Tumbuh bersama..

09.10.00

Bulan ini pernikahan kami memasuki bulan ke delapan. Lika-liku pernikahan ternyata kelokaannya memang beragam, saya sempat berpikir kira-kira dicatatan pernikahan kami di tahun kedelapan puluh nanti saya akan menulis apa? Mungkin... mungkin nanti saya akan menulis bahwa cinta kami tidak pernah berubah hanya lebih dewasa.. 

Perjalanan delapan bulan ini mengusung tema “Suami yang baik” tulisan ini tentang saya dan suami saya, Adi Nugraha. 

***

Delapan bulan yang membuka mata saya lebar-lebar bahwa makhluk bernama perempuan sungguh emmmejing. Enggak ngomong tapi minta dimengerti kan luar biasa yak, si doi diminta mengerti bahasa kalbu... Hahaha. Lagu yang berjudul wanita ingin dimengerti barangkali terinspirasi dari keadaan ini.

Dulu saya sempat heran melihat teman-teman yang melakoni pacaran, berantem kemudiaan diam berhari-hari bukan akika banget ini pikirku kala itu. Eh ternyata seteah menikah saya begitu jugaaah. Suami beberapa kali enggak ngeh kalau istrinya ini sedang ngembok... Akhirnya saya baik juga dengan sendirinya. Hahaha.. Padahal kalau ditanya-tanya biasanya makin jadi...

Menikah bisa dibilang Adalah proses panjang belajar memahami hati yang tak pernah kita sentuh sebelumnya.

***
Suami saya selalu mengatakan bahwa ia bukanlah tipikal yang romantis. Gombalan-gombalan yang ia layangkan terbilang standar. Dalam urusan ini saya lebih lihai. Namun jika melirik akhlak, selamanya saya akan terus mengagumi upaya-upaya baiknya untuk membahagian saya.

Pada suatu sore ia memegang tangan saya kemudian memperhatikan kuku saya yang mulai memanjang. Dengan sigap kuku saya sudah siap ia rapikan... Katanya....”saya berjanji akan terus merapikan kukumu di seumur hidup kita”... Lanjutnya “saya akan menyayangimu dan membagahagiakanmu lebih baik lagi”

Saya diaaam lama sekali dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Tiba-tiba rasa cinta dan sayang saya pada suami tidak bisa lagi saya hitung. Karena Bingung mau balas apa, akhirnya setelah kuku saya rapi, saya gantian mau juga memotong kukunya, tapi yang ada jari-jarinya kesakitan. Eh dia cara motong kukunya sangattt rapi dan lembut, sedang saya, megang potongan kuku udah kayak megang cangkul. haha :v

Janji untuk terus merapikan kuku adalah janji yang begitu manis untukku, sebagai penggemar drama, jujur, tidak sekalipun saya mendengar janji seromantis ini.

***
Delapan bulan ini saya mendapati diri saya yang tidak lagi berangan-angan untuk sekolah setinggi-tingginya, atau berkarir sejauh-jauhnya, saya sempat berpikir apa karena masih baru kali ya? Jadinya dikasi batu diikat pita aja rasanya udah emejing gini. Tapi saat menengok kebelakang, jauh disana saya mendapati mereka yang membangun cinta lewat upaya yang tak henti-henti.

Maka benarlah, pernikahan adalah upaya yang tak henti-henti untuk menjadi lebih baik, siap membersamai dalam segala keadaan, menjadi satu paket yang saling melengkapi, berkomplot seperti kaki dan tangan, bersabar melewati kelokan-kelokan hidup, siap sedia menjadi baskom tempat menampung segala keluh kesah, rela melupakan kesalahan, dan selalu ada maaf. Teori kesapadanan jodoh seiring waktu menjadi ruang untuk saling melengkapi, dia bukan suami terbaik, saya juga bukan istri terbaik, tapi kami akan terus tumbuh bersama memupuk kebaikan, saling memberi hal terbaik yang kami punya.


Menulis perjalanan kami kini menjadi pengikat waktu yang berlalu, hari-hari yang berganti, dan tulisan-tulisan ini akan kami datangi lagi untuk mengenang kembali dua orang yang tersenyum malu-malu saat jari jemeri tertaut untuk pertama kalinya, waktu itu mungkin rambut kami sudah beruban, ingatan kami pun tak lagi utuh, tapi cinta yang kami rasakan tak pernah tua.

Pict from here

Desember 2014

You Might Also Like

1 comments

  1. Saya sering mb potong kuku suami... tp ga prnh keluar kt2 indah ky gt... mgkn bsk mo tak praktekkan... hehe...

    BalasHapus

I'm Proud Member Of