadz. Di sela-sela sesi tanya jawab, dokter cantik tadi menarik saya untuk mendekat, ternyata ia menanyakan waktu-waktu sholat. Mendengar pertanyaannya, saya sedikit mengerutkan kening. Saya juga bertanya-tanya dengan jilbab besar begini, dengan pertanyaan ini, rasanya tidak cocok. Lagi-lagi alis yang terlintas dalam kepala saya. Perasaan beruntung di awal terpikir karena saya tahu bahwa agama kita melarang wanita mencukur alis.

Setelah kajian selesai, ia mendekati saya lagi, dan bagian inilah yang membuat saya menyesal kenapa sudah terlampau buru-buru menilai. Ia mengatakan bahwa ia baru pertama kali ikut kajiaan dan baru memulai belajar agamaa. jlebbb. Ya Allah.

Saya meninggalkan mesjid dengan dua perasaan sesal sekaligus. Pengakuan dokter cantik tadi terus saja mendengung di telinga saya. Ah Rahma, bisa jadi ilmu memang belum sampai padanya, pada dia yang alisnya menjadi perbincangan heboh dalam batinmu. Dan perasaan beruntung yang saya rasakan, entah mengapa lebih terasa sebagai perasaan sombong merasa lebih baik, lebih tahu. astagfirullah.

Maka mulai hari ini, Rahma, lihat siapa saja yang engkau jumpai sebagai dia yang sedang berproses. Kita semua sedang berproses. Di titik manapun itu. Sebagai orang awam maupun sebagai orang orang paham. Kita masih berproses.







You Might Also Like

8 comments

  1. matamu rahma... jelalatan sehabis-habisnya.... waaaaaahhhhh...
    Itulah ya, menjaga mata itu bukan hanya untuk lawan jenis ya. Untuk hal2 seperti pengalamanmu itu (dan saya pun sering mengalaminya), kita mesti jaga mata agar nggak terus2 suudzon ya....

    Dan yap, I'm with you. Setiap orang itu sedang berproses. Jadi kalo kita melihat sesuatu yang nggak semestinya menurut kita, anggaplah dia sedang berproses. Khusus untuk kita, tekankan bahwa dalam proses harus ada progress.

    Semangat berproses ya :-)

    BalasHapus
  2. Setuju mbak, semua kita akan tetap terus berproses. IMHO, Kesempurnaan tidak akan mungkin manusia capai walaupun dengan proses sepanjang hidupnya. Nikmati dan syukuri proses :)

    BalasHapus
  3. Kenalilah dia, maka kau akan lebih memahaminya. Awas dengan pandangan pertama....

    BalasHapus
  4. Semua membutuhkan Proses, dan ketika kita mndapatkan rasa Cinta. nikmatilah rasa Cinta itu, karna cinta bagaikan burung yang terbang tanpa sayap dan hinggap tanpa kaki..:)
    Slam kenal...

    BalasHapus
  5. Iya mbak, semoga mbak bisa lebih memahami dia..:)

    BalasHapus
  6. Oh mbak Rahma...begitulah manusia...bisikan2 setan selalu mengikuti kt...alhamdulillah g sp terucap dibibir ttg alisnya...bkn lg menyinggung perasaan org lain tp jg dosa...tp semua memang butuh proses dan berproses ya mbak...barrakallahufikum...

    BalasHapus
  7. aduh mbak...sy jd ingat teman sy yg belum berhijab. waktu itu kami sdg mau sholat di masjid kampus ugm. tiba2 ada mbak yg pk baju dg belahan leher turuuun. reflex sy bilang "di mesjid kok pk bj kyk gt". teman sy td dg tenangnya bilang "sapa tau dia itu mualaf". jlebbb.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of