Terima nasib pada wajah

09.07.00

Ini kali pertama saya memasuki mall mewah yang ada di bundaran HI sana, ehm saya ke sana bukan untuk belanja ini itu, bukan, sekedar info saja ya, dari hasil melirik-lirik harga, saya menarik kesimpulan penting untuk kita-kita yang masih sering dilanda musibah akhir bulan, begini, jangan sekali-kali ketempat ini, sebab berbelanja ditempat ini dapat menyebabkan gangguan dompet dan jiwa. :D

Saya agak dag-dig-dug juga saat melewati pintu mall yang dijaga dua laki-laki berpakaiaan rapi, tadi saya sempat membayangkan kalau alarm pintu itu juga bisa mendeteksi tingkat kemelaratan. haha. Saya baru tahu kalau minder bertemu kampungan itu bisa menimbulkan efek menegangkan seperti ini. Belum apa-apa pandangan saya sudah meliuk-liuk, leher saya terputar dengan sendirinya saat berpapasan dengan makhluk halus berparas jelita berbaju bolong-bolong. Mata saya melotot saat melihat sekerumunan gadis-gadis yang tertawa lepas dengan mulut berasap, mulut saya menganga menyaksikan (maaf) paha berkulit transparan yang tidak ditutupi. Sungguh makhluk-makhluk di mall ini melambangkan kemakmuran, entah mengapa orang kaya itu kebanyakan ditakdirkan berparas cantik. Mengapa pula, orang miskin harus diuji lagi dengan tampang yang pas-pasan.:D

Setelah menyelesaikan hajat di mall itu, saya langsung pulang, dalam perjalanan pulang saya mampir mencuci foto. Harus menunggu 20 menitan. Oke, saya menunggu sambil tidur-tidur ayam di kursi, belum berapa lama tetiba saja saya dikegetkan dengan kehadiran sosok yang tidak jelas gendernya, berbedak tebal, dengan rambut yang disasak tinggi, bibir merah tidak merata, berkuku panjang, dan tahu-tahu ia duduk di samping saya. Saya tersenyum, senyum saya di balas. Setelah membuka mata lebar-lebar, akhirnya saya bisa mengidentifikasi sosok yang duduk di samping saya, beliau adalah seorang ibu paru baya. Tanpa diminta beliau membuka obrolan dengan curhatan, ia baru saja terjatuh karena mengejar keponakannya yang aktif merepotkan. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik sambil berusaha fokus memperhatikan wajah si ibu yang terkelupas. Saya membatin, ya ampyun, si ibu ini pasti korban obat pemutih wajah. :D

Akhirnya obrolan dengan si ibu harus tersudahi, urusan cuci mencuci foto selesai. Saya langsung meluncur ke rumah. Perjalanan hari ini cukup menakjubakan, dengan cerita cantik yang bergeser, perempuan-perempuan dengan bawaan lahir cantik jelitas yang saya jumpai di mall dan ibu-ibu yang 'ingin' cantik jugaa namun gagal menurut mata awam saya. :D

Cantik itu begitu kuat tarikannya, tarikannya bisa pada rambut yang bisa diluruskan paksa bahkan dengan setrikaan sekalipun, wajah bisa instan  memutih dengan obat pengelupas kulit yang konon katanya menimbulkan rasa perih yang wow pada wajah. Pengaruh pemahaman cantik versi rambut dan putih cukup menggungga semangat gadis-gadis di kampung saya, sedikit info, di kampung saya, akan susah menemukan gadis berambut keriting dan berwajah hitam (pokoknyaa harus putih walau hanya bagian wajahnya saja) Ini lagi-lagi untuk mereka yang tidak mampu memasuki salon-salon.

Lain cerita untuk mereka yang 'mampu' apa-apa bisa direnovasi, jangan kan hanya rambut dan memutihkan wajah, gigi yang tumbuh serabutan pun bisa disulap, alis dan bibir pun bisa di sulam, rambut bisa disambung-sambung. Semua berpulang pada cantik, sampai-sampai munculah pengertian kalau putih itu cantik (saya tidak masuk dong.. haha)  Rambut lurus itu cantik, hidung mancung, bibir tipis, muka tirus, gigi rapi, dan beberapa persyaratan cantik lainnya. Untuk yang tidak masuk kualifikasi seperti saya jangan setres dulu yaa. :D

Saya punyaa nasehat hiburan dari seorang senior berkenaan dengan cantik, waktu itu saya hanya bercanda sajaa menanyakan apa rahasia kecantikan senior saya itu, dan keluarlah nasehat bahwa dalam mengurus diri itu pertama-tama niatnya harus diluruskan dulu. Pertama karena Allah, bukan karena Allah itu melelahkan dan pasti tidak bermuatan ibadah, bermuatan ibadah itu syaratnya harus mengikuti aturan main yang Allah tetapkan. Kedua, dalam urusan wajah, tugas kita merawat yang sudah ditakdirkan untuk kita, bukan merenovasinya, atau merombaknya. Ketiga, tampil cantik kemudian mengundang decak kagum setiap laki-laki adalah musibah, cantik itu yaah menutup, menutup dari yang bukan mahram, menutup aurattt dengan hijab. Keempat, Perempuan dilarang keras mencukur alis, menato, menyambung rambut, dan mengikir gigi.

Terakhir, Allah tidak melihat rupa kita, penilaian itu ada pada hati, pada takwa di hati. :) Tampang pas-pasan sekalipun asal memegang asas kebersihan sebagian dari iman rasanya sudahlah mencukupkan, dan yang paling penting terima saja nasib pada wajah biar enggak pusing.  :D

Salam...

You Might Also Like

1 comments

  1. cantikkan kami dari luar dan dalam, yaa Rabb...
    aamiin :)

    BalasHapus

I'm Proud Member Of