Setelah lima bulan kepergian Ruwaifi

19.47.00

Pada akhirnya, saya kalah pada rindu. Setelah menimang-nimang perasaan lebih sebulan ini, saya kembali mendatangi makam Ruwaifi dengan perasaan yang sama, seperti pertama kali mendatanginya.

Dalam kurun waktu 28 tahun hidup yang sudah saya jalani, saya melewati banyak momen-momen yang sulit saya ceritakan, namun selalu berhasil saya tuliskan panjang lebar, seperti menit-menit yang begitu berat saat dokter mengatakan bahwa bapak mengidap kanker, saat saya menyaksikan nafas bapak pelan-pelan berhenti, saat dokter mengatakan bahwa anak saya meninggal. Pada semua keadaan ini, saya selalu mampu mengendalikan perasaan.

Namun, saya tak mampu untuk duduk sebentar saja membersihkan daun-daun yang jatuh disekitar makan Ruwaifi. Anak yang namanya sudah saya siapkan dari jauh-jauh hari. Sendirian, saya berusaha tenang, bagaimana membahasakan perasaan ini. Mendanau mataku menatap makammu, nak!

Ini seperti perasaan berulang, jika sedang di atas motor saya sering didatangi rindu dan tanya sampai kapan akan begini. Kadang saya tersenyum sendiri, Allah, betapa Ia penuh kejuatan.

Akhir bulan ini, tepat lima bulan kepergian Ruwaifi. Memahami bahwa anak adalah titipan dan bisa diambilya kapanpun, ternyata pada prakteknya tidaklah mudah.

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of