Ambon dan kebaikan-kebaikan yang saya temui

19.21.00

Sudah sepekan ini saya bolak-balik merapikan buku-buku yang ikut saya bawa ke Ambon. Saya sempat tersenyum saat membaca lagi buku agenda kerja saya setahun yang lalu, isinya udah kayak buku utang, penuh angka-angka rencana keuangan, yang aselinya selalu mutung alias nggak sesuai rencana. hehe.

Waktu berlalu dengan cepatnya, saya di sini, di kota Ambon. Kota ini sama sekali tidak pernah masuk dalam list tempat yang ingin saya kunjungi, tapi takdir menuliskan lain, sekarang saya di sini, dan sedikit-sedikit mulai menggati kata "nggak" dengan kata "seng" mungkin besok-besok kata "saya" akan jadi "beta".

Adalah kesyukuran tersendiri saat kita tidak dapat menebak rencana Allah, kemana Ia akan membawa kita, apa dan siapa yang akan kita temui, dengannya kita diberi kesempatan untuk belajar berprasangka baik padaNya, apa jadinya jika semua sejalan dengan apa yang kita rencanakan, sedang kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya baik untuk diri kita. Lewat pemahaman inilah, disini saya mulai melangkah mengambil-ngambil satu-satu rahasia mengapa Allah membawa saya ke sini.

Ya, sama dengan perempuan lainnya yang baru memutuskan untuk berada di rumah, ada hari-hari yang terasa begitu melelahkan. Tapi apakah ini membuat saya berhenti bergerak? tentu tidak, ada banyak alasan yang membuat saya terus bergerak, dan terus beradaptasi untuk mencintai sepenuh hati peran saya saat ini, sebagai ibu.

Ngomong-ngomong tentang Ambon, kota ini mempertemukan saya dengan beberapa orang yang membuat saya malu sendiri, ini tentang iman di hati. Biar lebih jelasnya akan saya ceritakan satu-satu.

Pertama, adalah seorang guru agama honorer di sebuah sma negri di Ambon. Perkenalan kami awalnya saat saya mengajak anak saya jalan pagi. Beliau ini mengajar tiap hari, namun pagi-pagi buta masih sempat menjajakan kue di depan sekolah, yang membuat saya kagum adalah di sore hari masih memberika halaqoh pengajian untuk anak didiknya. Awalnya kekaguman saya hanya sampai disitu saja, sebelum saya melihat tempat tinggal beliau. Jadi masyaallah, beliau ini ngekos bersama suami dan ke enam orang anaknya, ukuran tempat kontrakan beliau juga menurut saya sangat sempit, ya sempit dan panas, tapi tidak untuk hati beliau. 

Pernah menjelang isya, di depan kontrakan kami ada tiga orang remaja yang sedang mengulang-ngulang hafalan al qur'an dalam kondisi gelap. Lalu saya bertanya ke mereka, sedang apa dek? kata mereka "sedang menghafal al-qur'an untuk disetorkan ke umi". Pas sampai bagian ini saya malu. Masyaallah, tempat tinggal beliau yang sempit, panas, tidak menghalangi beliau untuk berbuat banyak, dan bermanfaat. 

Dikesempatan lain beliau, ke tempat tinggal saya, begitu masuk beliau langsung bilang ke anak beliau yang masih kecil "masyaallah disini dingin ya nak, beda dengan tempat kita, tapi kita harus selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan". Saya hanya bisa diam, nikmat tempat tinggal yang nyaman tak jarang masih saya keluhi Ya Allah. Maka benar saja terkadang nikmat yang tidak kita syukuri begitu diimpikan orang lain, sedang kita yang diberi nikmat terluput untuk bersyukur.

Kedua, di sini kami bertetangga dengan seorang bule Amerika. Yang menarik dari si bapak bule ini adalah beliau  rajin sholat berjamaah. Bahkan terbilang sangat rajin. Dari istri beliau saya tahu, kalau bagi dia sholat itu di masjid, bukan di rumah. Pantas sholat berjamaah beliau sangat rajin. Cerita lainnya,  bapak bule ini selalu melihat akhlak. Jadi beliau ini selalu mengamati si muslim yang tampilannya sholeh tapi akhlaknya ugal-ugalan. Pas tahu cerita ini, saya langsung benarin posisi, jangan sampai gara-gara saya islam ini jadi kurang pesonannya di mata si bapak bule. Suami saya juga pernah cerita kalau si bapak bule ini setiap pagi selalu rutin masukin duit ke kenclengan masjid, tidak hanya itu, anak-anak yang tidak pakai kopiah ditanyainya satu-satu mana kopiah-kopiah? hehe... biar rapi kali ya. Masyaallah.

Ketiga, dari ibu-ibu penjual di depan kontrakan saya belajar tawakal. Sekedar info, di depan tempat tinggal kami ada sekolahan SMA dan disepanjang emperan SMA ini buanyaaaaak penjual, dengan jualan yang sama, yaaa, jualannya sama, ciki-ciki dan permen. Tapi masyaallah namanya rejeki nggak lari kemana, setiap hari saya melihat mereka ngobrol sama-sama. Dari salah seorang ibu penjual, saya pernah dapat cerita kalau anak-anak beliau sekolah dan kuliah dari hasil jualan ciki-ciki dan permen, anak beliau ada lima. Masyaallah, lagi-lagi iman, keyakinan tentan rezeki itu terawat. Allah sudah membaginya, yang harus kita lakukan adalah berusaha lalu bertawakal.

Akhir-akhir ini, pembahasan Tawakal begitu menarik untuk saya. Jujur baru-baru inilah tawakal itu teresapi hati dalam hati saya, setelah tidak lagi bekerja kantoran, dan tidak berpenghasilan tetap seperti dulu. Saya jadi teringat nasihat seorang ustadz beberapa bulan sebelum saya meninggalkan kerjaan saya di kantor, beliau menceritakan teman beliau yang berjualan buku keliling, yang menarik, teman beliau ini mengatakan bahwa ketidak jelasan penghasilan beliau setiap harinya menumbuhkan benih-benih tawakal setiap kali ia keluar rumah untuk menjajakan buku yang ia jual. Ya keyakinan bahwa rezki itu Allah yang atur begitu menenangkan, dan Qanaah tumbuh bersamanya, menerima pemberian Allah sepenuh hati, sebab ia paham bahwa Allah lah yang membagikan rezki. Masyaallah.

Tiga cerita diatas adalah beberapa kebaikan-kebaikan yang saya dapati di sini, saya yakin masih ada banyak lagi. Yang pasti, saya merasa beruntung, Allah menempatkan saya pada peran sebagai seorang ibu saat ini. Merawat dan membesarkan anak adalah peran yang sangat komplek dan saya sedang berusaha menjalaninya dengan sebaik mungkin. Saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi di depan sana, tapi saya berharap Allah selalu memudahkan saya untuk berprasangka baik pada tiap-tiap ketetapanNya.

Salam,

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of