Tentang dua tahun Pernikahan

11.31.00


Dulu sekali, saya memiliki kebiasaan menebak-nebak apa yang akan terjadi esok, setelah esok berlalu saya akan dihampiri bermacam-macam rasa, tak jarang saya dililit penasaran pada sesuatu yang tidak saya ketahui.

Setelah sekian tahun berlalu, ketidaktahuan menjadi kesyukuran tersendiri, entah apa jadinya jika semua hal dalam kehidupan ini bisa teramalkan, mungkin do'a-do'a tak lagi membuat dada berdegup penuh harap, mungkin hati tak akan pernah tahu bagaimana rasanya tetap berprasanka baik pada Dia yang Maha Tahu.

Bulan ini pernikahan kami memasuki tahun kedua, ada banyak hal dari ketidaktahuan yang saya syukuri dalam perjalanan ini, sama halnya saat memutuskan menerima pinangan laki-laki yang sudah dua tahun ini menjadi suami saya, waktu itu saya sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pernikahan kami, apa yang akan kami hadapi, bagaimana ia nanti, apakah ia akan terus-terus menyayangi saya, dan...

Tanggal empat belas lalu, pagi-pagi buta saya membaca pesan darinya, ia meminta maaf atas banyak hal dalam perjalann kami. Entah harus berkata apa karena dua tahun ini sudah tak terhitung ia meminta maaf pada apa-apa yang harusnya sayalah yang meminta maaf. Kemudian saya tidak dapat menyembunyikan air mata, saat mendengar suaranya bergetar meminta maaf atas meninggalnya anak kami. T_T

Dua tahun bersama, meninggalnya anak kami Ruwaifi tujuh bulan lalu membuat perjalanan kami lebih berwarna, dan ini menjadi bagian dari ketidaktahuan kami pada apa-apa yang telah direncanakanNya.

Saya pernah mengatakan bahwa tak ada kata yang dapat mewakilkan perasaan duka yang saya rasakan saat saya tahu bahwa anak yang saya nantikan siang malam sudah dimakamkan padahal saya belum melihatnya, belum menyentuhnya, untuk hal ini entah kekuatan dari mana, air mata saya tak sampai jatuh. Namun, Mendengar permintaan maafnya membuat air mata saya jatuh tanpa bisa saya tahan-tahan lagi.

Dua tahun bersama. Tak selalu mudah, sebab memahami tak akan pernah cukup dengan kata-kata, butuh waktu tak kurang dari dua tahun untuk memahami mengapa ia selalu membiarkan saya mewakilkan perasaannya, pilihan-pilihannya, kata-katanya, bahkan ia tak pernah meminta macam-macam. Saya sempat melayangkan protes untuk hal ini. 

"Asal kamu senang, saya sudah tak membutuhkan apa-apa lagi" ucapnya pada suatu hari di dua tahun pernikahan kami.

Dua tahu pernikahan kami, saya pikir tak akan pernah lagi menemui laki-laki seperti dia. Yang tak pernah sungkan memakaikan istrinya kaos kaki, yang sigap mengambil air minum saat istrinya terbatuk, yang ngotot mengambil tugas mencuci piring, yang jauh-jauh mengabarkan bahwa ia memakai sebagaian penghasilannya  untuk membeli makanan yang ia sukai. Lagi-lagi air mata saya berlinang, karenanya. Sejak saat itu saya tidak lagi menemukan alasan untuk tidak memberikan apa yang saya miliki, saya tidak lagi menemukan alasan untuk jauh darinya demi cita-cita dan rencana-rencana yang telah saya buat bertahun sebelum menikah dengannya. 

Dua tahun bersama, kami banyak berbeda, kecuali untuk ketakutan yang sama, kami takut saling meninggalkan. Masih cerita dari dia yang selalu berhasil membuat air mata saya berlinang karena ketulusannya.

"Saya menunggumu di depan pintu ruang operasi dengan dada yang dipenuhi rasa takut, dinding-dinding rumah sakit serasa menghimpitku dari berbagai arah, hari itu saya saya amat takut kehilanganmu"

Saya menghela nafas panjang, mungkin ia tak tahu bahwa ketakutan yang ia rasakan hampir saya rasakan setiap hari saat berada jauh darinya.

"Kita akan bersama-sama, dan selalu bersama-sama..." ucapku.

Membahas kemana takdir akan membawa kami adalah ketidaktahuan yang membuat saya  berharap semoga pada setiap apa yang kami lewati, kami bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Sumber gambar: Tumblr

20 April 2016

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of